Ilustrasi: MI/Aries Munandar
Ilustrasi: MI/Aries Munandar

Tingkat Putus Sekolah di Kalangan Perempuan Meningkat Selama Pandemi

Pendidikan pendidikan Hari Kartini Sekolah Perempuan putus sekolah
Citra Larasati • 23 April 2022 07:07
Jakarta:  Tingkat putus sekolah di kalangan perempuan mengalami peningkatan selama masa pandemi covid-19.  Dari sisi pendidikan, aspek kesetaraan dan keadilan masih menjadi persoalan di era kekinian.
 
Hal ini terungkap dalam Webinar Internasional Hari Kartini bertema “Agama, Perempuan, dan Literasi Keagamaan Lintas Budaya” yang diadakan oleh Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga dan Institut Leimena. 
 
“Dari pengalaman kami, kemungkinan besar perempuan-perempuan yang berhenti sekolah tidak akan melanjutkan sekolah walaupun pandemi sudah berlalu,” ujar Wakil Presiden Forum Lintas Agama G20, Katherine Marshall, dalam webinar tersebut, dikutip dari keterangan tertulisnya, Sabtu, 23 April 2022.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Katherine mengatakan, partisipasi perempuan dalam agenda global masih sangat rendah. Seperti salah satu tinjauan tahun 2019, bahwa hanya 3 persen mediator, 4 persen penandatangan, dan 13 persen negosiator merupakan perempuan.
 
“Peran perempuan bagaikan tidak kasat mata karena perempuan juga berkutat juga dengan berbagai macam ekspektasi sosial budaya,” kata Katherine.
 
Sekjen Asian Muslim Action Network (Aman), Dwi Rubiyanti Kholifah mengatakan, usaha menyebarkan Islam yang rahmatan lil’alamin dilakukan lewat dua pendekatan penting yaitu perempuan dan dialog. Menurutnya, perempuan memiliki kodrat unik karena secara efektif mampu menjadi agen transformasi konflik.
 
Dia mencontohkan program Sekolah Perempuan Perdamaian yang dijalankannya bersama Pendeta Roswuri dari Poso dengan memanfaatkan lahan-lahan tidak produktif untuk pengembangan pertanian organik. Sekolah tersebut sejauh ini melibatkan lebih dari 4.000 perempuan lintasiman di 41 desa/kelurahan di Indonesia.
 
“Kebun organik menjadi medium untuk mengurai dendam, prasangka, dan rasa tidak percaya Muslim dan Kristen yang digagas dan dikelola oleh masyarakat itu sendiri,” kata aktivis perempuan dan perdamaian yang akrab disapa Ruby Kholifah.
 
Ruby juga mempopulerkan reflective structured dialogue (RSD) kepada para ulama perempuan. Metode RSD, yang didapatkannya dari pelatihan di Romania oleh Mediators Beyond Boarder International, dipakai sebagai upaya reintegrasi sosial untuk 40 mantan pendukung ISIS.
 
Pada 2018-2019, Ruby bersama para ulama perempuan dari berbagai mazhab seperti Sunni, Syiah, Ahmadiyah, Salafi, dan Wahabi juga saling berdialog terhadap isu-isu kontroversial seperti pernikahan anak, poligami, mengucapkan salam kepada nonmuslim, dan keberagaman.
 
“Saat ini pendekatan dialog di sebuah kelurahan di kabupaten Depok dicoba untuk mendukung proses reintegrasi sosial para pendukung ISIS yang kembali dari Suriah dan Irak,” ujar Ruby.
 
Ketua Majelis Sinode Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT), Pendeta Mery LY Kolimon, mengatakan Reformasi Protestan (mulai 1517) merekonstruksi identitas perempuan sebagai setara dengan laki-laki termasuk kepemimpinan. “Jika dalam agama suku, peran keagamaan perempuan sangat terbatas, maka Kekristenan memberikan sebuah identitas baru sebagai yang setara untuk berelasi dengan Yang Ilahi,” katanya.
 
Baca juga:  Putus Sekolah Jenjang SD Naik 10 Kali Lipat Selama Pandemi
 
Rektor UIN Sunan Kalijaga Prof. Dr.Phil. Al Makin mengatakan berkah keragaman Indonesia seharusnya dipahami sebagai modal dasar untuk mencapai kemajuan. Sementara itu, Senior Research Fellow University of Washington, Dr. Chris Seiple, mengatakan, pelibatan perempuan di area publik masih sangat minim.
 
"Padahal, perempuan memainkan peran penting dalam keberlanjutan pembangunan dan perdamaian," tutupnya.
 
(CEU)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif