Sosiolog UGM, Dr. Arie Setyaningrum mengatakan, banyak pertanyaan penting untuk mengidentifikasi terkait sosialisasi kenormalan baru. Misalnya protokol macam apa yang akan diterapkan, di mana saja, kapan dan kepada siapa saja.
Artinya, praktik-praktik kenormalan baru ini harus dilakukan dengan cara-cara apa saja, misalnya jika berkenaan dengan interaksi sosial seperti di lingkungan perdagangan, sebagai contoh pasar, mall, toko, restoran, pariwisata, lingkungan jasa seperti di sekolah, kampus dan lain-lain, atau bagaimana dengan di lingkungan industri.
Di samping itu, media apa yang akan dipergunakan untuk melakukan sosialisasi protokol kesehatan di masing-masing sektor aktivitas masyarakat. Kejelasan protokol yang sampai ke masyarakat juga menjadi hal penting, karena tingkat kepercayaan masyarakat saat ini menjadi kunci suksesnya pelaksanaan kenormalan baru.
“Jika tidak, resistensi yang buruk bisa muncul. Hal itu tentu tidak diharapkan," kata Arie dikutip dari laman UGM, Kamis, 28 Mei 2020.
Baca juga: Santri Kembali ke Pesantren, Begini Protokol Kesehatannya
Resistensi yang buruk seperti ditunjukkan dalam beberapa minggu menjelang hari raya Idulfitri misalnya, warga yang berkerumun diam-diam berbelanja di Toserba, dan Toserba pun mengakali peraturan PSBB dan lain-lain.
"Bahkan, ada kepala desa di Buol Sulawesi yang dikeroyok warga desa karena melarang Salat Id di masjid," jelasnya.
Ia menandaskan, jika memang akan diterapkan, maka Pemerintah harus mulai merangkul beragam pemangku kepentingan. Seperti jaringan masyarakat sipil dan organisasi masyarakat yang memiliki pengaruh kuat, misalnya Muhammadiyah dan NU (Nahdlatul Ulama).
Oleh karena itu, mobilisasi sumber daya manusia menjadi penting, Gugus Tugas Covid-19 perlu mempertimbangkan merekrut relawan-relawan lain dalam menyosialisasikan praktik-praktik yang sesuai prosedur kesehatan dan keselamatan bersama dalam menjalankan kenormalan baru.
“Itu poin-poin yang saya sampaikan, dan kita tahu masyarakat bergerak cepat. Solidaritas dan inisiatif warga mengatasi dampak pandemi ini mestinya harus diapresiasi pula. Oleh karena itu, perlu kerja sama dengan beragam lapisan masyarakat lintas sektoral jika akan menjalankan prosedur new normal," ucapnya.
Beberapa kota di Indonesia saat ini tengah bersiap menghadapi kenormalan baru (new norma)l atau fase kehidupan baru setelah pandemi virus corona menghantam dunia. Dalam fase tersebut, masyarakat dituntut mampu beradaptasi dengan kebiasaan baru, yaitu menerapkan protokol pencegahan penularan virus di setiap kegiatan yang melibatkan orang banyak.
Meski masih menjadi polemik, tampaknya Indonesia akan melakukan uji coba kenormalan baru tersebut, meski baru diterapkan di tiga kota, yaitu Yogyakarta, Bali, dan Kepulauan Riau sebagai wilayah uji coba. Beberapa pihak dan pengamat masih meragukan kesiapan ini, sebab hingga kini panduan terkait protokol kesehatan di era fase kehidupan baru pun belum ada.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News