Kiki menempuh PhD di bidang Teknik Kimia Universiti Teknologi Petronas, Malaysia, dan menjadi dosen senior di sana. Ia juga membimbing 45 mahasiswa, bahkan tiap bimbingannya selalu mempublikasi hasil penelitiannya.
Kondisi itu berbanding terbalik dengan di Indonesia. Rata-rata jumlah mahasiswa yang dibimbing dosen Indonesia bisa publikasi sekitar 10 penelitian per tahun.
"Ada yang missing dari situ, bisa saja mahasiswanya enggak rajin penelitian. Saran saya hasil penelitian yang dikerjakan itu ditulis dan dipublikasikan," ungkapnya.
Di Departemen Kelautan, penelitiannya tertuju pada eksplorasi hasil-hasil kelautan. Beberapa penelitian yang sedang dikerjakan bersama tim dan mahasiswanya adalah isolasi bahan aktif dari teripang, dan pengolahan limbah udang menjadi biosorbent. Bukan hanya itu, Kiki juga terlibat penelitian kolaborasi tentang sensor deteksi glukosa dalam darah.
Baca:
Mahasiswa Unair Temukan Dialek Menarik Saat Exchange di Korsel
Kiki melanjutkan karirnya di Portugal sebagai Post-doctoral Universidade De Aveiro. Beragam prestasi Internasional diraih, misalnya, menjadi dosen terbaik, meraih penghargaan perak dalam hal pengajaran dan inovasi, serta menjadi Pembina Kemahasiswaan AIChE (Organisasi Besar Teknik Kimia) di Amerika Serikat. Di Negeri Paman Sam, Ia memacu mahasiswa Teknik Kimia untuk berinovasi dan memenangkan sejumlah kompetisi.
"Hasil perjalanan panjang 10 tahun hingga sampai saat ini merupakan hasil saya belajar sabar. Kesabaran saya diuji habis-habisan," jelasnya.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda(AGA)