Survei: Golkar Terlempar dari Posisi Dua
Golkar. Medcom.id/Rakhmat Riyandi
Jakarta: Partai Golkar diprediksi bakal mendapat hasil paling buruk dalam sejarah perpolitikan Tanah Air pada Pemilu 2019. Lembaga riset Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA menyebut Golkar potensial telempar dari dua besar.
 
Peneliti LSI Denny JA, Adjie Alfaraby mengatakan hasil survei di 10 provinsi dengan jumlah populasi penduduk atau pemilih terbesar di Indonesia periode Oktober ini, Golkar hanya unggul di Sulawesi Selatan. Sementara di sembilan provinsi lain seperti Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, DKI Jakarta, Banten, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Riau, dan Lampung, suara Golkar turun signifikan.
 
"Untuk pertama kalinya Golkar terancam tidak masuk dua besar dalam pemilu Indonesia pascareformasi," kata Adjie saat merilis hasil survei di kantornya, Jakarta Timur, Jumat, 2 November 2018.
 
Adjie merinci, perolehan suara Golkar di Sulawesi Selatan tertinggi dengan 23,5 persen. Posisi kedua ditempati Gerindra dengan 16,3 persen, disusul PDI Perjuangan dengan 7,3 persen.  NasDem ada diurutan keempat dengan 6,5 persen, lalu Demokrat 4,5 persen.
 
"Ini partai pemenang lima besar di Sulawesi Selatan," ucap Adjie.
 
Di Jawa Barat, Golkar ada di urutan ketiga dengan 11,3 persen. Posisi pertama ditempati Gerindra dengan 20,2 persen, kedua PDIP dengan 17,8 persen.
 
Golkar juga hanya menempati urutan ketiga di Jawa Timur dengan angka 5,2 persen. Posisi pertama PKB dengan 21,7 persen, lalu disusul PDIP dengan 21,0 persen.
 
Di Jawa Tengah, Golkar ada di urutan keempat dengan elektabilitas hanya 4,2 persen. PDIP merajai perolehan suara dengan angka 46,0 persen. Disusul Gerindra di posisi kedua dengan 6,2 persen, dan PKB posisi ketiga dengan 4,8 persen.
 
Di Sumatera Utara, Golkar hanya meraih 6,7 persen dan ada di posisi ketiga. Posisi pertama ditempati PDIP dengan 28,0 persen, disusul Gerindra di urutan kedua dengan 16,5 persen.
 
Golkar juga menempati posisi ketiga di Banten dengan 7 persen suara. Urutan pertama ditempati Gerindra dengan 26,3 persen, lalu disusul PDIP dengan 19,3 persen. 
 
Kemudian, Golkar hanya ada di urutan keempat di DKI Jakarta dengan perolehan 4,3 persen. Posisi pertama PDIP dengan 23,1 persen, disusul Gerindra 17,1 persen, dan PKS 6,2 persen.
 
Selanjutnya di Lampung, Golkar meraih suara 8,8 persen dan ada di urutan ketiga. Urutan pertama ditempati PDIP dengan 34,0 persen, lalu Gerindra di posisi kedua dengan 11,7 persen.
 
Posisi ketiga kembali ditempati Golkar di Provinsi Sumatera Selatan dengan perolehan 8,2 persen. PDIP posisi satu dengan 26,5 persen, Gerindra posisi kedua dengan 25,9 persen.

Baca: Survei: Gerindra Tempel Golkar di Pemilu 2019


Terakhir di Riau. Golkar juga hanya ada di posisi ketiga dengan 7,2 persen. Gerindra posisi pertama dengan 22,2 persen, lalu kedua PDIP dengan 9,3 persen.
 
Adjie memaparkan, salah satu faktor yang membuat suara Golkar tergerus adalah kasus korupsi yang menimpa mantan Ketua Umumnya, Setya Novanto. Polemik Novanto dan semua dramanya di kasus korupsi KTP-elektronik mengundang sorotan publik.
 
"Kasus tersebut menurunkan wibawa Golkar. Di samping Golkar tidak punya calom presiden dan wakil presiden," jelasnya.
 
Survei ini dilakukan di 10 provinsi terbesar berdasarkan populasi penduduk atau pemilih. Jumlah responden 600 orang per provinsi, dengan total responden 6 ribu orang. Survei dilakukan pada 4-14 Oktober dengan metode multistage random sampling. Survei dilakukan dengan cara wawancara tatap muka.
 
Margin of error survei ini sekitar 4,1 persen. Survei juga dilengkapi dengan focus group discussion, analisis media, dan indepth interview. Survei diklaim dibiayai sendiri oleh LSI Denny JA.





(FZN)

metro tv
  • OpsiOpsi
  • kick andyKick Andy
  • economic challengesEconomic Challenges
  • 360360

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id