Kerja. DOK Freepik
Kerja. DOK Freepik

Bukan Cuma Ijazah, Rekrutmen Berdasarkan Skill Kini Jadi Kunci Utama Cari Kerja

Renatha Swasty • 10 Juli 2026 19:04
Ringkasnya gini..
  • Laporan Coursera 2026 menunjukkan 97% perusahaan di Indonesia kini menerapkan sistem rekrutmen berbasis keahlian (skills-based hiring).
  • Sebanyak 97% lulusan di Indonesia yang mengantongi sertifikasi industri berhasil memperoleh pekerjaan layak dalam waktu kurang dari satu tahun.
  • Mahasiswa kini lebih meminati sertifikasi yang memiliki bobot SKS resmi serta berbasis pada proyek nyata hasil kerja sama industri.
Jakarta: Dunia kerja saat ini sudah banyak berubah. Kin, perusahaan tidak lagi hanya melihat ijazah saat merekrut karyawan baru, tapi lebih fokus pada kemampuan nyata atau skills-based hiring.
 
Perubahan ini didorong oleh perkembangan Artificial Intelligence (AI) yang sangat cepat. Kebutuhan industri yang terus berubah juga membuat perusahaan mencari cara rekrutmen yang lebih relevan dengan kondisi saat ini.
 
Menurut laporan Coursera Micro-Credentials Impact Report 2026, sebanyak 98 persen perusahaan di dunia sudah menerapkan sistem rekrutmen berbasis keahlian ini untuk posisi pemula atau entry-level. Artinya, ijazah kuliah saja tidak lagi cukup untuk membuat seseorang diterima bekerja.

Menariknya, tren ini bahkan sudah diterapkan oleh banyak perusahaan di Indonesia. Sebanyak 97 persen di antaranya sudah menggunakannya secara luas untuk mencari kandidat yang siap kerja.
 
Karena itu, micro-credentials kini menjadi nilai tambah sebagai bukti bahwa seseorang punya keahlian yang bisa langsung dipakai sejak hari pertama kerja. Kuncinya, kampus harus lincah memadukan teori kuliah dengan sertifikasi tersebut.

Tantangan Nyata di Indonesia

Perubahan cara merekrut ini bukan sekadar tren sesaat, tapi kebutuhan mendesak. Laporan Coursera mencatat 85 persen perusahaan di Indonesia memperkirakan lebih dari 30 persen jenis keahlian utama yang dibutuhkan akan berubah menjelang tahun 2030.
  Apabila kampus lambat memasukkan sertifikasi praktis ke dalam kurikulum, risikonya cukup besar. Sebanyak 67 persen rektor perguruan tinggi di Indonesia mengakui ada risiko reputasi kampus turun dan minat mahasiswa baru berkurang jika mereka tidak menyediakan program sertifikasi ini.

Keuntungan untuk Lulusan dan Perusahaan

Penerapan rekrutmen berbasis keahlian yang didukung sertifikasi ini terbukti membawa dampak baik bagi kedua belah pihak. Dari sisi lulusan, sebanyak 97 persen lulusan di Indonesia yang punya sertifikasi berhasil dapat kerja yang sesuai dalam waktu kurang dari satu tahun.
 
Dari sisi perusahaan, 96 persen perusahaan di Indonesia menilai karyawan baru yang punya sertifikasi bekerja jauh lebih baik di tahun pertama mereka. Bahkan secara global, 94 persen perusahaan rela memberi gaji awal lebih tinggi untuk kandidat yang punya sertifikasi industri.

Sertifikasi Seperti Apa yang Dicari Mahasiswa?

Mahasiswa saat ini juga semakin selektif. Di Indonesia, sertifikasi yang paling diminati harus memenuhi dua hal utama.
 
Pertama, punya bobot Satuan Kredit Semester (SKS) resmi. Sebanyak 88 persen mahasiswa lebih memilih sertifikasi yang bisa dikonversi jadi SKS, dibanding sertifikasi biasa tanpa bobot SKS yang hanya diminati 10 persen mahasiswa.
 
Kedua, berbasis praktik dan kerja sama industri. Sebanyak 87 persen mahasiswa Indonesia menilai sertifikasi berbasis proyek nyata atau yang dirancang bersama mitra industri jauh lebih efektif untuk persiapan karier dibanding hanya belajar teori.
 
Dengan memadukan ilmu di perkuliahan dan sertifikasi industri, lulusan baru diharapkan bisa lebih percaya diri dan siap bersaing di dunia kerja yang serba cepat. (Talitha Islamey)
 
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(REN)




TERKAIT

BERITA LAINNYA