Pemilih menunjukkan tinta di jarinya seusai pencoblosan di TPSLN Moskow. Foto: MI/Panca Syurkani.
Pemilih menunjukkan tinta di jarinya seusai pencoblosan di TPSLN Moskow. Foto: MI/Panca Syurkani.

Pemilu Indonesia Bisa Jadi Panutan Negara Lain

Pemilu pemilu serentak 2019
M Sholahadhin Azhar • 23 April 2019 15:14
Jakarta: Tingkat partisipasi masyarakat di Pemilihan Umum (Pemilu) 2019 sebesar 80 persen melewati target Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang hanya 77 persen. Capaian ini menjadi sebuah prestasi bagi Indonesia.
 
"Suatu angka yang dapat menjadi model bagi sebuah negara demokrasi yang menjadikan memilih sebagai hak dan bukan kewajiban bagi warganegara," ujar Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas) Letjen (Purn) Agus Widjojo di kantornya, Selasa, 23 April 2019.
 
Indonesia dengan kondisi wilayah kepulauan sukses melaksanakan pemilu serentak dalam waktu satu hari. Cakupan wilayah yang luas dan aspek geografis juga tak menghambat pelaksanaan pesta demokrasi lima tahunan itu.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Lazimnya, kata Agus, partisipasi dalam negara demokrasi berkembang seperti Indonesia berkisar 60 persen. Namun, Indonesia mampu mendongkrak hal tersebut hingga 80 persen lebih.
 
Tenaga Profesional Bidang Ketahanan Nasional Dadan Umar Daihani melihat beberapa aspek yang memengaruhi hal ini. Selain sistem pemilu yang dibuat serentak, derbi antara calon presiden (capres) Joko Widodo dan Prabowo Subianto terbukti menyedot animo masyarakat.
 
"Kalau tanding ulang itu pasti ramai dan semua akan tercurah dalam kejadian seperti itu," kata Dadan.
 
Disamping itu, ia melihat kemeriahan juga diciptakan oleh kampanye siber pemilu. Media sosial dijadikan motor kampanye dengan tingkat partisipasi tak terbatas. Semua pihak bisa 'nyemplung' di dalam medium itu.
 
Dampaknya, kata Dadan, tsunami informasi tumpah ruah di sana. Hal ini disambut oleh masyarakat melalui media sosial bahkan jejaring percakapan seperti WhatsApp. Dadan melihat hal ini perlu disyukuri sekaligus diwaspadai.
 
Dia mengingatkan tak semua informasi yang beredar bisa dibenarkan. Tak jarang informasi-informasi tersebut merupakan hoaks yang sengaja didesain. "Ini yang mungkin barangkali sosialisasi dan kedewasaan kita bisa menangkap seperti itu.”
 
Baca: Publik Diminta Tak Khawatir soal Pemindahan Brimob
 
Namun demikian, ia beranggapan Pemilu 2019 berjalan kondusif dipandang dari aspek ketahanan. Buktinya, stabilitas di Indonesia bisa tetap dijaga tanpa ada letupan konflik dan semacamnya.
 
Yang perlu diwaspadai, kata dia, yakni penggunaan internet salah kaprah. Pasalnya, sejatinya, media sosial digunakan sebagai wadah kontes kecantikan. Sementara itu, yang terjadi malah kebalikannya.
 
"Harusnya dalam beauty contest itu adalah how beauty Iam tapi kemudian dalam media sosial ramainya ada how ugly you are. Ini yang kemudian meramaikan dalam situasi seperti itu," jelas Dadan.

 

(OGI)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

MAGHRIB 17:47
DOWNLOAD JADWAL

Untuk Jakarta dan sekitarnya

  • IMSAK04:26
  • SUBUH04:36
  • DZUHUR11:53
  • ASHAR15:14
  • ISYA19:00

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif