Mendes Abdul Halim Iskandar dalam acara Selamatan Sewindu UU Desa di Sukabumi, Jawa Barat, Sabtu, 15 Januari 2022.
Mendes Abdul Halim Iskandar dalam acara Selamatan Sewindu UU Desa di Sukabumi, Jawa Barat, Sabtu, 15 Januari 2022.

Desa Peternakan Terpadu Diyakini Sokong Ketahanan Pangan Nasional

Nasional Ketahanan Pangan desa tertinggal bumdes pembangunan desa Kemendes PDTT
Arga sumantri • 15 Januari 2022 22:51
Jakarta: Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Mendes PDTT) Abdul Halim Iskandar optimistis Desa Peternakan Terpadu Berkelanjutan menyokong ketahanan pangan hewani Indonesia. Ketersediaan lahan pangan di desa semakin menegaskan potensi tersebut.
 
Ia menjelaskan pada Akhir 2021, Desa Peternakan Terpadu Berkelanjutan mulai dijalankan tujuh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Bersama di tujuh kabupaten dan tujuh provinsi sebagai pilot project. Tahun ini, kata dia, program tersebut didukung pemerintah melalui Peraturan Presiden Nomor 104 Tahun 2021 tentang Perincian APBN 2022.
 
"Bahwa 20 persen dana desa digunakan untuk program ketahanan pangan dan hewani. Saya optimis, Desa akan membuka jalan kedaulatan pangan Indonesia," ujar Halim dalam keterangan tertulis, Sabtu, 15 Januari 2022.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Baca: Jokowi Luncurkan 1.604 Sertifikat Badan Hukum BUMDes
 
Halim menjelaskan Desa Peternakan Terpadu Berkelanjutan ini merupakan konsep peternakan komunal yang dikelola BUMDes Bersama. Bentuknya adalah penggabungan beberapa komoditi unit usaha peternakan pada satu pasar di suatu daerah. 
 
Desa-desa yang berpotensi di sektor peternakan akan dikembangkan sebagai sentral-sentral penyedia daging. Baik dari sapi, kambing, ayam, hingga pusat holtikultura. 
 
"Melalui program ini akan terintegrasi pengelolaan peternakan dari hulu ke hilir. Dari penggemukan hingga kotoran ternak harus memberi nilai ekonomisnya," ungkapnya.
 
Selain untuk kesejahteraan masyarakat desa itu sendiri, kata dia, program ini bertujuan menekan menurunkan kebutuhan impor dengan meningkatkan ketahanan pangan. Khususnya, pemenuhan kebutuhan daging dan swasembada daging sapi nasional.
 
Berdasar data Kemendes PDTT, sejak 2015-2020, produksi daging sapi di Indonesia mengalami fluktuasi. Dalam rentang waktu tersebut, produksi daging sapi mencapai titik tertinggi yaitu 518.484 ton pada 2016, naik 2,3% dari tahun sebelumnya. 
 
Kemudian, produksi daging sapi turun lagi menjadi 486.319,7 ton pada 2017. Tahun berikutnya, kembali mengalami kenaikan menjadi 497.971,7 ton. 
 
"Tahun 2019 naik menjadi 504.802,29 ton, dan pada tahun 2020 mengalami peningkatan kembali mencapai 515.627,74 ton," ujarnya.
 
 
  • Halaman :
  • 1
  • 2
Read All



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif