Politikus Partai Demokrat Andi Arief - MI/Bary Fathahilah.
Politikus Partai Demokrat Andi Arief - MI/Bary Fathahilah.

Andi Arief: Demokrat Disalahkan Atas Kekalahan Prabowo

Pemilu pilpres 2019 Prabowo-Sandi
Arga sumantri • 07 Juni 2019 15:43
Jakarta: Politikus Partai Demokrat Andi Arief merasa partainya disalahkan atas kekalahan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno di Pilpres 2019. Bukan hanya Demokrat, Andi menyebut Ketua Umum Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Ketua Komando Satuan Tugas Bersama (Kogasma) Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) juga ikut disalahkan.
 
"Pasangan 02 deklarasi capres-cawapres tanpa melibatkan Partai Demokrat, SBY dan AHY. Artinya, merasa kuat dan punya perhitungan sendiri untuk menang. Dalam kenyataannya kalah terpuruk, malah menyalahkan Partai Demokrat, SBY dan AHY. Ngambek pada kekuatan yang tidak dilibatkan," kata Andi melalui akun twitternya @AndiArief_, Jumat, 7 Juni 2019.
 
Andi menyebut Demokrat, SBY, dan AHY, tak dilibatkan dalam deklarasi lantaran berpandangan Prabowo tak berpeluang menang bila berpasangan dengan Sandi. Hal ini disebut Andi merujuk hasil survei yang ada. Demokrat menyarankan Prabowo mencari cawapres lain agar lebih berpeluang menang.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Tidak ada pandangan subjektif pada Sandi Uno dari Partai Demokrat, SBY dan AHY. Berdasarkan survei saat itu, Sandi Uno teridentifikasi politik SARA, sehingga sulit menang di Jateng dan Jatim yang pemilihnya besar. Pak Prabowo keras kepala dan meninggalkan Demokrat. Kini terbukti," lanjutnya.
 
(Baca juga:Demokrat Semakin Tak Nyaman di Koalisi Prabowo)
 
Ia melanjutkan, meski tidak yakin dengan kemenangan Prabowo-Sandi, Demokrat tetap berupaya mencari jalan yang benar agar paslon 02 menang di Pilpres. Menurut Andi, Demokrat berkali-kali mengusulkan sesuatu yang positif, namun selaku ditolak oleh kubu Prabowo-Sandi.
 
"Kawan yang baik adalah yang mengajarkan hal benar," ucap dia.
 
Ia menambahkan, situasi ini harus menjadi pelajaran bagi semua pihak yang akan ikut kontestasi Pilpres agar memerhatikan survei sebagai alat bantu kemanangan. "Punya uang banyak namun survei tidak berpeluang dalam level pilpres jangan memaksakan diri," ketus Andi.
 
Andi menyebut ada hal yang ingin dia ungkapkan soal alasan Prabowo memaksakan memilih Sandi. Namun, ia menilai hal itu tak elok untuk disampaikan.
 
"Biarlah itu menjadi rahasia Partai Demokrat, SBY dan AHY. Namun sejarah mencatat bahwa Partai Demokrat, SBY dan AHY sudah menunjukkan jalan menang namun ditolak Pak Prabowo," ujarnya.
 
Yang jelas, lanjut Andi, Pileg dan Pilpres sudah selesai. Komisi Pemilihan Umum (KPU) pun sudah menyatakan pasangan Joko Widodo-Ma'ruf Amin menang, dan tinggal menunggu putusan Mahkamah Konstitusi.
 
"Partai Demokrat bukan anak buah koalisi, karena bukan fusi. Sehingga apa yang menjadi arah politik Partai Demokrat sepenuhnya hak kami. Demikian," pungkas dia.
 

 

(REN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif