Pakar Genetika Ekologi IPB University, Ronny Rachman Noor, menuturkan karhutla di Kalimantan dan Sumatera menimbulkan dampak sistemik terhadap satwa liar. Khususnya, orangutan yang populasinya telah berada dalam kondisi kritis.
“Saat ini orangutan dikategorikan dalam kelompok satwa liar Critically Endangered karena populasinya terus menurun akibat kerusakan habitat dan ekosistem sebagai dampak deforestasi, kebakaran hutan, serta perburuan liar," jelas Ronny dalam keterangan tertulis, Rabu, 9 September 2026.
Populasi orangutan di Tapanuli kini hanya tinggal sekitar 716–800 ekor, sementara di Kalimantan populasinya tersisa 104.700 ekor. Karhutla memperburuk tekanan tersebut.
Selain kehilangan habitat, orangutan kehilangan sumber pakan dan berisiko keluar dari kawasan hutan untuk mendekati permukiman. Kondisi ini meningkatkan potensi konflik antara manusia dan satwa liar.
“Karhutla juga memaksa orangutan keluar dari habitatnya dan mendekati permukiman warga, yang tentunya akan meningkatkan risiko konflik dengan manusia. Konflik ini ke depannya diprediksi akan menambah tekanan pada populasi orang utan yang sudah sangat sedikit,” ujar dia.
Ronny menjelaskan paparan asap juga dapat secara langsung mengganggu kesehatan orangutan. Partikel mikroskopis PM2.5 dapat masuk ke saluran pernapasan hingga alveolus paru-paru, menyebabkan peradangan dan iritasi.
Baca Juga :
Terus Menyusut! Populasi Orang Utan Sumatra Turun Hampir 20% dalam 12 Tahun, Pakar IPB: Darurat Konservasi!
Dalam jangka pendek, paparan ini dapat memicu kekurangan oksigen, batuk, dan sesak napas, sedangkan dalam jangka panjang berpotensi menyebabkan bronkitis dan penyakit paru obstruktif kronis.
“Dari sisi kesehatan orangutan, keberadaan asap dan cemaran akibat kebakaran hutan sangat berbahaya bagi paru-paru dan metabolisme mereka karena sistem pernapasan mereka sangat sensitif terhadap polusi udara,” jelas dia.
Dampak asap juga dapat mengganggu metabolisme dan sistem imun akibat stres oksidatif. Penurunan nafsu makan dapat membuat orangutan lemas, kurang aktif, dan mengalami penurunan berat badan. Bahkan, stres fisiologis akibat paparan asap berpotensi mengganggu sistem reproduksi dan menambah tekanan terhadap populasi orang utan.
Ronny menegaskan karhutla bukan lagi persoalan lokal. Dampaknya telah meluas terhadap keseimbangan iklim, kesehatan, perekonomian, serta keberlangsungan ekosistem.
Menurut dia, karhutla yang sedang terjadi di Kalimantan dan Sumatera bukan lagi merupakan masalah lokal ataupun masalah Indonesia semata, melainkan sudah menjadi masalah global karena telah mengganggu keseimbangan iklim, kesehatan, serta perekonomian global.
“Dalam situasi seperti ini, tidak terlalu berlebihan jika dunia menuntut langkah nyata dari Indonesia untuk mengakhiri siklus tahunan kebakaran hutan ini dengan melakukan pencegahan kebakaran hutan secara berkelanjutan," tegas dia.
Selain itu, perlu menegakkan hukum yang tegas bagi pembakar hutan dan lahan, meningkatkan komitmen iklim global, serta meningkatkan transparansi data dan dampak agar dunia dapat membantu memantau. Ronny menenkankan juga perlu peningkatan kerja sama regional untuk memperkuat koordinasi lintas batas guna mengurangi dampak kabut asap.