Dosen Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) Universitas Airlangga (Unair) Kiki Adi Kurnia. Foto: Dok Humas Unair.
Dosen Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) Universitas Airlangga (Unair) Kiki Adi Kurnia. Foto: Dok Humas Unair.

Dosen Muda Sabet Peringkat Dua Peneliti Terbaik Unair

Arga sumantri • 13 Januari 2021 10:55
Surabaya: Dosen Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) Universitas Airlangga (Unair) Kiki Adi Kurnia, menduduki peringkat dua sebagai peneliti terbaik di kampusnya. Ia bertengger di peringkat atas di antara 210 peneliti Unair lainnya.
 
Pengumuman ini disampaikan Lembaga Inovasi, Pengembangan Jurnal, Penerbitan dan Hak Kekayaan Intelektual (LIPJPHKI) Unair dalam rilis TOP 210 Peneliti Terbaik UNAIR Versi Google Cendekia.
 
Capaian ini cukup mengejutkan. Pasalnya, dosen yang akrab disapa Kiki itu merupakan dosen paling muda di antara dosen dalam peringkat lima besar. Berdasar data Google Cendekia, dari tahun 2010 hingga 2021, total kutipan jurnal yang dipublikasikan Kiki mencapai 1873 kutipan. Lalu, jumlah publikasi jurnal Kiki yang memperoleh setidaknya 10 kutipan (nilai indeks-i10) sebesar 41.

Terdapat jurnal Kiki yang rilis pada 2013 berjudul Systematic study of the thermophysical properties of imidazolium-based ionic liquids with cyano-functionalized anions, memperoleh kutipan paling banyak, sebesar 144 kutipan. Jumlah kutipan itu yang mengantarkan Dosen Departemen Kelautan tersebut menduduki peringkat kedua peneliti terbaik Unair.
 
Dosen berusia 38 tahun itu mengaku tidak terlalu memikirkan pemeringkatan tersebut. Sebab, tujuan utama Kiki adalah melakukan penelitian dan menyebarkan hasil penelitian tersebut kepada masyarakat. Ketika menempuh S1 Kimia Institut Teknologi Bandung (ITB), Kiki mengaku sangat ingin menjadi dosen yang cenderung melakukan penelitian.
 
"Saya melakukan hal yang saya suka. Saya suka meneliti, melakukan research dan menulis hasil penelitian saya," tutur Kiki melalui siaran pers Unair, Rabu, 13 Januari 2021.
 
 

Kiki menempuh PhD di bidang Teknik Kimia Universiti Teknologi Petronas, Malaysia, dan menjadi dosen senior di sana. Ia juga membimbing 45 mahasiswa, bahkan tiap bimbingannya selalu mempublikasi hasil penelitiannya. 
 
Kondisi itu berbanding terbalik dengan di Indonesia. Rata-rata jumlah mahasiswa yang dibimbing dosen Indonesia bisa publikasi sekitar 10 penelitian per tahun.
 
"Ada yang missing dari situ, bisa saja mahasiswanya enggak rajin penelitian. Saran saya hasil penelitian yang dikerjakan itu ditulis dan dipublikasikan," ungkapnya.
 
Di Departemen Kelautan, penelitiannya tertuju pada eksplorasi hasil-hasil kelautan. Beberapa penelitian yang sedang dikerjakan bersama tim dan mahasiswanya adalah isolasi bahan aktif dari teripang, dan pengolahan limbah udang menjadi biosorbent. Bukan hanya itu, Kiki juga terlibat penelitian kolaborasi tentang sensor deteksi glukosa dalam darah.
 
Baca: Mahasiswa Unair Temukan Dialek Menarik Saat Exchange di Korsel
 
Kiki melanjutkan karirnya di Portugal sebagai Post-doctoral Universidade De Aveiro. Beragam prestasi Internasional diraih, misalnya, menjadi dosen terbaik, meraih penghargaan perak dalam hal pengajaran dan inovasi, serta menjadi Pembina Kemahasiswaan AIChE (Organisasi Besar Teknik Kimia) di Amerika Serikat. Di Negeri Paman Sam, Ia memacu mahasiswa Teknik Kimia untuk berinovasi dan memenangkan sejumlah kompetisi.
 
"Hasil perjalanan panjang 10 tahun hingga sampai saat ini merupakan hasil saya belajar sabar. Kesabaran saya diuji habis-habisan," jelasnya.
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(AGA)
  • Halaman :
  • 1
  • 2
Read All




TERKAIT

BERITA LAINNYA