Zuhairi Misrawi Zuhairi Misrawi Intelektual Muda NU, Pengamat Politik Timur Tengah

Muslim Haram Sebarkan Hoaks

Zuhairi Misrawi 05 Maret 2018 14:04 WIB
ujaran kebencianhoax
Muslim Haram Sebarkan Hoaks
Ilustrasi jebakan media sosial. Foto: MTVN/Mohammad Rizal.
PENANGKAPAN sejumlah aktivis media sosial yang diduga berafiliasi dengan Muslim Cyber Army (MCA) sangat mengejutkan semua pihak. Polisi mendeteksi jejak-jejak MCA dalam memproduksi dan menyebarkan hoaks. 

Di antara isu yang mampu membangun opini publik belakangan ini, yaitu kebangkitan Partai Komunis Indonesia (PKI), kriminalisasi ulama, dan lain-lain. Konon, kelahiran mereka dimulai saat Pilkada DKI yang lalu. Mereka disebut-sebut berhasil membangun opini “Anti-Ahok”. 


Setelah seminggu penangkapan MCA, di media sosial berseliweran anekdot. Di antaranya, “hebat juga MCA, setelah mereka diciduk polisi, PKI langsung hilang di bumi pertiwi”. Ada yang menulis, “Indonesia terbukti lebih aman tanpa hoaks”.

Pemandangan tersebut semakin meneguhkan kesimpulan, bahwa tsunami hoaks bukan terjadi secara alami, melainkan ada pihak-pihak dan oknum yang diduga kuat memproduksi hoaks untuk tujuan-tujuan politis dan ekonomis.

Fakta ini juga semakin meneguhkan, bahwa kita sedang mengarah pada post-truth society. Yaitu masyarakat yang tidak lagi memedomani pada kebenaran informasi dan opini, melainkan sebaliknya membenarkan kebohongan yang direkayasa seolah-olah sebagai sebuah kebenaran. Publik semakin tidak kritis untuk membedakan antara opini yang valid dan opini yang hakikatnya hoaks.

Ironisnya, mereka yang tersasar dengan informasi dan opini hoaks adalah kelas menengah yang selama ini aktif di media sosial. Mereka tidak lagi menggunakan logika dalam menyerap informasi dan opini. Mereka justru menggunakan emosi yang akhirnya percaya pada berita sampah alias hoaks tanpa menggunakan logika.

Kepercayaan terhadap berita-berita hoaks yang relatif tinggi di kalangan kelas menengah bersamaan dengan momen politik yang digunakan secara sengaja oleh beberapa partai politik untuk mendulang dukungan. Survei SMRC dan penelusuran teman-teman NU mengonfirmasi adanya kekuatan politik yang sengaja menjadikan hoaks sebagai instrumen untuk membangun opini ketidakpercayaan terhadap pemerintah. 

Penjelasan di atas hendak membuktikan, bahwa penyebaran hoaks sudah pada titik yang mengkhawatirkan, bahkan membahayakan dalam konteks berbangsa dan bernegara. Pertama, berita hoaks yang berterbaran di media sosial bukanlah fakta yang tiba-tiba turun dari langit, melainkan ada pihak-pihak yang sengaja merekayasa untuk tujuan politis dan ekonomis. Di satu sisi mereka bekerja untuk menurunkan kepercayaan publik terhadap pemerintah, tetapi di sisi lain mereka juga mendulang keuntungan ekonomi. Karenanya, aparat kepolisian harus dapat mendeteksi aliran dana dan aktor-aktor yang terlibat dalam penyebaran hoaks tersebut.

Kedua, berita hoaks dapat menimbulkan kebencian dan memperkuat fragmentasi politik identitas yang dapat memecahbelah kebersamaan dan persatuan sesama umat dan sesama warga-bangsa. Isu-isu SARA yang sangat sensitif dapat mengganggu harmoni dan toleransi yang sebenarnya sudah mulai membaik. Apalagi kita sedang memasuki tahun-tahun politik pada tahun 2018 dan 2019. Karena itu diperlukan keseriusan semua pihak untuk mengatasi masalah massifnya hoaks.

Ketiga, mereka yang menyebarkan berita hoaks menggunakan identitas “Muslim Cyber Army” yang sebenarnya sangat problematis. Alasannya, karena kalau mereka benar-benar Muslim yang sejati tidak akan pernah menebarkan hoaks. Sebab Islam sama sekali tidak membenarkan seorang Muslim menebarkan hoaks karena masuk dalam katagori fitnah. 

KH. Ma’ruf Amien, Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia dan Rais ‘Am Nahdlatul Ulama menghimbau agar mereka yang menebarkan hoaks tidak memakai identitas “Muslim”. Sudah terang-benderang, Islam sangat melarang penyebaran hoaks karena dapat menimbulkan konflik yang memecahbelah umat dan bangsa. Seorang Muslim akan selalu menebarkan damai dan nasehat yang membangun. Karenanya seorang Muslim tidak akan pernah membenarkan upaya-upaya untuk mengabsahkan penyebaran hoaks. 

Dalam Islam, menyebarkan berita bohong atau hoaks sangat dilarang. Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama menyebut berita hoaks dilarang karena sudah masuk katagori fitnah, karena itu dilarang dalam Islam.

Di dalam surat al-Baqarah ayat 191, disebutkan, Dan fitnah lebih kejam dari pembunuhan. Ibnu Abdussalam dalam Tafsir al-Quran memaknai fitnah sebagai kekufuran. Sebab fitnah dapat menjerumuskan kita pada kehancuran. 

Itu maknanya seorang Muslim sejatinya tidak menebarkan hoaks, karena dampak yang dihasilkan dari hoaks dapat memicu kebencian, kekerasan, bahkan konflik. Hoaks akan menimbulkan keburukan, bahkan kejahatan. Karenanya kita diperintahkan untuk meninggalkan segala perbuatan yang hanya akan membawa kita pada kehancuran.

Kita perlu belajar dari konflik politik yang terjadi sepanjang sejarah Islam, misalnya antara Sunni dan Syiah, bahkan konflik terkini di Timur-Tengah terjadi karena produksi hoaks dan fitnah yang menyebabkan hilangnya saling percaya, saling menghormati, dan saling menghormati di antara di antara sesama umat dan sesama warga.

Secara khusus, Islam sangat melarang produksi berita bohong dan penuh dusta. Allah SWT akan melaknat mereka yang sengaja berdusta (QS. Ali ‘Imran [3]: 61). 

Para ulama juga mengggarisbawahi bahaya menyebarkan berita hoaks yang di dalamnya penuh dengan kebohongan. Imam al-Mawardi dalam Adab al-Dunya wa al-Din menyebut mereka yang menyebarkan berita hoaks atau berita bohong dapat dianggap sebagai pencuri. Seorang pencuri mengambil harta orang lain, tapi seorang penyebar hoaks hakikatnya mencuri akal kita. 

... mereka yang menyebarkan berita hoaks atau berita bohong dapat dianggap sebagai pencuri. Seorang pencuri mengambil harta orang lain, tapi seorang penyebar hoaks hakikatnya mencuri akal kita. 

Lebih lanjut ia menyatakan, bahwa berbohong atau berita hoaks merupakan pangkal segala kejahatan. Dari berita hoaks akan menimbulkan adu domba, kebencian, dan pada akhirnya menciptakan permusuhan. Dan pada akhirnya tidak ada rasa aman.

Apa yang dinyatakan oleh Imam al-Mawardi sudah benar-benar terjadi di tengah-tengah masyarakat kita. Banjirnya berita-berita hoaks belakangan ini telah menimbulkan fitnah dan polarisasi di antara sesama umat dan warga.

Kita beruntung aparat kepolisian telah mengambil langkah yang tepat dengan menikdak secara hukum dalam rangka melindungi warga dari perpecahan dan konflik. Langkah yang diambil aparat kepolisian berdampak serius bagi meredanya berita hoaks.

Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah sebagai ormas Muslim terbesar di negeri ini mendukung langkah aparat kepolisian tersebut. Negara tidak boleh kalah dari siapapun yang ingin memecahbelah negeri ini. Aparat kepolisian harus berada di garda terdepan untuk mengambil tindakan tegas bagi pihak-pihak yang telah menciptakan opini penuh hoaks.

Selebihnya, NU dan Muhammadiyah, tentu ormas-ormas Islam lainnya bersama seluruh elemen bangsa agar selalu menyatakan bahaya hoaks. Bahkan, tidak ada satu agama pun yang membenarkan penyebaran hoaks. Karenanya, mari kita bersama-sama memerangi maraknya hoaks dengan mengedepankan akal sehat dan hati nurani.[]

*Segala gagasan dan opini yang ada dalam kanal ini adalah tanggungjawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi Medcom.ID
 




(SBH)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id