Tiffney Tyara Setyoko, mahasiswi FK UPH. Foto: UPH
Tiffney Tyara Setyoko, mahasiswi FK UPH. Foto: UPH

Pecah Telur PTS! Mahasiswi UPH Cetak Sejarah Juara 1 Pilmapres 2026

Citra Larasati • 10 Agustus 2026 18:45
Ringkasnya gini..
  • Tiffney Tyara, mahasiswi FK UPH ukir sejarah jadi mahasiswa PTS pertama yang juara 1 Pilmapres Nasional 2026 sejak 2014.
  • Bawa inovasi Smart Febrile Patch, plester pintar deteksi infeksi via keringat untuk bantu penanganan medis lebih dini.
  • Nggak cuma jago akademik, Tiffney juga aktif riset global, bukti ekosistem FK UPH cetak dokter inovatif dan berdampak.
Jakarta: Dominasi perguruan tinggi negeri (PTN) di ajang Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Pilmapres) Tingkat Nasional akhirnya berhasil dipatahkan. Tiffney Tyara Setyoko, mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan (FK UPH) sukses membawa pulang piala Juara 1 Pilmapres Nasional 2026 kategori Program Sarjana.
 
Kemenangan ini bukan sekadar piala biasa. Ini adalah momen epic di mana untuk pertama kalinya sejak kompetisi besutan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI ini digelar pada 2014, mahasiswi dari Perguruan Tinggi Swasta (PTS) berhasil merebut takhta juara pertama.
 
Jalan Tiffney menuju posisi puncak tidak main-main. Mewakili UPH dan LLDIKTI Wilayah III, mahasiswi kedokteran angkatan 2023 ini harus survive menyisihkan ratusan kompetitor dari 17 wilayah LLDIKTI. Ia sukses lolos ke fase 60 besar, hingga akhirnya unjuk gigi di hadapan juri bersama 19 finalis nasional lainnya pada 4-7 Agustus 2026.

Di babak final, penilaiannya pun super ketat. Tidak hanya modal IPK tinggi, para finalis 'dihajar' dengan penilaian gagasan kreatif, kemampuan analytical thinking, leadership, public speaking, wawasan global, hingga kefasihan berbahasa Inggris.

Inovasi Keren Berawal dari Keresahan Sosial

Daya tarik utama yang bikin Tiffney stand out di mata juri adalah gagasannya yang out of the box namun sangat relatable, yaitu “Smart Febrile Patch”. Inovasi ini berupa wearable sensor non-invasif berbasis keringat yang dirancang buat bantu skrining seberapa parah infeksi saat seseorang demam.
 
Ide brillian ini lahir dari fenomena overthinking di masyarakat, demam itu gejala umum, tapi kita sering bingung kapan harus buru-buru ke dokter. Lewat patch pintar ini, parameter fisiologis tubuh bisa diukur otomatis.
 
Harapannya, inovasi ini bisa menyelamatkan pasien dari telat penanganan medis dan mencegah kebiasaan minum antibiotik sembarangan yang sering banget kejadian. Melihat sepak terjang mahasiswinya, Dekan FK UPH, Prof. Dr. Eka, menilai prestasi ini adalah bukti nyata kalau kurikulum pendidikan kedokteran kekinian itu harus langsung nyambung sama problem riil di masyarakat.
 
“Kami sangat bersyukur dan bangga atas pencapaian Tiffney. Namun bagi kami, yang lebih penting daripada sebuah penghargaan adalah proses pembentukan seorang mahasiswa. Pendidikan kedokteran tidak cukup hanya menghasilkan mahasiswa yang menguasai ilmu kedokteran. Kami ingin membentuk calon dokter yang mampu berpikir kritis, melakukan riset, berinovasi, berkomunikasi, memimpin, memiliki integritas, dan menggunakan seluruh kemampuan tersebut untuk melayani masyarakat,” ujar Eka.
 
Ia juga menegaskan kalau kampus harus jadi sandbox yang aman buat mahasiswa bereksplorasi di luar kelas teori. “Gagasan Tiffney lahir dari pertemuan antara ilmu kedokteran, penelitian, teknologi, dan persoalan kesehatan yang benar-benar dihadapi masyarakat. Inilah yang ingin terus kami kembangkan di FK UPH: mahasiswa tidak hanya belajar mengenai penyakit dan pengobatan, tetapi belajar melihat masalah, bertanya, meneliti, dan mencari solusi," ujarnya. 

Portofolio Mentereng Hasil Ekosistem Terintegrasi

Kemenangan Tiffney ini sebenarnya tidak mengejutkan mengintip CV-nya. Sebelum juara nasional, ia sudah menyandang gelar Most Outstanding Student FK UPH (Kategori Akademik) dan jadi Most Valuable Player sekaligus Juara 1 AORTA FK Universitas Hasanuddin 2026.
 
Tidak cuma stuck di dalam negeri, risetnya soal hipertensi dan kanker kolorektal berhasil tembus jurnal internasional bergengsi (Scopus Q1). Ia bahkan pernah jadi oral presenter di forum alergi-imunologi Asia Pacific dan ikut pertukaran riset di Taiwan.
 
Semua pencapaian ini tentunya disokong oleh ekosistem UPH Medical Sciences (UPH MS) yang mengawinkan pendidikan, riset, dan patient care. Mulai dari akses ke laboratorium life sciences MRIN (Mochtar Riady Institute for Nanotechnology) hingga jejaring praktik klinis di 41 rumah sakit Siloam.
 
“Kami percaya masa depan pendidikan kedokteran membutuhkan integrasi yang semakin kuat antara academic medicine, research, dan patient care,” kata Eka.
 
“Karena itu UPH Medical Sciences dibangun sebagai sebuah ekosistem. Mahasiswa belajar di universitas, berinteraksi dengan penelitian life sciences, dan pada saat yang sama berada dekat dengan dunia pelayanan pasien. Ketiga unsur tersebut harus saling memperkuat," terangnya.

Bukan Sekadar Piala, tapi Tanggung Jawab

Di balik gegap gempita kemenangannya, Tiffney tetap rendah hari dan menjadikan momen bersejarah ini sebagai titik tolak untuk memberi impact lebih luas. “Puji Tuhan, saya sangat bersyukur. Saya percaya semua yang saya raih merupakan anugerah Tuhan dan tidak terlepas dari dukungan keluarga, para dosen, pembimbing, dan UPH yang terus mendampingi saya selama proses persiapan,” ujar Tiffney.
 
Buat mahasiswi ini, gelar juara dari PTS pertama di Indonesia adalah sebuah amanah besar. “Ini juga merupakan tanggung jawab. Saya berharap pencapaian ini dapat mendorong mahasiswa lain untuk berani mengembangkan potensi, terus belajar, dan menggunakan setiap kesempatan yang Tuhan percayakan untuk memberikan dampak positif bagi orang lain," ujarnya.
 
Sebagai penutup, Eka kembali mengingatkan soal ultimate goal dari sebuah pencapaian di dunia pendidikan. “Prestasi Tiffney tentu membanggakan FK UPH dan UPH. Tetapi kami berharap cerita ini tidak berhenti pada sebuah piala. Kami berharap Tiffney dan seluruh mahasiswa kami terus bertumbuh menjadi dokter dan pemimpin yang kompeten, rendah hati, berintegritas, serta memiliki hati untuk melayani. Prestasi adalah sesuatu yang patut disyukuri; tetapi dampak yang kita berikan kepada kehidupan orang lain adalah tujuan yang jauh lebih besar," tutupnya.
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(CEU)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan