Wawancara Profesor Ariel Heryanto

Sejarah Tidak Cuma Hitam-Putih

Sobih AW Adnan 19 Desember 2017 19:41 WIB
sejarah bangsa
<i>Sejarah Tidak Cuma Hitam-Putih</i>
ILUSTRASI: Muhammad Rizal/Medcom.id
Jakarta: Dalam sejarah peryoutube-an Indonesia, sebuah video kajian alias seminar mendapat sambutan hangat; amatlah jarang.

Lain lagi dengan sebabak ceramah yang diunggah 22 Oktober 2017 lalu, video mulanya berjudul "Historiografi Indonesia yang Rasis" dan kini The Role of the Global Left Movement in the Fight for Indonesia's Independence ini sudah ditonton 56 ribu kali dan terus dihujani hingga 100 komentar lebih.


Profesor Ariel Heryanto, sosok tunggal dalam ceramah itu memang tampak berhasil mengantarkan pembicaraan yang cenderung berat, menjadi terdengar renyah. Atau barangkali, sebaliknya, tayangan yang juga pernah viral di beberapa platform media sosial ini menunjukkan bahwa kemasan audio visual dianggap lebih mudah dipaham dan digandrungi generasi sekarang.

Dalam tayangan berdurasi 57:48 menit itu, dia memaparkan dengan terang sebuah kritik pencatatan sejarah di Indonesia. Ariel bilang, "Seakan ada bagian yang hilang."

Singkatnya, melalui ceramah yang bersumber dari riset yang didukung Australian Research Council dan Universitas Monash itu, penceramah berusaha menceritakan sisi lain sejarah Indonesia. Termasuk, remah-remah fakta dan kisah yang jarang diangkat dan didengar seacara keumuman.

Sejarah Indonesia, kata Ariel, seolah-olah dikemas terbatas, menggenalisir, dan hanya berbicara dua sudut pandang hitam dan putih.

Sudut pandang semacam itu, bukan tak berimbas. Kekakuan dalam memahami dan mempelajari sejarah, menurut sosok yang kini didaulat sebagai salah satu anggota Australian Academy of the Humanities itu, menjadi salah satu penghambat kemajuan bangsa.

Yang menarik, di akhir ceramahnya Ariel mengatakan:

Jika ada yang bilang tidak mudah menjadi Indonesia, maka saya katakan, benar, jika Anda tidak terbuka.
 


Tangkapan layar video ceramah Profesor Ariel Heryanto/Youtube/Jakartanicus

Beberapa pekan lalu, Medcom.id berhasil mengubungi Profesor Ariel yang kini tinggal di Australia dan menyuguhkan beberapa pertanyaan. Berikut kami tampilkan cuplikan wawancara yang diterima penuh hangat tersebut.

Menurut pembacaan Profesor, apa yang memengaruhi video ceramah Anda banyak dilihat? Lebih berat ke konten atau media?

Menurut saya, faktor yang paling menentukan adalah kehebatan video yang dibuat oleh Jakartanicus. Topiknya kurang menentukan, malahan boleh dibilang tidak populer. Saya bicara tentang dua topik, yakni gerakan global kiri dan sejarah kemerdekaan RI.

Topik gerakan kiri sudah dianggap kedaluwarsa oleh banyak pihak, khususnya di Indonesia dalam setengah abad terakhir. Apalagi topik sejarah masa lampau yang sudah 70 tahun.

Jadi, lebih kepada keberhasilan pengemasan?

Ya. Sebab, kebanyakan publik kita kan sukanya humor politik kontemporer. Atau masalah agama. Ceramah saya tidak membahas tema-tema yang sedang hangat di masyarakat.

Tapi pantas juga dicatat sekadar digunakannya video tidak menjamin populeritas sebuah sajian diskusi. Banyak malahan yang gagal. Jadi populeritas video yang dibikin Jakartanicus itu bukan karena mediumnya video. Tetapi karena medium itu diolah secara sangat cerdas, jitu dan maksimal.

Melalui video itu, Anda mengingatkan bahwa nasionalisme di masa lampau bersifat global, apakah masih relevan?

Jelaslah. Nasion dan nasionalisme itu benda-benda yang diciptakan belum lama dalam sejarah manusia. Baru beberapa ratus tahun belakangan. Dan kelahirannya -tidak bisa tidak- bersifat global atau trans-nasional. Sejak awal, hingga sekarang, dan sampai kapan pun.

Internasionalisme?

Tidak ada nasion atau nasionalisme yang tidak berinduk pada internasionalisme. Setiap nasion, hanya bagian dari kumpulan banyak nasion. Semuanya dianggap punya kedaulatan yang setara. Persis seperti yang dinyatakan dalam Mukadimmah UUD 1945.

Tetapi ada banyak yang menyangkal, alpa, atau berkhianat pada watak internasional tersebut. Lalu yang nasional dipertentangkan dengan yang internasional. Ibarat tangan kanan dianggap bermusuhan dengan tangan kiri, kaki atau kepala dari satu tubuh yang sama.

Itu sebabnya, nasionalisme bukanlah sebuah identitas yang sifatnya suka-rela. Bukan sebuah perkara yang diatur semau-maunya dalam negeri.

Bagaimana dengan wawasan nasionalisme di Indonesia dewasa ini?

Begini, tidak ada orang zaman sekarang yang bisa memilih untuk "tidak punya" kebangsaan. Kita semua dipaksa memiliki paling sedikit satu kebangsaan. Apalagi, bila kita melintasi dari satu negeri ke negeri lain. Petugas imigrasi akan memeriksa dan bertanya: apa kebangsaan kita. Kita tidak bisa bilang "Saya tidak punya kebangsaan dan tidak mau punya".

Kita bisa memilih untuk tidak punya agama. Tetapi, kita tidak bisa memilih untuk tidak punya kebangsaan. Mengapa dan siapa yang memaksa? Sebuah proses dan kesepakatan yang sifatnya mendunia dan mutakhir.
 
Sayang, wawasan internasional dalam kebangsaan atau nasionalisme itu lemah atau lenyap di banyak kalangan di Indonesia.

Apa sebabnya? Apa karena sejarah juga mengandung luka masa lalu?

Benar. Seperti sudah saya katakan dalam ceramah saya, sebagai individu atau sebagai sebuah bangsa, tidak mungkin semua masa lampau dapat atau perlu diingat. Ada hal-hal yang sengaja atau tidak sengaja kita lupakan.

Masalahnya, siapa yang punya wewenang menentuan mana yang layak diingat, dan mana yang perlu dilupakan? Untuk kepentingan apa dan siapa?

Dalam seorang individu, apalagi dalam sebuah bangsa yang besar dan sangat majemuk, ada bagian-bagian dari diri "kita" yang ingin melupakan sesuatu di masa lampau. Bagian dari "kita" yang lain bukan hanya ingin mengingat, tetapi justru melestarikan atau merayakan masa tersebut. Jadi tidak pernah mudah.

Sehingga ada pepatah: sejarah ditulis oleh pemenang yang berkuasa. Persoalannya, tidak ada pemenang atau penguasa yang abadi. Jadi sejarah pun tidak pernah sama dan stabil. Betapa menderita masyarakat dan anak-didik yang tidak memahami sifat "sementara" dan "tidak lengkap" sejarah yang diresmikan oleh yang berkuasa.

Yang dimaksud "dilenyapkan" itu, sumbangsih kelompok kiri, Prof?

Menurut saya, sejarah Indonesia menerima sumbangan dari berbagai ragam pihak. Tidak hanya yang kiri atau hanya yang kanan. Kalau kemarin saya fokuskan pembicaraan pada yang kiri dan dengan dimensi trans-nasional, karena kedua hal ini sudah terlalu lama terabaikan, tertindas, terhapus.

Harapan saya sangat sederhana. Kita perlu sejarah tentang manusia dengan segala kehebatannya dan kebejatannya. Bukan sejarah yang berisi kisah tentang malaikat yang serba hebat dan iblis yang serba jahat. Kehebatan dan kebejatan manusia dalam sejarah itu bukan milik golongan tertentu. Bukan dari etnis, agama atau jenis kelamin tertentu. Tapi semuanya.

Hanya sejarah masa lampau yang disusun secara jujur dan terbuka --juga terbuka pada kisah-tandingan-- akan memberikan hikmah dan modal penting bagi kita di masa ini untuk menatap masa depan.

Dampak "kekeliruan" sudut pandang itu berpengaruh besar pada pembentukan ketokohan. Bagaimana dengan gelar pahlawan yang diberikan dari tahun ke tahun?

Tentu saja. Pilihan tokoh dan kepahlawanan hanya bisa ditentukan, diarahkan dan dibatasi oleh wawasan dan kesadaran kita tentang sejarah.

Kalau kita buta-warna, kita hanya bisa membedakan dan memilih obyek sebagai lebih hitam atau lebih putih. Kita tidak bisa membicarakan, apalagi mengagumi warna-warna seperti merah, biru kuning atau hijau.


Tanggung jawab siapa?

Sejauh pemahaman saya ada beda antara ritual menciptakan dan menghormati pahlawan seperti yang dilakukan lembaga kenegaraan di berbagai tempat di dunia, dan pemahaman kritis serta penelitian kesejarahan. Yang pertama, akan cenderung hitam-putih. Yang kedua, menikmati warna-warni yang lebih kaya. Masing-masing punya wilayah kerja yang berbeda, walau bisa saling melengkapi dan sesekali diselingi sengketa. Biarlah politikus negara yang menjawab. Saya cuma seorang peneliti akademik.[]





(SBH)