Ketua Badan Pemenangan Pemilu Golkar Wilayah Timur, Azis Samual (tengah depan). Foto: Partai Golkar
Ketua Badan Pemenangan Pemilu Golkar Wilayah Timur, Azis Samual (tengah depan). Foto: Partai Golkar

25 DPD I Golkar Ingin Segera Munas

Pemilu pemilu serentak 2019
26 Mei 2019 23:49
Jakarta: Gerakan untuk mempercepat Musyawarah Nasional (Munas) Partai Golongan Karya (Golkar) terus mengemuka. Sebanyak 25 DPD tingkat provinsi (tingkat I) Golkar diklaim sudah berkonsolidasi untuk menentukan langkah percepatan munas.
 
Salah satu inisiator untuk perceptan munas adalah Ketua Badan Pemenangan Pemilu Golkar Wilayah Timur, Azis Samual. Pria yang pernah menjadi ketua Pemenangan Pemilu Wilayah Timur Partai Golkar ini menyebut pertemuan sudah mengerucut ke jadwal percepatan munas.
 
"Konsolidasi sudah bulat, sebanyak 25 DPD I dan beberapa DPD II (tingkat kabupaten/kota) sudah merestui percepatan munas ini," kata Azis di Jakarta, Minggu, 26 Mei 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Untuk jadwal, lanjut pelaksana tugas ketua DPD I Golkar Papua itu, sangat mendesak. Menurutnya, munas harus dilaksanakan pada akhir Juli. "Kami maunya Juli akhir, nanti kami akan buka kalau sudah waktunya siapa saja DPD I ini," tuturnya.
 
Desakan munas mengemuka setelah suara Golkar disebut melorot pada Pemilu 2019. Sebelumnya, Azis juga menuntut agar Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto dan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Partai Golkar Lodewijk Freidrich Paulus bertanggung jawab.
 
Tuntutan itu mengemuka setelah raihan suara Golkar turun pada Pemilu 2019. Golkar pun hanya meraih 85 kursi. "Target di awal, Golkar harus mencapai 110 kursi di DPR. Tapi (target) ini jauh, kami juga hanya duduk di posisi ketiga, ini tak semestinya terjadi. Artinya, Airlangga sebagai ketua umum gagal, sudah sepatutnya bertanggung jawab dan harus mundur," kata dia.
 
Sesuai hasil rekapitulasi Pemilu 2019 Partai Golkar hanya berada di posisi ketiga Pemilu 2019 dengan raihan 12,31 persen atau setara 17.229.789 suara.
 
"Targetnya 18 persen, ini malah berkurang dan jauh dari target. Sudah jelas gagal total," kata dia.
 
Azis juga kecewa suara yang didapatkan Golkar ternyata lebih banyak disumbang caleg-caleg petahana. "Ketum dan Sekjen tak bisa membuat roda partai berjalan baik. Sebanyak 85 kursi yang didapatkan karena perjuangan para caleg incumbent. Ini berarti roda kaderisasi partai nggak jalan, partai tak mampu mendorong penambahan," kata dia.
 
Baca: Raihan Kursi Terus Merosot, Internal Golkar Bereaksi
 
Azis mengatakan sejak awal Airlangga optimistis bisa membawa Golkar bersaing ketat dengan PDIP berebut juara pileg. "Nyatanya, bersaing dengan Gerindra saja kesulitan. Jangankan menyamai capaian Pemilu 2014, mengejar capaian hasil survei sebesar 16 persen pun gagal," terangnya.
 
Golkar meraih 127 kursi pada Pemilu 2004. Lima tahun berselang, yakni pada Pemilu 2009, Golkar meraih 105 kursi. Pada Pemilu 2014 jumlahnya terus melorot menjadi 91 kursi. Dan di Pemilu 2019 ini Golkar diprediksi hanya meraih 85 kursi dari 575 kursi yang diperebutkan.
 
"Logikanya (kursi yang diraih) harus bertambah. Jumlah kursi nasionalnya saja nambah. Ini malah turun. Artinya ketua umum tak mampu," tegas dia.
 
Jumlah Kursi dan suara Golkar di Empat Pemilu Terakhir:
- Pemilu 2004: 127 kursi (24.480.757 suara)
- Pemilu 2009: 105 kursi (15.037.757 suara)
- Pemilu 2014: 91 kursi (18.432.312 suara)
- Pemilu 2019: 85 kursi (17.229.789 suara)
 

(UWA)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif