Kepala Staf Presiden Moeldoko. Foto: Medcom.id/Damar Iradat
Kepala Staf Presiden Moeldoko. Foto: Medcom.id/Damar Iradat

Moeldoko: Pembatasan Media Sosial Dilakukan Situasional

Pemilu Sidang Sengketa Pilpres 2019
Suci Sedya Utami • 27 Juni 2019 07:30
Jakarta: Kepala Staf Presiden Moeldoko mengatakan pemerintah bisa saja membatasi penggunaan media sosial (medsos) saat putusan Mahkamah Konstitusi (MK) terkait sengketa pemilihan presiden (pilpres) 2019. Namun, pembatasan tersebut bersifat situasional.
 
Pembatasan tersebut kata Moeldoko bakal dilakukan apabila kondisi keamanan dianggap tidak kondusif saat putusan tersebut berlangsung. Apabila suasana kondusif, maka opsi tersebut tidak akan dilakukan.
 
"Dalam rapat kemarin sudah kita pikirkan kalau memang situasinya menggangu keamanan, ya mau enggak mau, kita prihatin sebentar. Tapi kalau enggak ada apa-apa ya jalan saja seperti biasa. Kita lihat situasinya besok," kata Moeldoko ditemui di Bappenas, Menteng, Jakarta Pusat, Senin, 26 Juni 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sementara itu Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara sebelumnya mengaku tak akan membatasi akses media sosial saat pembacaan putusan sidang sengketa Pilpres 2019. Menurut dirinya sebaran informasi hoaks cenderung menurun. Hal ini menjadi alasan utama Rudiantara tak bakal membatasi penggunaan media sosial.
 
"Nah ini stabil saja tuh. Kalau ini begini apa yang dibatasi? Enggak usah lah," kata Rudiantara sebelumnya.
 
Dari data yang diperlihatkan Rudiantara, persebaran hoaks pada periode 20 Mei sampai 23 Juni di Facebook, Twitter, Instagram, dan YouTube, sebanyak 5.606 konten. Rincian persebaran melalui Facebook 2.057 konten, Instagram 1.643 konten, Twitter 1.397 konten, dan YouTube 509 konten.
 
Pemerintah sempat membatasi fitur-fitur di media sosial pada 22 Mei 2019. Pembatasan dilakukan untuk media sosial berbasis messaging system. Ada pun pembatasan meliputi fitur berbagi foto dan video.
 
Pembatasan saat itu bertujuan meminimalisasi gambar atau video yang sengaja disebar untuk menciptakan kegaduhan. Gambar dan video itu, lanjut Rudi, lebih viral di messaging system.
 

(DMR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif