Founder Mata Garuda, Rinatania Anggraeni. DOK Metro TV
Founder Mata Garuda, Rinatania Anggraeni. DOK Metro TV

Alumni: Penerima Beasiswa LPDP Gen Z dan Milenial, Kuranginlah Flexingnya

Ilham Pratama Putra • 24 Februari 2026 15:34
Ringkasnya gini..
  • Rina mengingatkan penerima beasiswa LPDP mesti bisa bijak menggunakan media sosial.
  • Penerima beasiswa LPDP adalah amanah.
  • Pamer dengan fasilitas negara adalah bentuk nirempati.
Jakarta: Founder Mata Garuda, Rinatania Anggraeni, mengecam perilaku alumni beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Dwi Sasetyaningtyas serta suaminya, Arya Iwantoro. Keduanya dinilai telah merendahkan negara dan tak menjalankan kewajiban kontribusi sebagai penerima beasiswa LPDP.
 
Rina yang memimpin wadah organisasi alumni LPDP itu mengingatkan agar alumni lainnya tak terpancing melakukan tindakan seperti Tyas. Menurutnya, pamer dengan fasilitas negara adalah bentuk nirempati.
 
"Yang jelas adalah kita dibiayai oleh negara untuk berkontribusi terhadap negara. Jadi seyogyanya bisa menjaga amanah itu. Dan dengan empati itu saya maksud adalah ya kurang-kurangin flexing lah," sebut Rina dalam Top News Metro TV dikutip Selasa, 24 Februari 2026.

Terlebih, bagi penerima beasiswa LPDP yang usianya muda seperti generasi Z dan milenial. Menurutnya, dua generasi ini sulit untuk tidak flexing.
 
"Saya tahu mungkin agak sulit apalagi bagi penerima beasiswa yang mungkin masuk gen Z dan early milenial untuk tidak flexing di sosial media. Tapi saya mengingatkan sekali lagi bahwa beasiswa LPDP ini adalah sebuah privilese," tegas alumni LPDP Tahun 2013 itu.
 
Rina mengingatkan beasiswa LPDP adalah amanah. Penerima beasiswa LPDP mesti bisa bijak menggunakan media sosial.
 
"Tidak semua orang bisa mendapatkan (beasiswa LPDP) itu. Jadi lebih bijak dalam menggunakan sosial media mungkin bisa dimanfaatkan untuk hal yang lain yang lebih berfaedah gitu," tutur dia.
 
Sebelumnya, Dwi Sasetyaningtyas atau Tyas dalam klarifikasinya menyatakan telah menyelesaikan kewajiban pengabdiannya sebagai penerima beasiswa LPDP. Hal ini dihitung dari masa studinya di Delft University of Technology selama 2015-2017.
 
Dengan ketentuan pengabdian LPDP, yaitu selama 2 kali masa studi ditambah 1 tahun (2N+1) setelah selesai studi secara berturut-turut, maka di tahun 2025, Tyas sudah lepas dari masa pengabdian atau kembali dan berkontribusi di Indonesia.
 
Namun, suaminya, Arya Iwantoro, belum menyelesaikan kewajiban kontribusi yang ditetapkan LPDP. Setelah lulus studi S3 periode 2017-2022, Arya belum kembali dan berkontribusi di Indonesia dalam hitungan 2N+1, yang seharusnya terdapat masa pengabdian selama 11 tahun sampai 2033.
 
Dalam laman LinkedIn, setelah lulus studi, Arya bekerja sebagai Phd Researcher di Utrecht University pada Februari 2017-November 2022 (5 tahun 10 bulan). Kemudian, lanjut bekerja sebagai Postdoctoral Researcher University of Exeter pada Oktober 2022-Desember 2024 (2 tahun 3 bulan).
 
Arya kembali mengambil pekerjaan di luar negeri sebagai Senior Research Consultant Universituy of Plymouth pada Januari 2025-Sekarang (1 tahun 2 bulan). Pada masa inilah, ia diduga memboyong keluarganya sampai sang istri melahirkan dan anaknya mendapatkan status kewarganegaraan Inggris.
 
Kontrovesi ini bermula dari pernyataan Dwi Sasetyaningtyas alias Tyas yang bangga anaknya mendapat kewarganegaraan Inggris. Namun, amarah publik terpantik karena ia mengucapkan: "I know the world seems unfair, tapi cukup aku aja yang WNI, anak-anakku jangan. Kita usahakan anak-anak dengan paspor kuat,".
 
Pernyataan Tyas mendapat kecaman dari warga net, pasalnya ia bisa berada di luar negeri atas bantuan pendidikan dari LPDP yang merupakan uang dari pajak rakyat. Warga net lalu mengulik kehidupan Tyas. 
 
Rupanya, suaminya juga merupakan penerima LPDP dan belum menjalankan kewajiban kontribusi di Indonesia setelah lulus studi. 
 
Belakangan, Tyas meminta maaf atas ucapannya. Dia menyadari kalimat tersebut kurang tepat dan dapat dimaknai sebagai bentuk perendahan terhadap identitas sebagai WNI.
 
Untuk itu, Tyas mengakui kesalahannya dan memahami dampak dari pernyataan tersebut tetap menjadi tanggung jawabnya. "Melalui pernyataan ini, saya ingin menyampaikan permohonan maaf kepada pihak-pihak yang merasa tersakiti serta atas kegaduhan yang terjadi," tulis Tyas di akun Instagramnya @sasetyaningtyas.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(REN)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan