Presiden Joko Widodo (tengah) berbincang dengan Ketua MPR Zulkifli Hasan (kiri)--Antara/Puspa Perwitasari
Presiden Joko Widodo (tengah) berbincang dengan Ketua MPR Zulkifli Hasan (kiri)--Antara/Puspa Perwitasari

Peluang PAN 'Balik Badan'

Pemilu penghitungan suara pilpres 2019 pemilu serentak 2019
K. Yudha Wirakusuma, Arga sumantri, Whisnu Mardiansyah • 26 April 2019 18:02
Jakarta: Tak ada kawan dan lawan abadi, yang ada adalah kepentingan abadi. Itulah bagian dari strategi politik. Usai pencoblosan, kondisi politik kian mencair. Ini dibuktikan oleh pernyataan yang di lontarkan Wakil Ketua Umum PAN Bara Hasibuan. Dia mengisyaratkan kemungkinan partai berlambang matahari ini 'balik badan' meninggalkan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.
 
Bara ingin buru-buru mengubur tensi panas pemilu dengan mengatakan pemilu sudah selesai. Seolah-olah mengamini berbagai hasil hitung cepat pilpres yang dilakukan berbagai lembaga survei.
 
"Yang jelas kita akan melihat posisi kita lagi," singkat Bara di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Kamis 25 April 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Bara memang dikenal condong kepada pasangan calon nomor urut 01 Joko Widodo-Ma'ruf Amin. Dia terang-terangan memberikan dukungan terhadap pasangan ini.
 
Tawa Zulkifli Hasan
 
Sayup-sayup terdengar gelak tawa Presiden Joko Widodo dengan Ketua MPR yang juga Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Zulkifli Hasan. Sesekali keduanya berbincang. Momentum tersebut terjadi usai pelantikan gubernur dan wakil gubernur Maluku di Istana Negara, Jakarta, Rabu, 24 April 2019.
 
Selain Jokowi, tampak Sekretaris Jenderal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Hasto Kristiyanto, Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh, dan Sekretaris Kabinet Pramono Anung.
 
Baca: PAN Isyaratkan Tinggalkan Prabowo Subianto
 
Zulkifli pun memberikan pernyataan saat ditanya soal percakapan renyahnya dengan koalisi kubu 'seberang'. "Pemilu terlalu lama sampai delapan bulan. Habis energi kita. Masa berantem disuruh undang-undang sampai delapan bulan," tandasnya.
 
Gayung pun bersabut. Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto buru-buru mengomentari pernyataan Bara Hasibuan.
 
Baca: Partai Berubah Haluan Setelah Pilpres Biasa Terjadi
 
Menurut Hasto, merapatnya lawan politik di pemerintahan bukan barang baru. Namun, dia menyerahkan semua keputusan kepada Joko Widodo. Kebijakan yang diambil Jokowi bakal lebih dulu dikonsultasikan kepada para ketua umum partai politik pengusung.
 
Jauh sebelum pencoblosan, tak sedikit kader PAN yang terang-terangan. Di antaranya Ketua Harian Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) PAN Sulawesi Tenggara Kerry Syaiful Konggoasa, belasan kader dan simpatisan Partai Amanat Nasional(PAN) di Maluku, dan Wakil Ketua Umum DPP Partai Amanat Nasional (PAN) Bima Arya.
 
Menyeberangnya PAN
 
Pada 2014, PAN bergabung dalam Koalisi Merah Putih bersama Gerindra, PKS, PPP, dan Golkar. Saat itu PAN menjadi pendukung pasangan calon presiden Prabowo Subinanto dan Hatta Rajasa. Namun, usai pilpres PAN menyeberang bersama dua parpol lainnya yaitu Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan Golkar.
 
Arah dukungan berubah seiring dengan pergantian ketua umum PAN. Deklarasi resmi dikumandangkan lewat mulut Zulkifli Hasan. Di Istana Negara, PAN mendeklarasikan diri sebagai partai pendukung pemerintah Jokowi-JK. Tepatnya pada 2 September 2015.
 
"Kami menyatakan PAN bergabung dengan pemerintah. Jika sebelumnya mendukung, kini bergabung untuk menyukseskan program-program pemerintah," kata Zulkifli yang didampingi Ketua MPP PAN Sutrisno Bachir dan Sekjen PAN Eddy Soeparno.
 
Lebih kurang setahun, dalam perombakan kabinet atau reshuffle jilid II, Jokowi memberikan kursi kepada PAN dan Golkar. PAN pun menempatkan Asman Abnur di pos Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi. Asman masuk ke kabinet kerja Jokowi sejak 27 Juli 2016.
 
Hampir dua tahun di kabinet, PAN mengubah haluan. PAN mengakhiri kesetiannya bersama Jokowi. PAN kembali menyeberang. Merasa partainya tak seirama dengan pemerintah, Asman Abnur mundur.
 
Petualangan PAN kemudian berlabuh di koalisi Adil Makmur, mengusung Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno. Kemudian, apakah PAN memiliki peluang menyeberang? Kita tunggu saja manuver selanjutnya.
 

(YDH)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif