Ini bukan kali pertama Nadhia menempuh pendidikan tinggi dengan beasiswa. Sebelumnya, dia menempuh jenjang S1 hingga profesi di FKG Universitas Airlangga (Unair) melalui Beasiswa Bidikmisi dan lulus dengan predikat Cum Laude.
“Saya hanya diberi satu tiket dalam hidup, yaitu tiket pendidikan. Bukan tiket kelas utama, tapi satu-satunya yang saya genggam erat seperti nyawa kedua. Tiket ini membawa saya menjelajahi ruang-ruang yang dulu hanya bisa saya bayangkan,” tutur Nadhia dikutip dari laman unair.ac.id, Rabu, 23 September 2026.
Nadhia mengungkapkan alasannya ingin melanjutkan studi Regenerative Medicine berawal dari pengalamannya bertugas sebagai dokter gigi di daerah 3T, yakni Puskesmas Perawatan Tehoru, Maluku. Ia melihat tingginya ketergantungan fasilitas kesehatan pada material impor dan minimnya layanan medis di wilayah kepulauan.
“Maluku punya kekayaan biomineral laut yang besar. Saya ingin belajar bagaimana sumber daya lokal dapat dikembangkan menjadi biomaterial yang aman untuk rekonstruksi jaringan. Saya ingin membawa ilmu dan jejaring tersebut kembali untuk Indonesia Timur,” ujar dia.
Nadhia S Latuamury saat bertugas sebagai dokter gigi di daerah 3T, yakni Puskesmas Perawatan Tehoru, Maluku. DOK Unair
Perjalanan meraih beasiswa LPDP tidak selalu berjalan mulus. Nadhia berjuang di tengah keterbatasan fasilitas daerah terpencil dan pernah mengalami kegagalan pada tahap substansi sebelumnya. Namun, ia selalu memilih bangkit dan mempersiapkan diri, hingga akhirnya berhasil menjadi awardee LPDP.
“Saya belajar untuk menjadi gelas kosong, artinya berani untuk mengakui belum tahu, menerima kritik tanpa defensif, serta bersedia untuk learn, unlearn, dan relearn. Saya juga belajar dari kesalahan, melepas cara belajar yang tidak efektif dan mencoba pendekatan baru yang lebih sesuai,” ungkap dia.
Nadhia mengatakan keberhasilannya hari ini tidak hanya hasil dari usahanya, melainkan berkat kepercayaan dan dukungan keluarga serta orang terdekatnya dalam memberinya ruang untuk bermimpi, mengambil risiko, dan memperjuangkannya.
Kini, dia telah ditetapkan sebagai penerima Beasiswa LPDP dan menjalani proses pendaftaran ke universitas tujuan di Eropa. Bagi dia, kesempatan tersebut bukan hanya pencapaian akademik, namun langkah untuk membangun kapasitas diri untuk dibawa kembali ke Indonesia.
“Saya belum sampai pada tujuan akhir. Saya baru saja mendapatkan kesempatan dalam memulai tahap berikutnya yakni belajar di lingkungan untuk meningkatkan kapasitas dan jejaring, suatu hari nanti saya akan pulang untuk berkontribusi bagi Maluku dan Indonesia Timur,” ucap dia.
Nadhia memberi pesan bagi mahasiswa yang sedang berjuang di tengah keterbatasan. “Not everyone is born with a silver spoon. Jangan biarkan kondisi finansial hari ini menentukan seberapa besar Anda berani bermimpi. Bermimpilah dulu, lalu cari jalannya. Anak dari daerah 3T pun berhak belajar di tempat terbaik dunia,” pesan dia.