Bakhrul Amal Bakhrul Amal Penggiat pendidikan politik dan demokrasi 

Berupaya untuk I Would Prefer Not To

Bakhrul Amal 26 Oktober 2018 16:16 WIB
ujaran kebencianhoax
Berupaya untuk <i>I Would Prefer Not To</i>
ILUSTRASI: Aktivis Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) membentangkan poster yang berisi penolakan penyebaran hoaks di kawasan Bundaran HI, Jakarta/ANTARA/Yudhi Mahatma.
PADA tahun 1853, antara bulan November hingga Desember, Herman Melville menulis satu cerita pendek di majalah Putnam. Cerpen itu, amat fenomenal dan diberi judul Bartleby, the Scrivener: A Story of Wall Street.  Diterbitkan secara berkala dengan penjelasan ‘anonim’ sebagai penulisnya.

Sesuai judulnya, kisah-kisah singkat itu mengisahkan tentang seorang pegawai kantor pengacara bernama Bartleby. 


Bartleby, pada awal cerita, digambarkan Melville sebagai seorang yang penuh dedikasi serta pekerjaannya dinilai memiliki kualitas yang tinggi (high-quality work). Dia lebih hebat dari dua kawannya di kantor itu, Turkey dan Nippers.

Hingga suatu ketika, bak petir menyambar di siang bolong, Bartleby yang dikenal rajin itu mendadak bosan dengan rutinitasnya yang monoton. Kebosanan itu tergambar dari performa kerja Bartleny yang terus menerus menurun tiap harinya. 

Puncaknya adalah pada saat Sang Bos menyuruh Bartleby untuk membantu mengoreksi dokumen, Bartleby menolak. Penolakan Bartleby diutarakan menggukan kalimat yang kemudian menjadi terkenal di kalangan pekerja di sekitaran Wall Street, yakni "I would prefer not to" atau “saya lebih memilih untuk tidak melakukannya”. 

I would prefer not to

Slavoj Žižek, ahli Psikoanalisis dan penikmat karya-karya Hegel, lantas mengutip perlawanan Bartleby itu dan mencocokannya dengan keadaan teraktual.

Secara bahasa, menurut Žižek, adanya kata prefer -pada I would prefer not to- memiliki arti bahwa keengganan Bartleby adalah keengganan melakukan sesuatu yang semula dilakukan kemudian menolak untuk melakukan (lagi). 

Penolakan itu bisa diakibatkan karena jenuh, malas, atau dia sadar bila dirinya hanya dimanfaatkan tenaga dan pikirannya untuk kekayaan orang lain. 

Secara ideologis, parafrase yang Žižek tulis dalam bukunya The Parallax View itu, adalah bentuk perlawanan modern yang menjadi ruang baru di luar posisi hegemonik dan negasinya. 

Ringkasnya, sebagai gerakan, I would prefer not to adalah posisi yang berada di tengah-tengah semua ideologi.

Dari situlah, dari adanya nuansa perlawan dan ideologis, Žižek menilai bahwa ikhtiar Bartleby itu bisa kita gunakan sebagai media perlawanan atau protes di era kekinian. Contoh terkecil ketika kita mendengar bujukan perihal “ada peluang besar untuk karir baru di sini! Bergabunglah!" jangan langsung kita terima tetapi justeru kita tolak dengan kalimat "Terima kasih, tetapi saya lebih memilih tidak". 

Atau pada saat sales-sales properti mempromosikan huniannya dengan cara mengejek kepandiran pengelolaan keuangan kita menggunakan bahasa "Anda belum membeli rumah? Anda hanya membuang-buang uang Anda untuk mengontrak”, harus berani kita jawab "Terima kasih, tetapi saya lebih suka untuk tidak (membelinya)".

Melawan provokasi

Ide mengenai berada di tengah dengan menggunakan I would prefer not to tersebut bisa kita aplikasikan juga pada kehidupan kita saat ini. Yakni, sebuah perlawanan terhadap hoaks dan upaya-upaya memecah bangsa mengepung keseharian kita.

Ketika terdapat berita yang belum jelas kepastiannya, belum bisa dipertanggungjawabkan informasinya, kita melawan untuk tidak ikut menyebarluaskannya. Pun manakala ada ajakan aksi untuk melakukan tindakan okupasi badan jalan, atau berdemonstrasi, yang tujuannya tidak jelas serta diserukan dengan kalimat negatif maka ajakan itu kita tolak.

Penolakan yang kita lakukan bukanlah penolakan karena kebencian. Bukan pula penolakan karena kita hendak membela salah satu pihak. Penolakan yang kita lakukan adalah karena kita berdiri sendiri berada di dunia kita sendiri. Penolakan yang seperti Bartleby lakukan, yakni I would prefer not to.

Menyudahi kegaduhan

Upaya ini, masih mengenai "saya memilih untuk tidak melakukan", adalah salah satu metode untuk menghindari kegaduhan yang lebih besar. Sebab, sejarah membuktikan jika pihak yang dirugikan dari perang itu bukan pihak yang berperang, tetapi masyarakat sipil. 

Penolakan keras melalui semangat sosial I would prefer not to adalah perlawanan atas itu. Perlawanan atas sesuatu yang pada dasarnya kita tidak pernah inginkan terjadi, dan tidak pula terlibat di dalamnya, tetapi sedikit banyaknya kita harus menjadi korban atas itu.

Dan sejatinya, bagi masyarakat Indonesia, bersikap untuk senantiasa berada di tengah, bukanlah sesuatu yang baru. Indonesia, melalui intruksi Presiden Soekarno, pernah melakukannya manakala memilih gerakan non-blok di antara gerakan blok barat dan blok timur yang saling berseteru. 

Non-blok yang I would prefer not to, tidak melakukan pilihan untuk mengekor ke kanan dan tidak pula membebek ke kiri. Tujuan dari gerakan non-blok itu pun untuk memastikan bahwa perdamaian dunia harus segera tercapai dan perang harus segera diakhiri.[]

*Segala gagasan dan opini yang ada dalam kanal ini adalah tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi Medcom.ID. Redaksi menerima kiriman opini dari Anda melalui kolom@medcom.id





(SBH)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id