Kepala BRIN Laksana Tri Handoko. Medcom.id/Ilham Pratma Putra
Kepala BRIN Laksana Tri Handoko. Medcom.id/Ilham Pratma Putra

BRIN Siap Jembatani Periset dengan Industri Kesehatan

Renatha Swasty • 06 Juli 2022 15:58
Jakarta: Pandemi covid-19 yang sudah melanda dunia dua tahun telah mengajarkan masalah fundamental di Indonesia. Salah satunya, Indonesia belum mampu mandiri dalam industri farmasi dan alat kesehatan (alkes). 
 
Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Laksana Tri Handoko menyampaikan pandemi juga mengajarkan tentang kedaulatan pengelolaan kesehatan di Tanah Air. Dia menuturkan setelah pembentukan BRIN pada April 2021, pihaknya fokus menjadi penggerak, pendorong secara ril. 
 
"Tentu saja kita berupaya untuk mandiri dan berdaulat di bidang kesehatan,” kata Handoko saat membuka webinar Pemanfaatan Riset dan Inovasi Kesehatan untuk Percepatan Kemandirian Industri farmasi dan Alat Kesehatan Indonesia dikutip dari laman brin.go.id, Rabu, 6 Juli 2022.   

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Handoko menyebut potensi hasil riset di bidang kesehatan, meliputi obat, vaksin, maupun alat kesehatan cukup besar. Namun, dia melihat ada yang hilang dan tidak ada jembatan antara riset hingga ke industri.
 
“Jembatan ini bukan masalah hilirisasi, bukan sekadar komersialisasi, tetapi ini masalah ril. Artinya, periset tidak mungkin bisa dan tidak memahami juga aspek industri, regulasi, pengujian, bagaimana prosedurnya, dan sebagainya,” papar dia. 
 
Di sisi lain, bidang industri juga sangat berat bila harus masuk ke hulu karena mengandung risiko yang sangat besar. Pengembangan obat, vaksin, bahkan juga alkes adalah hal-hal berisiko tinggi karena tingkat kegagalannya tinggi.
 
“Justru di situlah peran BRIN, dengan segala sumber dayanya, setelah mengintegrasikan sumber daya riset dan inovasi di negara ini, yang dimiliki oleh pemerintah. Baik itu SDM, infrastruktur riset, maupun anggaran risetnya, BRIN akan masuk di tengah-tengah untuk menanggung risiko tersebut,” beber dia. 
 
Handoko menyebut BRIN juga memfasilitasi periset, sehingga tidak perlu sampai harus memaksakan diri masuk ke ranah industri, karena itu satu dunia yang berbeda. Secara regulasi maupun secara etika di dunia kesehatan hal itu seharusnya dilakukan pihak berbeda.
 
 
  • Halaman :
  • 1
  • 2
Read All



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif