Program pelatihan mandiri ini menjadi bagian dari strategi pemerintah meningkatkan kompetensi guru. Program ini diharapkan mampu mendorong pemerataan mutu pendidikan di Indonesia melalui peningkatan kualitas guru.
"Program pelatihan ini memang menjadi pilihan yang kita sebut sebagai exit strategy. Idealnya pelatihan dilakukan secara tatap muka, tetapi berbagai keterbatasan membuat teknologi menjadi sarana untuk mendukung keberhasilan program ini," ujar Mendikdasmen Abdul Mu'ti saat peluncuran pelatihan mandiri pembelajaran mendalam, coding, dan kecerdasan artifisial di Jakarta Kamis, 9 Juli 2026.
| Baca juga: Coding hingga Wajib Belajar 13 Tahun di 2027, Kemendikdasmen Minta Tambah Anggaran Rp40,75 Triliun |
Ia menegaskan pelatihan daring bukan sekadar solusi sementara, melainkan bagian dari strategi yang juga diterapkan di berbagai negara. Pendalaman materi nantinya tetap dilakukan melalui forum Kelompok Kerja Guru (KKG), Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP), hingga Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS).
"Guru yang telah mengikuti pelatihan diharapkan dapat menjadi agen penyebaran pengetahuan kepada guru lainnya," jelasnya.
Lebih lanjut, Mu'ti mengatakan tantangan pendidikan Indonesia tidak hanya berkaitan dengan akses. Tetapi juga kesenjangan mutu antardaerah maupun antarsekolah, karena peningkatan kapasitas guru menjadi salah satu fokus utama pemerintah.
"Kita semua memahami bahwa tantangan pendidikan kita tidaklah sederhana. Kita masih mengalami masalah kesenjangan pendidikan, terutama antara satu kawasan dengan kawasan lainnya dan antara satu sekolah dengan sekolah lainnya," kata Mu'ti.
Menurut dia, pemerintah terus berupaya memperkecil kesenjangan tersebut melalui berbagai program afirmasi. Mulai dari pemenuhan sarana dan prasarana, peningkatan kualitas sumber daya manusia, penyempurnaan regulasi hingga membangun budaya pendidikan yang mendukung terwujudnya pendidikan bermutu untuk semua.
Mu'ti mengatakan Presiden juga memberikan perhatian besar terhadap transformasi pendidikan. Selain revitalisasi sekolah, pemerintah mempercepat digitalisasi pembelajaran melalui distribusi interactive flat panel (IFP) ke sekolah-sekolah di seluruh Indonesia.
Meski demikian, ia menegaskan teknologi tidak akan menggantikan peran guru. Guru tetap menjadi aktor utama yang menentukan kualitas pembelajaran.
"Guru adalah agent of learning dan agent of civilization. Guru bukan hanya menyampaikan ilmu pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter dan peradaban," ujarnya.
| Baca juga: Nasib 2,3 Juta Guru Non-ASN Terancam, JPPI: Negara Jangan Cuci Tangan pada Nasib Guru Honorer! |
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda