Ilustrasi. Foto: Pixabay
Ilustrasi. Foto: Pixabay

Makan Sepiring Berdua dengan Suami, Bolehkah dalam Islam? Ini Penjelasan Buya Yahya

N Zaid • 31 Oktober 2026 19:46
Ringkasnya gini..
  • Buya Yahya juga menyoroti kebiasaan sebagian masyarakat yang masih mempertahankan berbagai pantangan atau anggapan pamali dalam kehidupan rumah tangga.
  • Kehidupan rumah tangga seharusnya dipenuhi berbagai bentuk perhatian dan kasih sayang, bukan justru dibatasi oleh pantangan yang tidak memiliki dasar dalam ajaran Islam.
  • Buya Yahya menilai kebiasaan makan bersama, berbagi minuman, hingga saling menyuapi dapat menjadi bagian dari keindahan kehidupan rumah tangga.
Jakarta: Makan sepiring berdua dengan suami sering menjadi salah satu kebiasaan pasangan untuk menunjukkan kasih sayang. Bahkan, sebagian pasangan merasa lebih mesra ketika bisa berbagi makanan, saling menyuapi, atau minum dari gelas yang sama.

Namun, kebiasaan sederhana ini ternyata masih dianggap tabu di sebagian masyarakat. Ada anggapan bahwa suami dan istri tidak pantas makan dalam satu piring karena dianggap pamali atau tidak baik.

Persoalan ini pernah ditanyakan seorang jemaah kepada Buya Yahya dalam sebuah sesi tanya jawab keagamaan. Ia bercerita bahwa dirinya terbiasa makan satu piring bersama suami. Namun, suatu ketika saat sahur, suaminya menolak kebiasaan tersebut setelah mendapat teguran dari ibunya.

Sang istri kemudian bertanya apakah makan sepiring berdua dengan suami memang dilarang dalam Islam.

Menanggapi pertanyaan tersebut, Buya Yahya menjelaskan bahwa tidak ada larangan dalam syariat Islam bagi suami dan istri untuk makan bersama dalam satu piring. Bahkan, menurutnya, kebiasaan tersebut bisa menjadi salah satu bentuk keindahan dan kemesraan dalam rumah tangga.

Islam Menganjurkan Suami Istri Membangun Kemesraan

Buya Yahya menjelaskan bahwa keindahan dalam hubungan suami istri tidak hanya dibangun ketika berada di tempat tidur. Kemesraan juga bisa diwujudkan melalui berbagai aktivitas sederhana dalam kehidupan sehari-hari, termasuk ketika makan bersama.

"Di dalam rumah tangga dianjurkan membuat keindahan seindah-indahnya. Bukan saja di atas ranjang, dalam bercengkerama, tetapi makan pun seperti itu," jelas Buya Yahya.

Ia bahkan menyebutkan bahwa suami dan istri boleh saling menyuapi makanan. Hal tersebut merupakan bagian dari ekspresi kasih sayang yang dapat mempererat hubungan pasangan.

Menurut Buya Yahya, tidak perlu merasa risih atau khawatir melakukan kebiasaan tersebut karena tidak ada ketentuan syariat yang melarang pasangan suami istri makan dari satu piring.

"Jadi, enggak masalah makan sepiring berdua. Alangkah indahnya," ungkapnya.

Rasulullah dan Aisyah Juga Menunjukkan Kemesraan Saat Makan

Untuk menggambarkan kemesraan dalam rumah tangga, Buya Yahya mengingatkan tentang kebiasaan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersama istrinya, Aisyah radhiyallahu anha.

Dalam sebuah hadis riwayat Muslim, Aisyah menceritakan bahwa dirinya pernah minum dari sebuah wadah. Setelah itu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengambil wadah yang sama dan meletakkan mulut beliau pada bekas tempat Aisyah minum.

Hadis tersebut menunjukkan bagaimana Rasulullah memperlihatkan kasih sayang kepada istrinya melalui tindakan sederhana.

Kemesraan semacam ini menjadi teladan bahwa hubungan suami istri tidak harus selalu ditunjukkan melalui hal-hal besar. Perhatian kecil dalam keseharian pun dapat menjadi ungkapan cinta.

Buya Yahya menilai kebiasaan makan bersama, berbagi minuman, hingga saling menyuapi dapat menjadi bagian dari keindahan kehidupan rumah tangga.

Jangan Terjebak Anggapan Pamali yang Tidak Memiliki Dasar Syariat

Dalam ceramahnya, Buya Yahya juga menyoroti kebiasaan sebagian masyarakat yang masih mempertahankan berbagai pantangan atau anggapan pamali dalam kehidupan rumah tangga.

Ia mencontohkan anggapan bahwa seorang laki-laki tidak pantas masuk dapur atau membantu istrinya memasak.

Padahal, menurut Buya Yahya, tidak ada larangan bagi suami untuk membantu pekerjaan rumah tangga. Justru, suami yang ikut membantu istrinya memasak atau menyiapkan makanan bisa menciptakan suasana rumah tangga yang lebih hangat.

"Indahnya suami yang ikut bantu istrinya bikin sambal, masak nasi. Ada sebagian ibu yang enggak tahu ilmu dari mana, melarang suaminya masuk dapur," tuturnya.

Buya Yahya juga menggambarkan bagaimana suami bisa menciptakan kejutan kecil bagi istrinya ketika sedang memasak. Misalnya, datang ke dapur dan mengambil sendok atau ikut mencicipi masakan sehingga suasana menjadi lebih menyenangkan.

Menurutnya, kehidupan rumah tangga seharusnya dipenuhi berbagai bentuk perhatian dan kasih sayang, bukan justru dibatasi oleh pantangan yang tidak memiliki dasar dalam ajaran Islam.

Bagaimana Jika Orang Tua Melarang Makan Sepiring Berdua?

Persoalan menjadi lebih rumit ketika larangan tersebut datang dari orang tua atau mertua. Dalam kasus yang ditanyakan jemaah, sang suami menolak makan sepiring berdua karena mengikuti nasihat ibunya.

Buya Yahya menjelaskan bahwa suami tetap perlu menghormati orang tua. Namun, penghormatan kepada orang tua bukan berarti harus membenarkan seluruh keyakinan atau pantangan yang tidak memiliki dasar dalam syariat.

Ia menyarankan agar persoalan tersebut disikapi dengan bijaksana, bukan dengan kemarahan atau pertengkaran.

"Kalau ibunya mengatakan jangan, memang ibunya masih punya budaya atau keyakinan seperti itu. Jangan langsung dilawan," jelasnya.

Menurut Buya Yahya, seorang anak tetap harus menjaga adab kepada orang tua meskipun mengetahui bahwa suatu keyakinan tidak sesuai dengan ajaran Islam.

Karena itu, istri juga sebaiknya tidak menyimpan dendam kepada mertua hanya karena perbedaan pandangan mengenai kebiasaan makan bersama.

Buya Yahya mengingatkan agar pasangan tetap menjaga suasana keluarga dan tidak memperbesar persoalan yang sebenarnya sederhana.

Rumah Tangga Harus Dibangun dengan Kasih Sayang

Penjelasan Buya Yahya memberikan pelajaran bahwa kemesraan dalam rumah tangga dapat tumbuh melalui kebiasaan-kebiasaan sederhana. Makan sepiring berdua, saling menyuapi, berbagi minuman, hingga membantu pasangan memasak merupakan bentuk perhatian yang dapat memperindah kehidupan suami istri.

Selama tidak melanggar ketentuan agama, kebiasaan tersebut tidak perlu dikhawatirkan hanya karena dianggap pamali oleh sebagian masyarakat.

Di sisi lain, perbedaan pandangan dengan orang tua atau mertua juga harus diselesaikan dengan santun. Jangan sampai persoalan tradisi justru menjadi sumber pertengkaran dalam keluarga.

Islam mengajarkan agar suami dan istri saling memperlakukan pasangan dengan baik, membangun kasih sayang, serta menciptakan kehidupan rumah tangga yang penuh ketenteraman.

Sebab, keindahan rumah tangga tidak hanya hadir dalam momen istimewa, tetapi juga bisa tumbuh dari hal-hal kecil yang dilakukan bersama setiap hari.

Wallahu a'lam bish-shawab.


Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(zdm)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan