Javier Tebas desak Gianni Infantino untuk mundur usai kritik format Piala Dunia 2030 yang menjadi 64 tim. (Foto: X @Tebasjavier)
Javier Tebas desak Gianni Infantino untuk mundur usai kritik format Piala Dunia 2030 yang menjadi 64 tim. (Foto: X @Tebasjavier)

Piala Dunia 2030

Presiden La Liga Sebut Piala Dunia 64 Tim Akan ‘Menghancurkan Sepak Bola’

Alfa Mandalika • 22 Juli 2026 06:05
Ringkasnya gini..
  • Presiden La Liga Javier Tebas mengkritik rencana FIFA menambah peserta Piala Dunia 2030 menjadi 64 negara karena dinilai merusak ekosistem sepak bola.
  • Tebas juga mendesak Presiden FIFA Gianni Infantino mundur, dengan alasan masa kepemimpinannya sudah berakhir dan terlalu berorientasi pada kepentingan komersial.
  • Selain itu, Tebas menyoroti kontroversi pembatalan kartu merah Folarin Balogun yang disebut mencerminkan persoalan independensi dalam tata kelola FIFA.
Jakarta: Presiden La Liga, Javier Tebas, mengkritik rencana FIFA untuk menambah jumlah peserta Piala Dunia 2030 menjadi 64 negara. Tebas juga mendesak Presiden FIFA, Gianni Infantino, untuk mundur karena menilai kebijakan tersebut dapat berdampak buruk terhadap ekosistem sepak bola global.
 
Dalam wawancara eksklusif bersama media Italia, La Gazzetta dello Sport, Tebas menilai FIFA terlalu berfokus memperbesar skala turnamen internasional demi kepentingan komersial. Menurutnya, keputusan tersebut dapat berdampak negatif terhadap kompetisi liga domestik yang menjadi fondasi utama industri sepak bola dunia.
 
“Menambah jumlah tim nasional sama sekali tidak masuk akal. Mereka menghancurkan industri sepak bola yang menciptakan puluhan ribu lapangan pekerjaan, hanya demi sebuah acara yang berlangsung selama 40 hari,” ujar Tebas.
 
“Kita membutuhkan lebih sedikit beban tim nasional dan lebih banyak perlindungan terhadap sepak bola domestik,” lanjutnya.
 

Tebas Desak Infantino Mundur


Tebas menilai masa kepemimpinan Infantino yang telah berlangsung hampir satu dekade sudah seharusnya berakhir. Namun, ia menyayangkan sikap federasi-federasi anggota FIFA yang dinilai memilih diam karena kuatnya pengaruh politik dan kekuasaan sang petahana.

“Apakah Infantino harus mundur? Menurut saya, ya. Waktunya sudah berakhir. Namun, dia mendapat dukungan dari sistem dan tidak ada kandidat oposisi yang berani maju. Banyak pihak menentang tindakan Infantino tetapi memilih diam,” tegas Tebas.
 
Selain mengkritik rencana ekspansi Piala Dunia, Tebas juga menyoroti kontroversi pembatalan sanksi kartu merah penyerang Amerika Serikat, Folarin Balogun. Keputusan tersebut sebelumnya memicu perdebatan setelah muncul laporan adanya komunikasi langsung antara Presiden AS Donald Trump dan Infantino.
 
Javier Tebas menilai kasus tersebut menjadi gambaran mengenai persoalan independensi dalam tata kelola FIFA.
 
“Sanksi terhadap pemain Amerika itu sangat serius. FIFA beruntung Belgia mengalahkan AS di babak 16 besar. Jika AS menang, kasus tersebut bisa saja berkembang menjadi hal yang membuat Infantino kehilangan jabatannya,” pungkasnya.
 
(Ahmad Raul)
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(ASM)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan