Aleksander Ceferin sebelumnya hadir dalam pertandingan pembuka Piala Dunia 2026 di Mexico City pada 11 Juni bersama jajaran Dewan FIFA. Namun, ia memilih absen dari laga puncak antara Spanyol dan Argentina.
Menurut laporan The Times, pembatalan sanksi Folarin Balogun menjadi salah satu faktor utama yang memperburuk hubungan antara UEFA dan FIFA.
Balogun sebelumnya mendapat hukuman larangan tampil satu pertandingan setelah menerima kartu merah saat Amerika Serikat menghadapi Bosnia dan Herzegovina pada 2 Juli. FIFA kemudian membatalkan sanksi tersebut setelah munculnya komunikasi langsung antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden FIFA Gianni Infantino.
FIFA menegaskan bahwa keputusan tersebut tetap diambil secara independen oleh Komite Disiplin FIFA yang dipimpin Mohammad al-Kamali dari Uni Emirat Arab. Namun, keputusan tersebut tetap memicu tudingan adanya intervensi politik dalam proses pengambilan keputusan.
FIFA Melewati Garis Merah
UEFA mengecam keras keputusan FIFA yang membatalkan sanksi terhadap Folarin Balogun. Badan sepak bola Eropa itu menilai langkah tersebut sulit dipahami dan menjadi preseden yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah sepak bola internasional.
UEFA juga menilai keputusan tersebut telah melewati "garis merah" karena berpotensi menciptakan persepsi adanya campur tangan politik dalam keputusan yang seharusnya berada di ranah teknis dan disipliner pertandingan.
Dinamika Kekuatan FIFA-UEFA
Tindakan boikot Aleksander Ceferin terhadap final Piala Dunia 2026 menjadi puncak dari sikap menjaga jarak yang telah ia tunjukkan dalam beberapa tahun terakhir.
Meski berstatus sebagai Wakil Presiden FIFA secara ex officio, Ceferin tercatat jarang menghadiri kongres tahunan FIFA, hanya muncul secara singkat pada Piala Dunia Wanita, serta absen dari ajang Piala Dunia Antarklub.
Pengaruh diplomasi UEFA di panggung sepak bola global tetap memiliki batasan. Dari total 211 asosiasi anggota FIFA, UEFA hanya memiliki 55 suara dalam proses pengambilan keputusan.
Sementara itu, mayoritas anggota dari konfederasi lain juga masih memberikan dukungan terhadap kepemimpinan Presiden FIFA, Gianni Infantino.
Kondisi tersebut membuat posisi UEFA dalam menghadapi kebijakan FIFA tidak selalu mudah, meskipun memiliki pengaruh besar dari sisi kompetisi dan kekuatan sepak bola Eropa.
(Ahmad Raul)
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda