Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh. (Foto: Medcom.id/Arga Sumantri)
Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh. (Foto: Medcom.id/Arga Sumantri)

Pemilu 2019 Milik NasDem

Pemilu partai nasdem
Arga sumantri • 26 April 2019 05:00
Jakarta: Bergerak tenang, Partai NasDem berhasil menarik perhatian publik dalam perhelatan Pemilu 2019. Partai yang baru berusia tujuh tahun serta baru dua kali mengikuti pemilu itu sukses menjadi partai dengan peningkatan elektoral paling signifikan dari Pemilu 2014 dibandingkan partai lain.
 
Sekadar catatan, pada Pemilu 2014 NasDem masuk ke parlemen dengan elektabilitas 6,7 persen. Kini, berdasarkan data yang ada di laman Komisi Pemilihan Umum (KPU), NasDem berhasil melesat menjadi empat besar partai peraih suara terbanyak dengan elektabilitas sebesar 10,28 persen. Catatan ini meningkat sekitar 3,5 persen dibandingkan dengan Pemilu 2014.
 
Keberhasilan NasDem meningkatkan elektabilitas dalam Pemilu kali ini tidak terlepas dari kerja keras dan investasi jangka panjang baik dilakukan kader maupun Ketua Umum, Surya Paloh. Sejak awal, NasDem konsisten menerapkan politik tanpa mahar serta total memberikan dukungan kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Pakar politik dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Adi Prayitno menilai Pemilu 2019 secara tidak langsung dimiliki NasDem. Ketika partai-partai lain gagal mendongkrak perolehan suara di Pemilu 2019, perolehan suara NasDem justru melonjak. PDI Perjuangan sebagai partai peraih suara terbanyak di Pileg kali ini pun hanya meningkatkan suara sebesar satu persen dibandingkan dengan Pemilu 2014.
 
"Suka tidak suka, Pemilu 2019 ini sebetulnya milik NasDem. Dari 2014 yang cuma 6,7% menjadi 10% berdasarkan penghitungan riil sementara dari Komisi Pemilihan Umum (KPU)," kata Adi saat dikonfirmasi di Jakarta, Kamis, 25 April 2019.
 
Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia menuturkan, setidaknya ada sejunlah faktor yang membuat NasDem mampu meraih hasil positif dalam Pemilu 2019. Misalnya, sikap politik tanpa mahar, penentuan caleg tiap daerah pemilihan, serta konsistensi NasDem sebagai partai pendukung pemerintahan Joko Widodo.
 
"Ini tidak terlepas dari berkah NasDem yang sejak awal menjadikan Jokowi sebagai brand yang terus dijaga NasDem sejak awal. NasDem sama sekali tidak khawatir mengusung Jokowi meskipun berisiko suara pemilih disedot oleh PDIP," tutur dia.
 
NasDem memang serius menatap Pemilu 2019. Ini bisa terlihat dari cara NasDem memilih caleg-caleg berkualitas untuk bertarung di setiap daerah pemilihan (dapil). NasDem mengusung caleg yang berpotensi besar menang di tiap dapil. Tidak adanya mahar politik, menjadi magnet bagi para politikus menjadikan NasDem kendaraan politik mereka.
 
"Banyak juga caleg yang sukarela pindah ke NasDem untuk maju bersama NasDem. Mulai dari kepala daerah, mantan kepala daerah maupun para caleg petahana dari partai lain. Itu artinya NasDem memiliki satu daya tarik sebagai kendaraan politik di mata politisi," papar dia.
 
Dari 575 caleg DPR yang diusung NasDem, 50 caleg di antaranya meruoakan petahana. Artinya, mereka ialah orang yang telah punya basis massa pada Pemilu 2014. Sebanyak 15 dan 50 caleg petahana itu juga merupakan pindahan dari partai lain.
 
NasDem mendapat setidaknya tujuh caleg petahana dari Hanura, partai yang dilanda konflik internal awal tahun lalu. Selain itu, sejumlah mantan kepala daerah juga maju sebagai caleg dari NasDem.
 
Peneliti LSI Denny JA, Ikrama Masloman mengatakan para caleg petahana dan mantan kepala daerah yang bergabung ke NasDem memiliki modal sosial besar. Mereka terbukti telah lolos ke DPR atau memenangkan pemilihan kepala daerah (Pilkada) sebelumnya.
 
"Kenaikan suara NasDem dipengaruhi pemilihan caleg petahana, termasuk dari partai lain, dan mantan kepala daerah," tutur Ikrama.
 
Ikrama menilai, kampanye politik tanpa mahar yang diusung NasDem cukup banyak dibicarakan. Secara tidak langsung, mirip dengan program anti poligami ala Partai Solidaritas Indonesia (PSI) atau janji pemberlakuan surat izin mengemudi (SIM) seumur hidup yang dikampanyekan Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Program itu, meskipun menuai kontroversi, namun banyak dibicarakan publik jelang Pemilu 2019.
 

(SCI)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif