Jakarta: Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026 menyediakan empat jalur masuk, yakni Jalur Domisili, Prestasi, Afirmasi dan Mutasi. Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) mencatat Jalur Domisili dan Prestasi paling rawan kecurangan.
Berdasarkan pemantauan lapangan dan laporan pengaduan masyarakat yang masuk ke JPPI selama pelaksanaan SPMB 2026, hampir seluruh jalur penerimaan murid baru memiliki kerawanan penyimpangan. Namun, tingkat dan pola kerawanannya berbeda-beda.
"Dari total 301 laporan dan pengaduan yang dihimpun JPPI, jalur domisili menjadi jalur paling rawan dengan 187 laporan atau 62 persen," ujar Koordinator Nasional Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) Ubaid Matraji dalam keterangan tertulis dikutip Senin, 6 Juni 2026.
Ubaid menuturkan persoalan yang paling banyak muncul adalah manipulasi alamat, penggunaan Kartu Keluarga yang diduga direkayasa, ketidaksesuaian titik koordinat, perpindahan domisili menjelang pendaftaran, serta dugaan penggunaan alamat kerabat atau alamat fiktif agar calon murid dapat masuk ke sekolah tertentu.
Jalur kedua yang paling banyak bermasalah adalah jalur prestasi, dengan 69 laporan atau 22 persen. Pada jalur ini, JPPI menemukan keluhan terkait ketidaksamaan standar penilaian prestasi antardaerah, dugaan penggelembungan nilai rapor, perbedaan tafsir atas prestasi akademik dan non-akademik, lemahnya verifikasi sertifikat, serta dugaan rekayasa dokumen prestasi.
Berikutnya adalah jalur afirmasi, dengan 33 laporan atau 11 persen. Masalah yang banyak dilaporkan berkaitan dengan validitas data keluarga penerima manfaat, ketidaktepatan sasaran, dugaan penyalahgunaan status ekonomi, serta lemahnya verifikasi terhadap calon peserta didik dari keluarga miskin, rentan, atau kelompok yang seharusnya mendapatkan prioritas.
Sementara itu, jalur mutasi mencatat 12 laporan atau 5 persen. Meski jumlahnya lebih kecil, jalur ini tetap menyimpan celah penyimpangan, terutama terkait dugaan penyalahgunaan surat perpindahan tugas orang tua, perpindahan administrasi yang tidak sesuai ketentuan, serta penggunaan jalur mutasi sebagai pintu belakang untuk masuk ke sekolah tertentu.
“Data tersebut menunjukkan hampir seluruh jalur seleksi masih memiliki celah manipulasi. Akar masalahnya bukan hanya perilaku curang orang tua atau kelemahan teknis aplikasi, tetapi sistem penerimaan murid baru yang masih dibangun di atas kelangkaan kursi sekolah bermutu,” ujar Ubaid.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
FOLLOW US
Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan