Berangkat dari latar belakang keluarga menengah ke bawah sebagai anak seorang sopir, serta sempat mengalami kesulitan berbicara di bangku Sekolah Dasar (SD), Indriani justru berhasil mempertahankan disertasinya di depan para penguji.
Dalam sidang promosi doktor Program Studi Komunikasi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan IPB University di Bogor, Rabu (15/7), peneliti sekaligus jurnalis LKBN ANTARA ini memperkenalkan SEMETON, sebuah model konseling pengasuhan gizi anak berbasis WhatsApp yang terbukti ampuh menekan risiko stunting di Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB).
"SEMETON kami rancang sebagai model komunikasi yang dekat dengan keseharian orang tua. WhatsApp dipilih karena sudah menjadi ruang interaksi sosial yang hidup di masyarakat, sehingga edukasi gizi bisa masuk tanpa terasa menggurui," kata Indriani di Jakarta, Selasa, 28 Juli 2026.
Bukan Sekadar Pesan Broadcast Biasa
Nama inovasi ini tak sembarangan. Diambil dari bahasa Sasak yang berarti 'saudara' atau 'kerabat', SEMETON juga merupakan akronim dari enam komponen utama pengasuhan: Sosial, Edukasi, Mediasi, Transmisi, Orientasi, dan Norma.Riset mendalam ini dilakukan selama periode Juli hingga Oktober 2025 dengan menggandeng 128 responden orang tua anak usia dini dari enam lembaga PAUD di Lombok Timur. Melalui metode kuasi-eksperimen, Indriani membagikan intervensi berupa video edukasi singkat melalui WhatsApp.
Hasilnya sangat signifikan, pendekatan digital ini terbukti sukses memperbaiki sikap pengasuh (p=0,010) sekaligus praktik pemberian makan yang lebih sehat pada balita (p=0,011) dibandingkan dengan kelompok kontrol yang tak mendapat intervensi serupa.

Indriani bersama para penguji usai Sidang Terbuka Doktornya di IPB. Foto: Dok. Pribadi
Satu temuan menarik dari riset ini adalah peran WhatsApp yang ternyata tidak berdiri sendiri, melainkan berfungsi sebagai mediator parsial.n"Artinya, teknologi saja tidak cukup. WhatsApp efektif ketika menjadi jembatan interaksi sosial antarorang tua dan kader, bukan sekadar kanal penyebaran pesan," ujar Indriani
Solusi Murah Berbasis Kearifan Lokal
Pendekatan berbasis norma kekerabatan ini menjadi nyawa utama SEMETON. Indriani menyadari, keputusan asupan gizi anak dalam masyarakat Sasak tak hanya diatur oleh ibu, tapi juga sangat dipengaruhi oleh keluarga besar dan lingkungan sekitar. Oleh karena itu, edukasi yang ramah budaya mutlak diperlukan, apalagi Lombok Timur masih dihantui oleh tingginya prevalensi stunting.Menutup masa studinya yang diselesaikan tepat waktu dalam empat tahun, Indriani berharap model komunikasi murah dan mudah diakses ini tak hanya berhenti sebagai tumpukan riset akademik.
"Model ini bisa direplikasi di daerah lain dengan penyesuaian konteks budaya setempat. Namun yang penting adalah membangun rasa 'semeton', rasa persaudaraan, dalam mendampingi orang tua," kata dia.
Kelulusan Indriani disahkan oleh Komisi Promosi yang diketuai Prof. Dr. Ir. Sumardjo, MS, dengan anggota Dr. Ir. Siti Amanah, M.Sc dan Dr. Ir. Umi Fahmida, M.Sc, serta promotor luar Prof. Dr. Sik Sumaedi, MSM., dan Prof. Dr. Ir. Pudji Muljono, M.Si. Kisahnya membuktikan bahwa riset kampus bisa membumi dan lahir dari tangan generasi muda yang mau mendobrak keterbatasan.
Baca Juga :
Strategi Musisi Muda Cari Cuan: Mahasiswa SAE Indonesia Ini Rintis Bisnis Parfum dari Interpretasi Lagu
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda