Dalam dua hari terakhir, nilai rupiah menguat secara signifikan, sebuah kecenderungan yang tidak pernah kita saksikan sebelumnya bahkan dalam tujuh bulan terakhir.
Pada Senin (5/10), misalnya, rupiah diperdagangkan pada posisi 14.503 per dolar AS atau menguat 105 poin jika dibandingkan dengan posisi penutupan perdagangan hari sebelumnya di level 14.600-an.
Penguatan ini berlanjut kemarin, ketika mata uang kita mampu menembus kisaran 14.200 per dolar AS. Harus kita katakan bahwa penguatan ini sangat signifikan sekaligus fenomenal karena menguat hingga lebih dari 300 poin.
Penguatan ini tentu patut kita sambut gembira. Kita bersyukur bahwa setelah tertatih-tatih selama tujuh bulan, sinyal atas kembali bergairahnya iklim perekonomian kita akhirnya muncul.
Pelemahan nilai tukar rupiah, selama ini, dijadikan in di kator bahwa iklim perekonomian melesu. Dengan menguatnya rupiah secara signifikan, otomatis hal itu telah menguatkan pula optimisme pasar.
Namun, gejala positif ini tidak boleh kita sikapi secara berlebihan dalam arti merespons penguatan itu secara overconfidence. Kewaspadaan dan kecermatan atas pergerakan nilai mata uang kita harus terus kita kelola.
Apalagi, ada analisis yang menyatakan penguatan itu terjadi akibat aksi jual besar-besaran di pasar modal ataupun pasar uang yang berlangsung di berbagai wilayah emerging market.
Tren yang dilaporkan tengah berlangsung ialah para investor tengah bersiap membeli aset-aset di negara-negara berkembang termasuk di Indonesia sehingga para fund manager berbondong-bondong melepaskan dolar AS sekaligus memburu mata uang lokal.
Jika itu benar, artinya penguatan nilai tukar rupiah dalam dua hari terakhir mirip dengan gejala awal pelemahannya yang sangat dipengaruhi oleh faktor eksternal.
Menyambut positif penguatan rupiah tentu boleh-boleh saja. Namun, hal itu harus disertai dengan sikap kehati-hatian sekaligus upaya untuk memanfaatkan sentimen positif tersebut menjadi benefit yang riil bagi perekonomian.
Dalam kaitan itu, harus kita apresiasi langkah pemerintah yang telah meluncurkan paket kebijakan ekonomi tahap II yang disambut positif oleh pasar.
Iklim positif yang mulai terbangun dari menguatnya nilai tukar rupiah itu harus dijaga dan dirawat agar ia tidak menjadi gejala temporer belaka. Pemerintah tidak boleh menyia-nyiakan momentum positif tersebut untuk menguatkan ekonomi.
Dengan langkah yang cermat dan tepat, momentum positif ini dapat menjadi titik balik sekaligus mengentaskan perekonomian kita dari kelesuan. Inilah yang ingin kita lihat dari kebijakan ekonomi tahap III yang akan diluncurkan pemerintah.
Kita mewanti-wanti benar pemerintah agar mengubah momentum penguatan rupiah menjadi benefit nyata bagi bergairahnya kembali iklim perekonomian.
Salah satu kuncinya ialah paket kebijakan ekonomi tahap III harus tepat dan lebih implementatif. Blunder kebijakan tidak boleh terjadi.
