Ilustrasi. Medcom.id/M Rizal.
Ilustrasi. Medcom.id/M Rizal.

Dongkrak Ranking , Singapura Lebih Dulu Pakai Rektor Asing

Pendidikan Pendidikan Tinggi Rektor Asing
Intan Yunelia • 25 Juli 2019 17:21
Jakarta: Wacana perekrutan rektor dan dosen asing yang digulirkan Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) perlu disikapi secara positif. Terkait wacana tersebut, negara tetangga, Singapura, ternyata sudah memulai lebih dulu memberdayakan rektor asing untuk mendongkrak peringkat perguruan tinggi mereka di dunia.
 
Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS), Nadia Fairuza Azzahra mengatakan, wacana yang juga diusulkan oleh Presiden Joko Widodo ini hendaknya bisa menjadi opsi yang patut dicoba, mengingat hanya ada tiga PTN yang mampu menembus 500 PT terbaik dunia. Berbagai universitas di banyak negara di dunia memiliki sejarah dipimpin oleh rektor asing dan sukses bersaing di tingkat internasional.
 
Negara tetangga seperti Singapura juga memiliki beberapa universitas yang dipimpin oleh rektor asing. Salah satu contohnya, univeritas terkemuka di Singapura, Nanyang Technological University (NTU), saat ini dipimpin oleh rektor dari Amerika Serikat keturunan India.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sementara itu rektor sebelumnya merupakan warga kebangsaan Swedia. Kedua rektor ini sukses membawa NTU ke posisi yang lebih disegani dalam dunia akademik internasional. Sehingga menurut Nadia, wacana rektor asing ini harus dapat disikapi dengan pikiran yang terbuka.
 
Baca:Rekrut Dosen Asing, Kampus di Hongkong Tembus 10 Terbaik Asia
 
Alih-alih menggunakan istilah “inlander” atau “pro asing”, ada baiknya kita melihat adanya potensi rektor asing menjadi angin segar dalam dinamika pendidikan tinggi Indonesia. "Mereka dapat berperan sebagai katalis untuk meningkatkan kualitas perguruan tinggi di Indonesia terutama dari segi manajerial dan kualitas hasil penelitian,” urai Nadia.
 
Selain itu, pandangan mereka sebagai “pihak luar” bisa menjadi referensi berharga untuk mengidentifikasi loophole dalam sistem pendidikan tinggi di Indonesia. Namun perlu dipahami bahwa rektor asing ini perlu dipilih secara hati-hati.
 
Mereka yang dipilih kelak harus berpengalaman dan memiliki track record yang positif di dunia pendidikan. “Mereka juga diharapkan bisa membawa dan menumbuhkan iklim sekaligus budaya riset yang kompetitif di kampus. Budaya riset penting dikembangkan di kampus dan ditumbuhkan dalam jiwa mahasiswa, supaya kegiatan inovasi terus berjalan dan bisa membawa manfaat untuk masyarakat,” tambahnya.
 
Selain itu diharapkan pula mereka punya pengalaman bekerja dengan universitas yang kelak akan dipimpin, misalnya memiliki pengalaman joint research dan networking. Tidak hanya memiliki kecerdasan akademis, sebaiknya mereka harus memiliki kemampuan manajerial tinggi, agar dapat mengelola universitas dengan baik.
 
Baca:Universitas Rekrut Akademisi Asing Lumrah di Amerika
 
Selain itu, rektor asing ini harus memiliki pemikiran yang terbuka namun dapat menyikapi perbedaan sistem pendidikan yang ada di Indonesia. Bukan tidak mungkin mereka harus bergelut dengan tata kelola dan regulasi sistem pendidikan Indonesia yang jauh berbeda dengan pengalaman mereka di negara atau universitas sebelumnya.
 
“Kesimpulannya, rektor asing jangan dianggap sebagai sebuah ancaman, melainkan kesempatan yang dapat digunakan untuk memperbaiki kualitas pendidikan tinggi di Indonesia. Diharapkan kelak masyarakat terutama dari kalangan akademisi dapat ikut mengawal kepemimpinan rektor asing ini agar kinerjanya sesuai dengan yang diharapkan,” tandasnya.
 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif