Lagi-lagi kabut asap membuat kita kalang kabut. Tak cuma menimbulkan kerugian ekonomi, kabut asap jelasjelas membuat kualitas hidup warga di sejumlah wilayah di Sumatra dan Kalimantan berada di titik terburuk. Mereka menjalani hidup sehari-hari dengan bertumpu pada udara yang jauh dari menyehatkan, bahkan tak jarang di level yang sangat berbahaya.
Ratusan ribu manusia menderita beragam penyakit akibat asap yang tak kunjung sirna itu. Infeksi saluran pernapasan atas alias ISPA, penyakit paru, penyakit asma, dan penyakit kulit begitu leluasa menyerang warga. Bahkan, paling tidak sudah tiga nyawa melayang lantaran kabut asap pekat.
Tak cuma memantik nestapa di dalam negeri, warga Singapura dan Malaysia juga meradang. Lagi-lagi kebakaran lahan dan hutan membuat malu nama bangsa Indonesia di mata negara tetangga.
Kita prihatin, amat prihatin, dengan penderitaan panjang sesama anak bangsa lantaran kabut asap. Begitu berat derita, dan ironisnya mereka tidak tahu kapan penderitaan itu akan berlalu.
Tak ada lagi daya untuk mengapungkan asa agar kebakaran secepatnya bisa diatasi. Tiada lagi sisa suara untuk melantunkan permohonan kepada pemerintah daerah dan pusat agar selekasnya memadamkan api. Semua sudah mereka lakukan, tetapi sampai sekarang api terus berkobar, asap bahkan kian menebal.
Celakanya lagi, ketika kian hari penderitaan rakyat kian berat akibat kabut asap, pemerintah seakan kehabisan cara untuk mengatasi kebakaran. Bahkan, Badan Nasio nal Penanggulangan Bencana (BNPB) sebagai ujung tombak penanganan setiap bencana di Tanah Air mulai mengibarkan bendera putih. Mereka pasrah, menyerah, dan tinggal berharap pada kebaikan alam untuk memadamkan kebakaran.
Kepala BNPB Willem Rampangilei terang-terangan mengaku tanpa hujan, mustahil bencana asap akibat kebakaran lahan dan hutan bisa teratasi. Artinya, rakyat mesti menunggu lebih lama untuk lepas dari derita asap karena Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika memprediksi hujan baru akan turun di wilayah-wilayah kebakaran pada akhir tahun ini.
Benar bahwa memadamkan kebakaran di lahan yang begitu luas bukan pekerjaan gampang. Juga benar bahwa seabrek rintangan menghadang, salah satunya kebakaran banyak melanda lahan gambut dengan kedalaman hingga 12 meter. Belum lagi musim kemarau tahun ini teramat kering dan panjang sehingga amat mudah memantik api.
Namun, tidak ada satu pun alasan bagi negara untuk menyerah. Negara ada untuk menjamin hak-hak warganya termasuk hak untuk menikmati hidup berkualitas terbebas dari udara yang mencekik akibat asap, bagaimanapun caranya. Karena itu, sudah semestinya pemerintah baik daerah maupun pusat lebih total lagi berupaya memadamkan kebakaran.
Jika memang sumber daya seperti dari TNI-Polri untuk memadamkan api kurang, segeralah tambah. Jika peralatan pemadaman memang minim, segeralah diperbanyak, kalau perlu sewa dari luar negeri.
Jutaan rakyat menunggu bukti bahwa semua upaya itu betul-betul membuahkan hasil nyata. Negara mesti melakukan apa pun untuk secepatnya melepaskan rakyat dari siksaan kabut asap sembari memastikan siksaan itu tak terulang di tahun-tahun mendatang.
