Ketua Dewan Etik Perhimpunan Survei Opini Publik (Persepi) Hamdi Muluk.Foto: MI/Adam Dwi
Ketua Dewan Etik Perhimpunan Survei Opini Publik (Persepi) Hamdi Muluk.Foto: MI/Adam Dwi

Hamdi Muluk Nilai Banyak Logika Salah soal Survei

Pemilu pilpres 2019 pemilu serentak 2019
Lukman Diah Sari • 20 April 2019 18:11
Jakarta: Ketua Dewan Etik Perhimpunan Survei Opini Publik (Persepi) Hamdi Muluk mengungkap, saat ini ada logika yang salah beredar perihal survei. Yakni, makin banyak sampel maka semakin bagus hasil survei.
 
“Misal, kami sudah kumpulkan ratusan ribu TPS. Bukan dari jumlahnya yang banyak, tapi random. Kalau dari 200 ribu TPS dari basis pendukung saya, menang lah saya. Jangan membuat komentar memperlihatkan kebodohan kita,” jelas Hamdi dalam acara Expose Data Hasil Quick Count Pemilu 2019 di kawasan Kebon Sirih, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu, 20 April 2019.
 
Hamdi mengingatkan, mestinya Indonesia sebagai masyarakat knowledge society harus menjunjung tinggi ilmu pengetahuan. Dia mengaku bingung mengapa politisi bisa anti-ilmu pengetahuan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


“Padahal saya ingin Indonesia seperti negara lain yang mendasari pada science,” ucapnya.
 
Tapi, kata Hamdi, hasil hitung resmi yang akan diumumkan Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada tanggal 22 Mei akan menemui kebenaran. Hamdi mengimbau untuk pihak yang kerap menghujat dan memprovokasi untuk berhenti.
 
“Kalau orang teriak pemilu curang, sudah ricuh dari kemarin. Kalau ada ketidaksempurnaan seperti logistik belum siap, ada tenaga KPPS nakal toh sudah dilaporkan ke Bawaslu,” ungkapnya.
 
Saat ini, kata dia, lebih baik mengapresiasi kinerja KPU, Polri, dan TN. Lantaran, Pemilu telah berjalan aman dan damai. Bahkan, kata dia, partisipasi masyarakat tinggi untuk memberikan hak pilih.
 
Baca:Quick Count Disebut Tidak Berbohong
 
“Tinggal sekarang kelegaan, legawa, dari politisi yang terlibat pemilu untuk meredam jangan memprovokasi ke bawah, menuduh, people power kemarin sudah selesai kemarin, itu lewat coblos, itu people power,” tegasnya.
 
Masyarakat juga diminta untuk menghargai ilmu pengetahuan, sehingga menjadi bangsa yang sehat. Diharap, tidak ada yang memungkiri hasil ilmu pengetahuan.
 
“Realita ini penyakit psikologis serius. Sudah jelas barang A diingkari B. Mudah-mudahan kita selamat dari penyakit ini,” tandasnya.
 

(DMR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

MAGHRIB 17:47
DOWNLOAD JADWAL

Untuk Jakarta dan sekitarnya

  • IMSAK04:26
  • SUBUH04:36
  • DZUHUR11:53
  • ASHAR15:14
  • ISYA19:00

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif