Pendiri Dama Kara, Nurdini Prihastiti
Pendiri Dama Kara, Nurdini Prihastiti

Dari Beasiswa Jadi Aksi Nyata, Dama Kara Sukses Bawa Karya Difabel Mendunia

Citra Larasati • 09 Agustus 2026 18:16
Ringkasnya gini..
  • Sempat rugi ratusan juta, Nurdini bangkit bangun Dama Kara untuk wadahi kreativitas penyandang disabilitas di ranah mode.
  • Dama Kara Foundation beri kelas gambar gratis bagi difabel, ubah karya mereka jadi fashion bernilai ekonomi tinggi.
  • Berawal dari nol dan beasiswa, Dini sukses bawa busana karya difabel Nusantara mejeng di pameran fashion internasional.
Jakarta: Privilege dan akses yang setara masih menjadi barang mewah bagi kelompok penyandang disabilitas di Indonesia. Mengutip data Kementerian Ketenagakerjaan, dari sekitar 17 juta difabel usia produktif, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) mereka hanya menyentuh angka 20,14 persen pada 2025. Padahal, jika diberi ruang, potensi dan kreativitas mereka sungguh luar biasa.
 
Realitas inilah yang mendobrak hati Nurdini Prihastiti. Lewat brand fesyen Dama Kara, perempuan yang akrab disapa Dini ini membuktikan bahwa karya penyandang disabilitas layak melenggang ke panggung mode internasional.
 
Bukan sekadar wadah berekspresi, goresan imajinasi kawan-kawan difabel disulap menjadi fashion item kekinian yang bernilai ekonomi tinggi. “Saya berkomitmen membuat Dama Kara sebagai sebuah wadah penyandang disabilitas ini untuk bisa berkarya dan merangkul mereka. Kami percaya bahwa sejatinya berkarya itu tidak mengenal keterbatasan,” tutur Dini, pendiri Dama Kara sekaligus CEO Dama Kara Foundation dalam siaran persnya, Minggu, 9 Agustus 2026.

Musibah yang Menjadi Berkah

Menariknya, lahirnya ekosistem inklusif ini bermula dari sebuah tamparan keras. Lulusan Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat IPB University ini awalnya memiliki karier korporat yang mentereng.

Namun, krisis makna membuatnya resign dan pindah ke Bandung untuk mengambil S2 Administrasi Bisnis di ITB sekaligus merintis bisnis konveksi bersama suami. “Saya merasa dengan berbisnis, manfaat yang bisa saya berikan sepertinya akan lebih banyak. Dalam artian, saya bisa menciptakan lapangan pekerjaan untuk orang-orang di sekitar saya ataupun membuat bisnis yang memiliki manfaat lebih banyak lagi,” paparnya.
 
Sayangnya, realita bisnis tak semulus jalan tol. Badai besar menghantam ketika kapal yang membawa produk pesanan kliennya ludes terbakar di perairan Kalimantan.
 
Kerugian mencapai ratusan juta rupiah. Namun, di titik nadir itulah perspektifnya berubah total.
 
“Nah, di titik itu yang kemudian menyadarkan saya bahwa sebenarnya semua yang kita miliki ini titipan Tuhan. Akhirnya saya dan suami sepakat bahwa kita kayaknya kurang beramal. Kalau (pesanan) salah size atau kualitasnya kurang, kita bisa perbaiki. Tapi kalau barang terbakar di tengah laut, itu kan sesuatu yang di luar kuasa kami sebagai manusia,” ucapnya.
 
Momen spiritual ini melahirkan Dama Kara pada awal 2020. Awalnya, mereka memberdayakan perajin perempuan di Jawa Barat. “Harapannya ibu-ibu mendapat tambahan pendapatan,” kata Dini. Namun, panggilan hatinya membawanya merangkul kelompok yang lebih rentan: penyandang disabilitas.

Menyulap Imajinasi Menjadi Karya Adibusana

Terinspirasi dari Iris Grace, anak berkebutuhan khusus asal Inggris yang karya lukisnya mendunia, Dini akhirnya meluncurkan Dama Kara Foundation pada 2024. Bekerja sama dengan Our Dream Indonesia dan Art Therapy Center (ATC) Widyatama, Dini menggelar kelas gambar one-on-one gratis bagi difabel.
 
“Kami mendampingi mereka supaya mereka bisa, dari sekadar suka menggambar sampai akhirnya bisa dan menemukan kekhasan dari karya-karya mereka. Kami percaya bahwa sesuatu itu enggak datang secara instan. Kami hanya memastikan bahwa mereka memang enjoy,” ujarnya.
 
Dini sangat menyadari keterbatasan akses pendidikan formal bagi difabel yang mayoritas mentok di bangku SMA/SMK. “Setelah itu enggak ada ruang lagi untuk mereka berkontribusi. Akhirnya kami mencoba merangkul tidak ada batasan usia maksimum,” katanya.
 
Program ini sepenuhnya gratis alias disubsidi silang dari keuntungan bisnis Dama Kara. “Mereka tidak dipungut biaya sepeser pun. Dari proses seleksi sampai mereka berkarya, dari art fasilitator sampai alat-alat gambar, semuanya disediakan Dama Kara. Dari tiap koleksi di Dama Kara (yang terjual), kami sisihkan sebagian untuk men-support kelas teman-teman berkebutuhan khusus,” ungkap Dini.

Perjuangan Hidup dan Efek Bola Salju Kebaikan

Jiwa sociopreneur Dini tak jatuh dari langit. Ditinggal sang ayah sejak kelas 2 SMP, Dini kecil sudah terbiasa mandiri dan jualan demi membantu ekonomi keluarga.
 
“Kalau siang saya duduk di madrasah atau sekolah agama ada yang jajan, saya ngelihat, ‘wah, ini peluang untuk jualan’. Akhirnya saya minta modal ke bapak Rp5 ribu untuk saya belikan jajanan yang kemudian saya jual,” kenang Dini.
 
Semangat hustling ini terbawa hingga kuliah di IPB. “Jualan mungkin lebih ke hobi ya. Saya suka bertemu dan berinteraksi dengan orang. Toh, waktu itu akhirnya bisa menabung untuk membayar biaya kos. Selain hobi, ternyata bisa mengurangi pengeluaran,” katanya seraya tergelak.
 
Peka terhadap masalah sosial juga ia asah selama masa kuliah yang kerap mengharuskannya turun ke lapangan. “Kita menggali problem di masyarakat, kemudian membuat analisis dan mengusulkan program yang cocok. Kita coba melihat keseharian dan menemukan masalah utama yang sering kali berbeda dari yang mereka sampaikan,” ungkapnya.
 
Sadar akan kondisi finansial, Dini juga menjadi scholarship hunter. “Hampir setiap minggu saya melihat majalah dinding kampus yang menempel informasi tentang beasiswa,” ujarnya.
 
Perjuangannya berbuah manis saat ia menjadi awardee Tanoto Foundation. Momen inilah yang me- recharge empati sosialnya.
 
“Beasiswa Tanoto Foundation waktu itu sangat membantu. Bukan hanya memberikan SPP dan uang saku, tapi juga mengadakan kegiatan kepemimpinan yang dihadiri oleh banyak mahasiswa dari kampus-kampus lain,” tuturnya.
 
“Banyak yang terbantu oleh Tanoto Foundation. Bukan hanya saya, tapi ratusan bahkan ribuan teman-teman lain. Ketika kita dikumpulkan dan mendengarkan kisah-kisah penuh perjuangan, terlintas juga kapan saya bisa mulai berbagi kalau tidak dari sekarang,” ungkap Dini.
 
Kini, karya kolaborasi Dama Kara dan kawan-kawan difabel tak lagi dipandang sebelah mata. Produk fesyen mereka laris manis dipakai influencer hingga diekspor ke Singapura, Malaysia, Taiwan, dan Korea Selatan. Bahkan, wastra Nusantara berhias karya disabilitas ini sukses mejeng di Indonesia International Modest Fashion Festival (IN2MF) di Perancis dan Handarty Korea di Korea Selatan.
 
Meski sukses besar, Dini tetap membumi. Baginya, bisnis sejati adalah tentang seberapa besar impact yang dihasilkan.
 
“Sebuah bisnis akan terus ada selama dampaknya bisa dirasakan secara langsung oleh orang lain. Dama Kara saat ini terus berkembang dan bertumbuh karena teman-teman penyandang disabilitas juga membantu kita,” tandas Dini.
 
Buat Gen Z yang ingin memulai bisnis atau gerakan sosial, Dini berpesan agar tak perlu menunggu sempurna untuk mulai bergerak. “Jadi, coba untuk melihat sekeliling dan memberikan dampak dari hal-hal terkecil. Tidak perlu menunggu nanti, tidak perlu menunggu beberapa tahun lagi, tapi kita bisa memulainya sekarang. Start small and do your best,” pungkasnya.
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(CEU)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan