Menanggapi fenomena tersebut, Guru Besar Bidang Ekonomi Bisnis sekaligus Wakil Rektor Unika Atma Jaya, Prof. Rosdiana Sijabat, S.E., M.Si., Ph.D., memberikan warning keras. Ia menyoroti betapa krusialnya menjaga kredibilitas dan independensi Bank Indonesia agar stabilitas ekonomi tidak goyah di masa transisi ini.
Rosdiana mencatat, dalam sejarahnya, hanya ada dua Gubernur BI yang pernah mundur di tengah jalan dengan alasan yang sangat bertolak belakang. Jika dulu Boediono mundur demi melangkah menjadi Calon Wakil Presiden di era Susilo Bambang Yudhoyono, kali ini Perry Warjiyo mundur dengan alasan pribadi, yang tak pelak memicu bola panas spekulasi di ruang publik.
Situasi yang tidak biasa ini diyakini akan memantik reaksi pasar secara instan, terutama dampaknya terhadap laju tukar rupiah. “Terlepas dari apapun alasan sebenarnya Pak Perry mundur, dalam jangka pendek ini pasti akan menimbulkan reaksi dari pelaku pasar dan investor yang akan melihat apakah dengan pengunduran diri ini, rupiah akan mengalami fluktuasi yang tajam atau tidak,” ujarnya.
Belajar dari Kasus Global dan Bahaya Isu Non-Ekonomi
Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan. Rosdiana mengambil contoh pergantian kepemimpinan bank sentral di negara-negara seperti India, Argentina, dan Turki. Di sana, transisi mendadak langsung memicu badai di pasar keuangan, mulai dari anjloknya nilai mata uang, tekanan berat pada obligasi, hingga berubahnya mood investor.“Kalau kita lihat dari pengalaman negara lain, mungkin arahnya akan lebih kepada bagaimana pasar melihat kepemimpinan bank sentral itu, apakah independen atau tidak, apakah independensi bank sentral kita itu bisa tetap terjaga atau tidak terlepas dari siapa pun yang nantinya menggantikan Pak Perry,” jelas Rosdiana.
Lebih jauh, ia memperingatkan bahayanya jika pasar telanjur mengendus adanya intervensi di balik layar. “Kalau muncul persepsi bahwa mundurnya Pak Perry ini berkaitan dengan faktor non-ekonomi, maka akan lebih sulit bagi pemerintah dan bank sentral untuk mengelola dampaknya serta menjaga kepercayaan investor,” tegas Rosdiana.
Demi meredam volatilitas pasar dalam jangka pendek, ia menaruh harapan besar pada sosok pengganti yang akan menakhodai BI ke depannya.
“Harapannya, pemimpin yang baru nanti tetap mampu menjaga mandatnya dalam menjaga stabilitas rupiah, tetapi yang paling penting adalah mampu mempertahankan persepsi bahwa Bank Indonesia tetap menjadi lembaga yang independen,” ujar Rosdiana.
Drama kebijakan moneter ini membuktikan bahwa ilmu ekonomi bukan sekadar obrolan eksklusif bagi banker atau investor di bursa saham. Generasi muda juga dituntut untuk melek dan peka terhadap dinamika ekonomi karena dampaknya akan langsung berimbas pada kehidupan sehari-hari dan ketersediaan lapangan kerja.
Melalui Program Studi Ekonomi Pembangunan, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya hadir untuk menjembatani kebutuhan tersebut. Mahasiswa tidak hanya disuapi teori kaku soal ekonomi makro atau perbankan, tetapi diajak membedah langsung keterkaitan antara kebijakan pemerintah, stabilitas keuangan, dan tantangan riil di masyarakat.
Di tengah ketidakpastian global dan transisi kepemimpinan nasional, pendidikan ekonomi yang kritis dan adaptif sangat dibutuhkan. Melalui kurikulumnya, Unika Atma Jaya berkomitmen mencetak generasi muda yang siap membaca peluang, merespons tantangan, dan menjadi garda depan dalam pembangunan ekonomi Indonesia di masa depan.
Baca Juga : Lowongan Magang Bank Indonesia Jakarta Dibuka hingga 29 Juli, Cek Syarat dan Cara Daftarnya!
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda