Riset Berbasis Sains pada Penanganan Karhutla. Foto: Medcom.id/Adinda Kinanthi
Riset Berbasis Sains pada Penanganan Karhutla. Foto: Medcom.id/Adinda Kinanthi

Pemadaman Api di Lahan Gambut Butuh Ekstra Air, Singkong Masuk Radar 'Riset Karhutla'

Citra Larasati • 03 November 2026 07:39
Ringkasnya gini..
  • Pemerintah mengembangkan riset berbasis sains untuk menangani karhutla melalui pengelolaan gambut, deteksi dini, dan inovasi pemadaman api.
  • Singkong dan umbi-umbian dikaji sebagai alternatif bahan pemadam karhutla. Efektivitasnya masih memerlukan pengujian ilmiah.
  • Riset penanganan karhutla diperkuat melalui tiga fokus utama dan call for proposal pada KSTI 2026.
Jakarta: Pemerintah mendorong pemanfaatan riset dan teknologi berbasis sains dan keilmuan untuk memperkuat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), khususnya di kawasan gambut. Salah satu inovasi yang tengah dikaji adalah pemanfaatan bahan alami berbasis singkong sebagai alternatif solusi pemadaman api.

Pendekatan ini menjadi bagian dari pengembangan riset nasional untuk mencegah kebakaran sekaligus meminimalkan dampaknya terhadap masyarakat dan lingkungan. Upaya tersebut mencakup tiga fokus utama, yakni pengelolaan lahan gambut, pengembangan teknologi deteksi dini dan prediksi kebakaran, serta pencarian metode pemadaman yang lebih efektif ketika kebakaran telah terjadi.

Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan, Fauzan Adziman, menjelaskan penanganan karhutla membutuhkan pendekatan berbasis sains karena karakteristik kebakaran di lahan gambut berbeda dengan kebakaran di kawasan hutan biasa. Api tidak hanya membakar bagian permukaan, tetapi juga dapat merambat di lapisan gambut bawah tanah.

"Satu kilogram lahan gambut saja ketika dia kebakaran, untuk memadamkannya perlu enam liter air. Jadi air yang dibutuhkan sangat banyak, apalagi kalau melihat misal satu hektare ," jelas Fauzan, di Graha Diktisaintek, Jakarta, Senin, 2 November 2026.

Kondisi tersebut membuat penanganan karhutla di kawasan gambut membutuhkan strategi khusus, mulai dari pemetaan kondisi lahan, pemantauan sumber air, hingga pengembangan teknologi pemadaman yang sesuai dengan karakteristik kebakaran.

Singkong Dikaji untuk Pemadaman Api

Salah satu pendekatan yang tengah dikembangkan melalui riset adalah pemanfaatan bahan-bahan alami, termasuk singkong dan umbi-umbian, sebagai alternatif solusi penanganan kebakaran.

Fauzan menyebutkan sejumlah peneliti sedang mendalami berbagai kemungkinan penggunaan bahan tersebut sebagai bagian dari inovasi pemadaman api. Namun, efektivitasnya masih perlu diuji lebih lanjut, terutama untuk mengetahui kemampuan bahan dalam menjangkau sumber api yang berada di bawah permukaan tanah.

"Terdapat di salah satu dari tiga topik yang kita kembangkan. Namun, tidak hanya itu, ada juga solusi-solusi yang menggunakan solusi kimiawi," ungkapnya.

Penggunaan bahan kimia juga menjadi salah satu alternatif yang dipelajari. Namun, penerapannya perlu mempertimbangkan biaya, tingkat urgensi, efektivitas, serta kemungkinan untuk dikembangkan dalam skala lebih luas.

"Memang intervensi kimiawi ini ada biayanya dan lain sebagainya. Jadi kita melihat dari aspek urgensi, bagaimana kita bisa scale up, dan bagaimana supaya bisa diterapkan di masyarakat," jelasnya.

Pemanfaatan singkong maupun bahan alami lainnya tetap memerlukan uji ilmiah untuk mengetahui efektivitasnya, termasuk pada kebakaran yang sumber apinya berada di lapisan gambut.

Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan, Fauzan Adziman, menanggapi bahwa setiap metode pemadaman perlu disesuaikan dengan kondisi dan sumber api. Hal ini penting karena kebakaran gambut memiliki karakteristik yang berbeda dengan kebakaran vegetasi di permukaan.

Tiga Fokus Riset Penanganan Karhutla

Pengembangan inovasi penanganan karhutla melalui riset nasional diarahkan pada tiga aspek utama, meliputi:
  1. Pengelolaan dan Pemulihan Lahan Gambut

Fokus pertama adalah memperkuat pemahaman mengenai karakteristik dan pengelolaan lahan gambut. Pemerintah mendorong peneliti untuk mengembangkan riset mengenai kondisi lahan gambut, termasuk keberadaan sumber air di bawah permukaan tanah.

Air tersebut memiliki peran penting dalam menjaga kelembapan gambut agar tidak mudah terbakar. Selanjutnya, penguatan basis data lahan gambut juga menjadi perhatian.

Data yang sebelumnya telah dikembangkan oleh Badan Restorasi Gambut dan Mangrove diharapkan dapat dihidupkan kembali untuk mendukung pemetaan dan pengelolaan kawasan gambut secara lebih komprehensif.

Selain mencegah kebakaran, riset juga diarahkan untuk mengembangkan teknologi pemanfaatan lahan gambut agar lebih produktif dan mampu memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat sekitar.
  1. Pengembangan Teknologi Deteksi Dini dan Prediksi Kebakaran

Fokus kedua adalah mengembangkan kemampuan mendeteksi dan memprediksi kebakaran sejak dini. Pencegahan menjadi langkah penting agar api tidak berkembang dan menyebar ke wilayah yang lebih luas.

"Deteksi dini menjadi kunci karena dengan pemahaman temperatur, kelembapan, dan kondisi di lapangan, perkembangan dari kebakaran ini sedikit demi sedikit mulai bisa kita pahami," kata Fauzan.

Salah satu bagian dari pengembangan tersebut berupa Teknologi pesawat tanpa awak atau Unmanned Aerial Vehicle (UAV) dengan inovasi yang disiapkan adalah UAV U-12 Palapa S-1 yang dikembangkan oleh Universitas Gadjah Mada (UGM). Teknologi ini memiliki kemampuan terbang dalam durasi berjam-jam dan dirancang untuk mendukung pemantauan wilayah, mitigasi bencana, serta pencarian dan penyelamatan atau search and rescue (SAR).

Data dari berbagai perangkat tersebut diharapkan dapat membantu peneliti memahami perkembangan kondisi lingkungan yang berpotensi memicu kebakaran.
  1. Pengembangan Teknologi Pemadaman Api

Fokus ketiga adalah mencari metode pemadaman yang lebih efektif ketika kebakaran sudah terjadi. Penelitian diarahkan untuk mengidentifikasi berbagai alternatif solusi, baik menggunakan bahan alami maupun pendekatan kimiawi.

Khusus untuk lahan gambut, penanganan membutuhkan strategi berbeda karena api dapat membakar material organik hingga ke lapisan bawah tanah. Kondisi ini membuat penyiraman dari permukaan saja belum tentu mampu menjangkau seluruh sumber api.

Fuazan menjelaskan, salah satu pendekatan yang dinilai penting adalah pemanfaatan sumber air di bawah permukaan tanah. Pemerintah juga mulai mengidentifikasi kawasan yang berdekatan dengan permukiman agar dapat dilengkapi fasilitas pompa dan akses sumber air.

“Berdasarkan hasil diskusi para pakar, apabila sudah terjadi kebakaran terutama pada lahan gambut, solusi yang paling efektif adalah memahami bagaimana menggunakan air yang ada di bawah,” jelasnya.

Inovasi lain, yakni metode water bombing atau pemadaman menggunakan pesawat yang menjatuhkan air dari udara dinilai masih dapat dimanfaatkan untuk jenis kebakaran tertentu. Efektivitasnya tetap perlu mempertimbangkan karakteristik lahan dan kondisi sumber api.

(Adinda Kinanthi) 

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(CEU)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan