Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu'ti, mengatakan perubahan tersebut menjadi salah satu esensi pembelajaran mendalam yang mulai diterapkan di seluruh mata pelajaran. Guru tetap memegang kendali proses belajar, tetapi tidak lagi mendominasi seluruh aktivitas di kelas.
"Bahkan nanti di kelas itu resource-nya bisa murid itu menceritakan pengalamannya. Guru bisa menjadi pendengar, kemudian saling berdiskusi. Kata kuncinya adalah engagement. Guru tetap terlibat dalam proses itu, tetapi tidak menggurui. Pada saat yang sama guru juga ikut belajar," kata Mu'ti di Jakarta, Kamis, 9 Juli 2026.
| Baca juga: Biar Jago! 361 Ribu Guru Bakal Dilatih Deep Learning, Coding, dan AI pada 2026 |
Menurut dia, pembelajaran mendalam tidak dimaksudkan mengurangi peran guru. Sebaliknya, pendekatan tersebut memperkuat fungsi guru sebagai pengarah proses belajar yang mampu mendorong rasa ingin tahu, kreativitas, dan kemampuan berpikir kritis peserta didik.
Guru tidak lagi hanya menyampaikan materi dari awal hingga akhir pembelajaran. Siswa juga diberi ruang untuk menyampaikan pengalaman, mengemukakan pendapat, mengajukan pertanyaan, hingga membangun pengetahuan melalui diskusi bersama guru dan teman sekelas.
Mu'ti menjelaskan, pembelajaran mendalam dirancang agar siswa tidak sekadar menerima informasi, tetapi benar-benar terlibat dalam setiap tahapan belajar. Keterlibatan atau engagement menjadi salah satu indikator utama keberhasilan pendekatan tersebut.
Karena itu, guru dituntut mampu menciptakan suasana belajar yang mendorong interaksi dua arah. Proses belajar tidak lagi berjalan satu arah dari guru kepada murid, melainkan menjadi ruang kolaborasi yang memungkinkan seluruh peserta didik berpartisipasi aktif.
"Guru sebagai fasilitator, bukan suruh baca sendiri lalu dibiarkan. Guru tetap terlibat dalam proses itu, tetapi dia tidak menggurui," ujarnya.
Ia menegaskan, menjadi fasilitator bukan berarti guru melepas tanggung jawab terhadap proses belajar. Guru tetap merancang pembelajaran, membimbing diskusi, mengarahkan eksplorasi siswa, hingga memastikan tujuan pembelajaran tercapai.
Dalam pembelajaran mendalam, pengalaman peserta didik menjadi salah satu sumber belajar yang penting. Mu'ti mencontohkan guru dapat mengajak siswa menceritakan pengalaman mereka, melakukan observasi di lingkungan sekitar, hingga menghubungkan materi pelajaran dengan persoalan nyata yang dihadapi sehari-hari.
Pendekatan tersebut membuat pembelajaran tidak selalu berlangsung secara top-down, yakni ketika guru menjadi satu-satunya sumber pengetahuan. Sebaliknya, proses belajar dapat berkembang dari pengalaman siswa sendiri atau bottom-up.
"Tadi beberapa guru menceritakan praktik belajar ke lapangan, ke taman, dan sebagainya. Itu sebenarnya salah satu bentuk pembelajaran mendalam. Jadi tidak selalu top-down, tetapi bisa bottom-up," jelasnya.
| Baca juga: AI Masuk Peta Jalan Riset Nasional, Kampus Wajib Ajarkan AI Fundamental |
Menurut Mu'ti, pembelajaran yang bermakna lahir ketika peserta didik mampu menghubungkan materi pelajaran dengan pengalaman nyata. Dengan cara itu, siswa tidak hanya menghafal konsep, tetapi juga memahami alasan mengapa mereka mempelajari suatu materi dan bagaimana menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Mu'ti menilai perubahan peran guru menjadi fasilitator merupakan konsekuensi dari transformasi pendidikan yang tengah dijalankan Kemendikdasmen. Di tengah perkembangan teknologi dan semakin mudahnya akses informasi, guru tidak lagi diposisikan sebagai satu-satunya pemilik pengetahuan.
Sebaliknya, guru berperan membimbing peserta didik memilih informasi yang tepat, mengolahnya secara kritis, dan menggunakannya untuk menyelesaikan persoalan nyata. "Guru tetap menjadi sosok penting di kelas. Bedanya, guru tidak hanya mengajar, tetapi juga belajar bersama murid melalui proses diskusi, eksplorasi, dan refleksi yang menjadi inti pembelajaran mendalam," kata Mu'ti.
Melalui perubahan paradigma tersebut, Kemendikdasmen berharap ruang kelas tidak lagi didominasi aktivitas ceramah satu arah. Sebaliknya, kelas menjadi ruang belajar yang lebih hidup, kolaboratif, dan mampu membangun kemampuan berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, serta kolaborasi peserta didik sebagai bekal menghadapi tantangan masa depan.
| Baca juga: BINUS Usung AI for Life, Siap Bawa Inovasi AI Indonesia ke Panggung Dunia |
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda