Lukisan Pangeran Diponegoro saat dibawa ke Makassar. Medcom.id/Renatha Swasty
Lukisan Pangeran Diponegoro saat dibawa ke Makassar. Medcom.id/Renatha Swasty

Menengok Penjara Pangeran Diponegoro di Fort Rotterdam

Renatha Swasty • 29 Juni 2022 08:06
Makassar: Membicakan perjuangan rakyat Indonesia dari penjajahan Belanda tak bisa melupakan Makassar. Wilayah itu menjadi salah satu tempat pemberontakan terhadap VOC.
 
Jejak-jejak perjuangan tersebar di sejumlah tempat. Salah satunya Benteng Ujung Pandang.
 
Pada masa pemerintahan Sultan Hasanuddin, Benteng Ujung Pandang pernah dijadikan sebagai pusat persiapan perang dan upacara membasuh panji-panji dengan darah dalam menghadapi VOC/Belanda.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Perang berakhir dengan penandatanganan perjanjian Bungaya pada 18 November 1667. Berakhirnya perang juga diikuti dengan penyerahan Benteng Ujung Pandang pada VOC.
 
VOC lalu mengganti nama Benteng Ujung Pandang menjadi Fort Rotterdam yang dikenal hingga hari ini. Benteng itu digunakan VOC sebagai markas komando pertahanan, pusat perdagangan, pemerintahan, dan permukiman pejabat-pejabat Belanda.
 
Fort Rotterdam juga pernah digunakan sebagai penjara untuk penentang Belanda. Salah satu pahlawan nasional yang pernah dipenjara ialah, Pangeran Diponegoro.
 
Dia ditempatkan di salah satu gedung di Fort Rotterdam. Letak penjara itu berada di sebelah kanan paling ujung dari pintu utama.
 
Menengok Penjara Pangeran Diponegoro di Fort Rotterdam
Suasana penjara Pangeran Diponegoro. Medcom.id/Renatha Swasty
 
Pangeran Diponegoro dibawa ke Makassar dan ditempatkan di Fort Rotterdam pada 1833. Dia ditangkap saat perundingan 'jebakan' antara Pangeran Diponegoro dan pihak Belanda yang dipimpin Jenderal De Kock pada 20 Oktober 1830.
 
Saat itu, Pangeran Diponegoro diajak berunding untuk mengakhiri Perang Jawa yang diinisiasinya sejak 27 Juli 1825. Perang Jawa merupakan bentuk penentangan terhadap VOC yang menindas pribumi.
 
Pangeran Diponegoro menempati bangunan setengah lingkaran tanpa jendela di Fort Rotterdam. Ada dua jeruji, yang memiliki tinggi berbeda. Salah satu jeruji pendek hingga mesti menunduk saat masuk atau keluar.
 
Menengok Penjara Pangeran Diponegoro di Fort Rotterdam
Terdapat dua jeruji di penjara Pangeran Diponegoro. Medcom.id/Renatha Swasty
 
Di dalam penjara hanya ada alas tidur dari kayu dan tempat membaca Al-Qur'an. Adapula sajadah dan tikar. Saat itu, penjara beralaskan tanah.
 
Selama ditahan, Pangeran Diponegoro gemar membaca Al-Qur'an. "Ini (Al-Qur'an) kalau dibaca jadi bahasa Jawa," kata petugas penunggu Fort Rotterdam.
 
Selama ditahan, Pangeran Diponegoro bisa berkeliaran di sekitar Fort Rotterdam. Ketika sudah jam istirahat, dia mesti kembali ke ruangannya.
 
Menengok Penjara Pangeran Diponegoro di Fort Rotterdam
Tempat membaca Al-Qur'an Pangeran Diponegoro. Medcom.id/Renatha Swasty
 
Pangeran Diponegoro dipenjara hingga 1855. Dia pernah dipindah ke ruangan lain semasa menjalani penahanan.
 
Pemindahan lantaran seorang jenderal dari Belanda mengenal Pangeran Diponegoro. Dia merasa seorang pangeran tidak pantas dipenjara di ruangan yang ditempati Pangeran Diponegoro.
 
"Dipindah juga supaya Pangeran Diponegoro tidak berkomunikasi dengan tahanan lain," kata si petugas.
 
Menengok Penjara Pangeran Diponegoro di Fort Rotterdam
Tempat tidur Pangeran Diponegoro beralaskan kayu. Medcom.id/Renatha Swasty
 
Pangeran Diponegoro tak pernah pulang ke kampung halamannya di Yogyakarta. Dia menghabiskan masa hidupnya di Makassar hingga meninggal pada 8 Januari 1855.
 
Makam Pangeran Diponegro saat ini dijadikan kompleks pemakaman di Jalan Pangeran Diponegoro, Makassar. Dia dimakamkan bersama istri, anak, dan kerabatnya.
 

Menengok Penjara Pangeran Diponegoro di Fort Rotterdam
Kompleks pemakaman Pangeran Diponegoro dan keluarga. Medcom.id/Renatha Swasty
 
Sobat Medcom penasaran dengan jejak-jejak Pangeran Diponegoro di Makassar? Jangan lupa mampir ke Fort Rotterdam saat berkunjung ke Makassar.
 
Menengok Penjara Pangeran Diponegoro di Fort Rotterdam
Makam Pangeran Diponegoro dan istrinya, R.A. Ratu Ratna Ningsih. Medcom.id/Renatha Swasty
 
Baca juga: Cerita Pangeran Diponegoro Minum Anggur Putih Saat Pengasingan Menuju Sulawesi
 

 
(REN)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif