Aleksander Ceferin tidak hadiri Final Piala Dunia 2026, hubungan UEFA dan FIFA memanas. (Foto: Photo by PAU BARRENA / AFP)
Aleksander Ceferin tidak hadiri Final Piala Dunia 2026, hubungan UEFA dan FIFA memanas. (Foto: Photo by PAU BARRENA / AFP)

Piala Dunia 2026

Konflik FIFA dan UEFA Memanas, Ceferin Boikot Final Piala Dunia 2026

Alfa Mandalika • 21 Juli 2026 07:50
Ringkasnya gini..
  • Presiden UEFA Aleksander Ceferin absen dari final Piala Dunia 2026 sebagai bentuk ketidakpuasan terhadap keputusan FIFA terkait sanksi Folarin Balogun.
  • UEFA menilai pembatalan hukuman Balogun sebagai preseden berbahaya karena dianggap berpotensi membuka ruang intervensi politik dalam keputusan disipliner.
  • Hubungan FIFA dan UEFA kembali memanas, meski pengaruh UEFA di tingkat global tetap terbatas dibandingkan dengan dukungan mayoritas anggota FIFA kepada Gianni Infantino.
New Jersey: Presiden UEFA Aleksander Ceferin memutuskan tidak menghadiri final Piala Dunia 2026 di MetLife Stadium, Amerika Serikat, pada Senin (20/7) dini hari WIB. Keputusan tersebut berkaitan dengan sikap UEFA terhadap keputusan FIFA yang membatalkan sanksi kartu merah Folarin Balogun.
 
Aleksander Ceferin sebelumnya hadir dalam pertandingan pembuka Piala Dunia 2026 di Mexico City pada 11 Juni bersama jajaran Dewan FIFA. Namun, ia memilih absen dari laga puncak antara Spanyol dan Argentina.
 
Menurut laporan The Times, pembatalan sanksi Folarin Balogun menjadi salah satu faktor utama yang memperburuk hubungan antara UEFA dan FIFA.
 
Balogun sebelumnya mendapat hukuman larangan tampil satu pertandingan setelah menerima kartu merah saat Amerika Serikat menghadapi Bosnia dan Herzegovina pada 2 Juli. FIFA kemudian membatalkan sanksi tersebut setelah munculnya komunikasi langsung antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden FIFA Gianni Infantino.

FIFA menegaskan bahwa keputusan tersebut tetap diambil secara independen oleh Komite Disiplin FIFA yang dipimpin Mohammad al-Kamali dari Uni Emirat Arab. Namun, keputusan tersebut tetap memicu tudingan adanya intervensi politik dalam proses pengambilan keputusan.
 

FIFA Melewati Garis Merah


UEFA mengecam keras keputusan FIFA yang membatalkan sanksi terhadap Folarin Balogun. Badan sepak bola Eropa itu menilai langkah tersebut sulit dipahami dan menjadi preseden yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah sepak bola internasional.
 
UEFA juga menilai keputusan tersebut telah melewati "garis merah" karena berpotensi menciptakan persepsi adanya campur tangan politik dalam keputusan yang seharusnya berada di ranah teknis dan disipliner pertandingan.
 

Dinamika Kekuatan FIFA-UEFA


Tindakan boikot Aleksander Ceferin terhadap final Piala Dunia 2026 menjadi puncak dari sikap menjaga jarak yang telah ia tunjukkan dalam beberapa tahun terakhir.
 
Meski berstatus sebagai Wakil Presiden FIFA secara ex officio, Ceferin tercatat jarang menghadiri kongres tahunan FIFA, hanya muncul secara singkat pada Piala Dunia Wanita, serta absen dari ajang Piala Dunia Antarklub.
 
Pengaruh diplomasi UEFA di panggung sepak bola global tetap memiliki batasan. Dari total 211 asosiasi anggota FIFA, UEFA hanya memiliki 55 suara dalam proses pengambilan keputusan.
 
Sementara itu, mayoritas anggota dari konfederasi lain juga masih memberikan dukungan terhadap kepemimpinan Presiden FIFA, Gianni Infantino.
 
Kondisi tersebut membuat posisi UEFA dalam menghadapi kebijakan FIFA tidak selalu mudah, meskipun memiliki pengaruh besar dari sisi kompetisi dan kekuatan sepak bola Eropa.
 
(Ahmad Raul)
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(ASM)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan