Jakarta: Kubu Prabowo Subianto-Sandiaga Uno sengaja menyebut pemerintahan Joko Widodo gagal demi menggiring opini publik. Peneliti Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA, Ardian Sopa, memandang itu menjadi strategi memenangi Pilpres 2019.
"Kita bisa melihat mengapa dia melakukan itu karena memang penantang akan menang kalau masyarakat menilai bahwa pemerintahan sekarang ini gagal," tutur Ardian di Graha LSI, Rawamangun, Jakarta Timur, Selasa, 27 November 2018.
Baca: 56,8% Masyarakat Puas Kinerja Ekonomi Pemerintah
Politik ketakutan kerap kali digunakan. Salah satunya, Prabowo mengutip novel
Ghost Fleet. Berdasarkan teks itu, calon presiden nomor urut 02 tersebut menyatakan Indonesia bakal bubar 2030.
"Sehingga memang
politics of fear itu yang dimunculkan bahwa sekarang ekonomi susah, Indonesia terancam bubar dan sebagainya," beber Ardian.
Sayangnya, terang Ardian, politik ketakutan itu tak berefek. Isu negatif itu belum terdengar menyeluruh ke publik. Langkah itu dinilai percuma.
Baca: 70% Publik Sebut Kinerja Jokowi Memuaskan
Alasan lain, masyarakat tak terlalu menyukai politik ketakutan yang dikategorikan kampanye negatif. Masyarakat lebih butuh adu gagasan antarpasangan calon.
"Tujuan ke depan, program yang dicanangkan dan sebagainya. Dalam dua bulan terakhir, pola kampanye seperti itu tidak terlalu efektif," tegas dia.
Menurut Ardian, kubu Prabowo seharusnya bisa menonjolkan daya tawar yang lebih baik. Sebab, Jokowi sudah pasti memamerkan hasil kerja selama empat tahun memimpin Indonesia.
"Pak Jokowi betul, dalam tema kampanye dia memperlihatkan apa yang sudah dia kerjakan selama ini. Di sisi lain, Pak Prabowo belum punya itu, rekam jejak dalam pemerintahan," ucap dia.
Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun google news Medcom.id((OJE))