Leani Ratri Oktila dan Khalimatus Sadiyah. (Foto: Dok. Kemenpora)
Leani Ratri Oktila dan Khalimatus Sadiyah. (Foto: Dok. Kemenpora)

Paralimpiade Tokyo 2020

Profil Leani dan Khalimatus: Penyumbang Emas Pertama Indonesia di Paralimpiade Tokyo

Olahraga Bulu Tangkis Paralimpiade
Kautsar Halim • 04 September 2021 22:10
Indonesia akhirnya bisa menyabet medali emas di ajang Paralimpiade Tokyo 2020 pada Sabtu 4 September sore WIB. Itu terjadi setelah Leani Ratri Oktila dan Khalimatus Sadiyah memenangi final cabang olahraga (cabor) bulu tangkis nomor ganda putri SL3-SU5.
 
Tidak ada kesulitan khusus bagi Leani/Khalimatus yang berstatus sebagai unggulan pertama untuk merebut emas itu dari pasangan Tiongkok Chen He Fang/Ma Hui Hui. Pasalnya, mereka sukses menutup laga dengan skor straight game 21-18 dan 21-12.
 
Berbicara soal Leani, pemain kelahiran 5 Juni 1991 memang cukup tersohor di dunia para-badminton. Dia bahkan pernah dinobatkan sebagai atlet Wanita Terbaik tahun 2018 dan 2019 oleh Federasi Badminton Dunia (BWF). Tapi, Leani memang belum pernah menyabet emas Paralimpiade sebelumnya.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Tercatat ada enam medali emas ASEAN Para Games yang disabet Leani lebih dulu pada 2015 dan 2017. Kemudian, dia juga pernah memenangi tiga emas Asian Para Games pada 2014 dan 2018 yang dilanjutkan dengan tiga emas kejuaraan dunia.
 
Banyaknya kepingan emas itu tidak didapat Leani dari nomor ganda putri saja karena dia juga bermain di nomor ganda campuran dan juga tunggal putri. Untuk Paralimpiade Tokyo sendiri, Leani masih berpeluang menambah emas jika menang di final nomor tunggal putri (SL4) dan ganda campuran (SL3-SU5) pada Minggu 5 September.
 
 

 
Seperti dilansir dari situs resmi Paralimpiade Leani memiliki ciri khas mengenakan bando atau ikat kepala berwarna oranye. Dia tertular kebiasaan ibunya yang menggunakan bando dan sudah menganggapnya itu sebagai jimat keberuntungan yang menemani masa pertumbuhan.
 
"Sebetulnya saya juga tidak nyaman ketika terhalang rambut saat bermain, jadi ikat kepala itu memang berguna juga," kata Leani.
 
"Suatu ketika ada orang bertanya, apakah saya pernah mengganti ikat kepala itu. Nah sekarang, saya sudah punya empat dengan warna yang sama dan itu bukanlah benda mewah. Saya membelinya di pasar malam," tambahnya.
 
Leani yang terbiasa tampil lebih dari satu pertandingan dalam sehari punya kebiasaan unik. Dia mengaku suka beristirahat di toilet selama berjam-jam dan jarang langsung kembali ke hotel atau ke rumah seusai bertanding. Dia bahkan sering membawa tikar, bantal dan pakaian lebih ke lapangan.
 
"Saya bisa tidur hingga tiga jam dan bangun dengan perasaan segar dari sana. Tapi sebelum melakukannya, saya bilang kepada ofisial dan pelatih untuk mencari saya di salah satu toilet," katanya.
 
 

Tidak ada informasi lebih lanjut tentang penyebab kebiasaan unik Leani tersebut, tapi kondisi tubuhnya mulai tidak normal semenjak mengalami kecelakaan motor pada 2011 yang membuat kaki kirinya menjadi 7cm lebih pendek dari kaki kanannya. 
 
Tentu tidak mudah menerima kenyataan pahit itu, terlebih Leani sudah mencintai dan berlatih badminton sejak berusia tujuh tahun. Namun dia pantang menyerah dan mampu bangkit untuk menjadi lebih baik ketika gabung tim para-badminton Indonesia pada 2013. 
 
Sementara itu, tidak terlalu banyak keterangan seputar Khalimatus Sadiyah di situs resmi Paralimpiade. Tapi, sejumlah sumber menyebutkan bahwa Khalimatus lahir di Mojokerto pada 17 September 1999 dan cukup berprestasi di level nasional dan ajang ASEAN Para Games.
 
Dari rentetan prestasinya, Khalimatus juga berbeda dengan Leani yang bisa tampil fleksibel sebagai pemain tunggal maupun ganda. Kebanyakan gelar juaranya pada sepanjang 2019 berasal dari ajang Para Badminton Internasional nomor ganda putri. 
 
Khalimatus pada awalnya lebih menyukai olahraga sepak bola dan bola voli, tapi dia diarahkan pelatihnya ke para-badminton karena pertumbuhan kaki yang tidak sama sejak duduk di bangku Sekolah Dasar. Meski berat, kesempatan berlatih para-badminton tetap diambil Khalimatus sejak 2013 dan prestasinya pun makin menanjak hingga kini.
 
Cemoohan dan sindiran tentang keterbatasan diri juga pernah dirasakan Khalimatus dari lingkungan maupun orang-orang sekitar. Tapi, dia mampu tabah menutup telinga demi mewujudkan cita-cita menjadi seorang atlet berprestasi yang mengharumkan nama bangsa. (berbagai sumber)
 
(KAH)
Read All



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif