Mahasiswa peserta UCJ Selling Day. Foto: Medcom/Citra Larasati
Mahasiswa peserta UCJ Selling Day. Foto: Medcom/Citra Larasati

'Ospek' Antimainstream! Langsung Cetak Cuan di Hari Pertama Jadi Maba UC Jakarta

Citra Larasati • 13 September 2026 19:14
Ringkasnya gini..
  • Mahasiswa baru Universitas Ciputra Jakarta ciptakan Sanve, spray antibakteri di Selling Day Taman Literasi.
  • Fergie Brittany buktikan maba bisa langsung bangun bisnis sejak day one kuliah lewat inovasi fabric spray.
  • Kampus ini ajarkan Gen Z berbisnis sejak masa ospek. Simak kisah inspiratif di balik lahirnya inovasi Sanve!
Jakarta: Sejak pagi, Taman Literasi Martha Christina Tiahahu di kawasan Blok M, Jakarta Selatan sama seperti akhir pekan lainnya, riuh dengan energi muda yang meluap-luap. Meski hari itu, ada yang tak biasa, tampak deretan booth berdiri rapi menawarkan ragam produk kreatif.

Dari sekian banyak wajah antusias di balik meja pajangan, ada sosok Fergie Brittany dan Fadlan. Keduanya bukan pedagang biasa, melainkan mahasiswa baru (maba) yang tengah menjalani masa orientasi studi dan pengenalan kampus (Ospek) di Universitas Ciputra Jakarta. 

Di tangan Fergie, sebuah botol spray mungil berdesain minimalis dan modern terus disemprotkan ke udara, mengeluarkan aroma lavender dan tea tree yang menenangkan. Produk itu bernama Sanve, sebuah antibacterial fabric spray. Siapa sangka, produk bernilai jual ini lahir dari sebuah tugas orientasi kampus yang harus diselesaikan dalam waktu satu pekan.

Bagi sebagian besar mahasiswa baru di Indonesia, masa ospek mungkin identik dengan mendengarkan seminar berjam-jam atau menghafal yel-yel. Namun, bagi mahasiswa Universitas Ciputra Jakarta, ospek adalah hari pertama mereka terjun ke medan pertempuran bisnis yang sesungguhnya.

Menjadi wirausahawan sejak hari pertama kuliah bukanlah sekadar slogan, melainkan realitas yang harus mereka jalani sebagai pembelajar.

UCJ 2
Produk Sanve karya mahasiswa UC Jakarta di Selling Day. Foto: Medcom/Citra Larasati

Kampus Memberi Tantangan

Ide pembuatan Sanve bermula dari tantangan spesifik yang diberikan oleh kampus Fergie dan kawan-kawan timnya. "Kita pilih ini, ini kan juga orientasi dari kami. Setiap kelompok itu kita dapet kategori. Kita dapet kategorinya itu active and wellness," tutur Fergie dengan mata semangat menceritakan cikal bakal produknya.

Bagi Fergie dan kesembilan rekan satu timnya, kategori tersebut memicu sebuah observasi tajam terhadap kaum urban Jakarta. "Active and wellness itu kan selalu identik sama olahraga. Kita itu mau mencari market yang mungkin orang-orangnya lebih banyak dibanding orang-orang yang berolahraga, which is orang-orang yang berkata lebih besar lah, which is orang-orang yang pakai transportasi umum, jalan kaki, yang setiap hari kena panas. Tapi orang-orang olahraga juga bisa pakai," jelasnya.

Dari pengamatan itulah, solusi praktis tercipta. "Akhirnya kita kepikiran untuk bikin antibacterial fabric spray. Untuk ngilangin bau di baju, helm, sepatu. Kita itu base-nya essential oil," lanjut mahasiswi jurusan Fashion Design ini.

Menariknya, Sanve diracik bukan sekadar untuk menutupi bau dengan wangi-wangian yang menyengat, melainkan membunuh akar masalahnya, yakni bakteri. "Essential oil, terus kita pakai alkohol juga yang membunuh bakteri. Benar-benar tujuan kita itu menghilangkan bau. Bau wangi dari lavender dan tea tree itu sebenarnya bonus menurut kita," ungkap Fergie.

Fergie sangat memahami para komuter Jakarta yang kerap berdesakan di transportasi umum. Ia memberikan edukasi langsung kepada pengunjung booth-nya tentang tata cara memakai produk tersebut agar efektif.

"Karena kita juga menganjurkan orang untuk pakai si fabric spray ini sebelum pakai parfum, biar orang nggak nabrak nih antara bau keringat sama bau parfum. Itu buat orang yang jalan kaki tiap hari, naik kereta, KRL, MRT, naik Gojek, udah apa sih kan keringatan? Nyampe kantor, udah nggak enak baunya, semprot parfum, baunya malah tabrak lari. Jadi mendingan jangan, semprot ini dulu baru pakai parfum," sarannya.

Penggunaan Sanve pun didesain sangat serbaguna. "Buat yang habis olahraga, ganti baju olahraga, biasanya dilipat, masukin tas, ganti, semprot dulu. Biar tasnya nggak bau keringat dan nggak bau. Yang mau naik gojek online, semprot dulu di helm. Yang habis olahraga atau yang mau, yang biasanya kakinya beraroma, pagi-pagi sebelum pergi berkegiatan, semprot dulu. Jadi memang tujuan utama kita membunuh bakteri untuk menghilangkan bau," terang Fergie.

Selesai dalam satu minggu

Perjalanan menciptakan Sanve tentu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Dalam waktu yang sangat terbatas, tim yang terdiri dari mahasiswa lintas jurusan ini harus berjibaku layaknya tim Riset dan Pengembangan (R and D) profesional.

"Karena kita juga harus mencari komposisi yang tepat, supaya semprotannya ini nggak terlalu lama basah di badan. Karena kalau terlalu lama basah di badan, jadi lembek. Tapi kita juga nggak mungkin pakai alkohol yang kebanyakan, karena itu kan diritasi kulit. Jadi memang kita waktu itu agak lamanya nyarinya di komposisi," kenang Fergie.

Ketika ditanya berapa lama waktu riset dari nol hingga produk jadi, jawabannya cukup mencengangkan. "Karena ini tugas kuliah, jadi kita memang mendapat waktu sekitar seminggu. Cuman memang kita ngerjain tugasnya lumayan agak palu gada (apa lu mau gua ada)," kata Fergie.

Status mereka yang masih bergelar "maba" pun menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung Taman Literasi.  Kerja sama tim berisi 10 anggota dengan latar belakang jurusan yang beragam.

Mulai dari Fergie (DKV - Fashion Design) hingga Fadlan (IBM - Communication Business Management) menjadi kunci keberhasilan mereka di tahap awal ini. Pembagian tugas dilakukan layaknya perusahaan start-up sungguhan. "Emang dari awal kita udah disuruh kebagian tugas siapa yang pegang bagian desain logo-nya, packaging-nya, siapa yang customer research. Produksi. Tapi akhirnya kita semuanya jadi yang saling ngebantu aja sih," kata Fergie.

Magnet Utama Memmilih UC Jakarta

Bagi Fergie yang sebelumnya sudah pernah mencicipi dunia kerja, budaya entrepreneurship yang kuat inilah yang justru menjadi magnet utama baginya memilih Universitas Ciputra. Terlebih dari dunia kerjanya sebagai seniman ini juga ia menyadari ada jurang yang cukup lebar antara kemampuan menciptakan karya (seni/desain) dengan kemampuan menjualnya.

"Betul, karena setelah aku berapa lama, aku kan juga udah ngerasain kerja ya. Setelah berapa lama aku kerja, aku juga sebenarnya itu senang di desain atau art. At the end of the day, kalau misalnya kita bisa membuat sesuatu, desain atau art, tapi tidak dijual itu hanya hobi. Tapi kalau kita mau menjadikan itu sumber untuk pemasukan, kita harus tahu cara menjualnya," ujarnya.

Kini, dengan respons pasar yang sangat positif, terjual hingga 100 botol lebih di hari pertama, Sanve tidak akan berhenti hanya sebagai tugas ospek. Benak wirausahawan Fergie sudah melompat jauh ke depan.

"Next-nya itu kita pengen kembangin. Kalau ini kan hanya untuk antibakteri, kita tuh pengen bikin spray yang bisa ngebunuh kayak enzim, atau acid, kayak misalnya buat bau apek. Bau apek itu kan bukan bakteri. Terus misalnya buat orang yang punya anabul, terus misalnya ada bekas pipis, ada kotoran-kotorannya, itu kan ada baunya kan bukan pure bakteri, itu kan asam kan?" tuturnya semangat.

Lebih dari Sekadar Ospek

Kisah Sanve adalah satu dari sekian banyak potret keberhasilan kurikulum Real Business Experience yang diusung oleh Universitas Ciputra Jakarta. Melalui acara "Selling Day" yang menjadi bagian dari rangkaian O-Week (Orientation Week) 2026, ratusan mahasiswa baru ditantang untuk merancang, memproduksi, dan memasarkan produk secara langsung melalui 20 tenant dengan beragam konsep bisnis, mulai dari F and B, Creative, Lifestyle, Hobby, Wellness Active, Creator, hingga Learning.

Campus Director Universitas Ciputra Jakarta, Prof. Christina Eviutami Mediastika, S.T., Ph.D., yang turut hadir memantau jalannya acara, menegaskan bahwa semangat kewirausahaan telah menjadi DNA pendidikan di kampusnya. Mahasiswa tidak dibiarkan menunggu hingga lulus atau menyusun skripsi untuk belajar berbisnis; mereka harus terjun ke pasar sejak langkah pertama mereka memasuki gerbang kampus.

"Dalam Selling Day ini, mahasiswa baru belajar menemukan peluang, menciptakan nilai, berkolaborasi dalam tim, hingga menawarkan produk kepada konsumen. Inilah wujud nyata pembelajaran entrepreneurship yang kami terapkan sejak day one," ujar Christina.

Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa institusinya memiliki komitmen kuat untuk melahirkan lulusan tangguh. "Kami berkomitmen melahirkan lulusan yang tidak hanya berjiwa entrepreneur, tetapi juga memiliki integritas, profesionalisme, dan mampu memberikan dampak positif bagi masyarakat."

Seiring matahari yang mulai terbenam di ufuk barat Blok M, Taman Literasi makin padat oleh warga ibu kota. Di salah satu sudutnya, sekumpulan anak muda berusia belasan tahun sibuk menghitung omzet hari pertama mereka.

wajah lelah, namun sorot mata yang menyala. Hari ini, mereka bukan sekadar mahasiswa baru yang berpeluh menjalani ospek. Hari ini, mereka resmi menjadi wirausahawan dan bagi mereka, ini baru permulaan.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(CEU)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan