Pengamat politik Denny JA. Foto: Medcom.id/Kautsar Widya Prabowo.
Pengamat politik Denny JA. Foto: Medcom.id/Kautsar Widya Prabowo.

Empat Buku Denny JA Merekam Pilpres 2019

Pemilu pilpres 2019
29 Juni 2019 12:28
Jakarta: Putusan Mahkamah Konstitusi menutup rangkaian panjang perhelatan Pilpres 2019. Namun dinamika opini publik sepanjang pilpres itu tetap dapat dirasakan kembali.
 
Pengamat politik Denny JA dan Lingkaran Survei Indonesia merekam dinamika Pemilu Presiden 2019 itu ke dalam empat buku. Pertama, Denny JA merekam opini publik yang diperoleh melalui survei nasional.
 
LSI Denny JA melakukan 10 kali survei dalam kurun waktu Juli 2018-April 2019. Ada berbagai temuan penting yang terangkum dari perhelatan pesta demokrasi tersebut. Antara lain, LSI Denny JA menyatakan reuni 212 ternyata tak banyak berpengaruh, atau program populis Jokowi seperti kartu pintar dan sertifikat tanah gratis membuat Jokowi unggul telak pada pemilih wong cilik. Buku ini berjudul Mendengar Opini Publik.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Denny JA juga merangkum meme politik selama Pilpres 2019. Total ada 500 meme politik. "Hampir setiap hari membuat sekitar tiga meme politik merespons situasi. Meme politik itu tak hanya berisi celotehan, olok-olok, tapi juga perspektif yang bisa mem-framing kejadian aktual. Buku ini berjudul Katakanlah dengan Meme," ujar Denny dalam keterangan tertulisnya, Sabtu, 29 Juni 2019.
 
Denny juga rajin mengulas dan memberi penjelasan situasi pilpres mutakhir. Ada 70 tulisan mengenai data, teori dan sentimen untuk mengulas pilpres. Mayoritas tulisan berbentuk esai.
 
Ada pula respons atas situasi politik yang dituliskan dalam bentuk puisi dan cerpen. Buku ini diberi judul, Merenungkan Pemilu Presiden.
 
Menurut Denny, pilpres seharusnya juga menjadi panggung pertarungan gagasan. Denny menuliskan esai soal NKRI bersyariah atau ruang publik yang manusiawi. Hal itu untuk merespons gagasan yang diusung reuni 212.
 
"Negara di dunia barat lebih Islami dibandingkan negara Islam di Timur Tengah. Data itu sudah dimapankan dalam Islamicity Index. Apa yang Islami itu sebenarnya juga apa yang manusiawi. Substansi lebih penting ketimbang label," ujar dia.
 
Baca:Gerindra Dinilai Bisa Jadi Duri Dalam Daging di Kabinet
 
Denny mengatakan semua negara Eropa yang lebih Islami menerapkan demokrasi dan hak asasi manusia, bukan sistem dengan syariat agama. Esai Denny mendapatkan respons hangat dari 21 pakar. Antara lain, pakar hukum tata negara Yusril Ihza Mahendra, cendekiawan muslim Komaruddin Hidayat, cendekiawan muslim Azyumardi Azra, aktivis Nursyahbani Katjasungkana, sejarahwan LIPI Asvi Warman Adam.
 
Atas dasar itu, Denny membuat buku berjudul, NKRI Bersyariah atau Ruang Publik Yang Manusiawi.
 
Di samping itu, LSI Denny JA merekam dinamika opini publik Pilpres 2019 dalam bentuk video Youtube. Video itu pun diklaim viral dengan viewers sekitar 1 juta.
 
Dalam Youtube itu, Denny menjelaskan dari hasil survei, publik menginginkan lahirnya pemerintahan yang kuat untuk menumbuhkan ekonomi.
 
Selain itu, persatuan Indonesia harus dihidupkan kembali karena Pilpres 2019 cukup membelah masyarakat.
 
"Memang Pilpres 2019 yang paling membelah. Karena itu dinamika pilpres 2019 layak diabadikan dalam empat buku, untuk menjadi pelajaran generasi mendatang," pungkas dia.
 

(AZF)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif