Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia Abdul Manan (Foto: Medcom.id/Nur Azizah)
Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia Abdul Manan (Foto: Medcom.id/Nur Azizah)

Pemerintah Dituding Tak Sensitif Kebebasan Pers

Nasional kekerasan terhadap wartawan
Nur Azizah • 08 Februari 2019 14:55
Jakarta: Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia menyebut pemerintah tak peka terhadap kebebasan pers. Ini bermula ketika pemerintah memberikan remisi terhadap I Nyoman Susrama, pembunuh jurnalis Radar Bali AA Gde Bagus Narendra Prabangsa.
 
Susrama diberikan remisi dari vonis seumur hidup menjadi pidana kurungan 20 tahun penjara. Hal ini tertuang di Keputusan Presiden Nomor 29 Tahun 2018.
 
"Memberikan remisi kepada pembunuh wartawan sama saja pemerintah tidak konsen terhadap perlindungan pada wartawan dan tidak peka kebebasan pers," kata Ketua AJI Indonesia Abdul Manan di gedung Komnas HAM, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat 8 Februari 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Manan menuturkan, pemberian remisi kepada Susrama berarti memberi peluang terhadap kekerasan pers. Ia khawatir, kebijakan pemerintah dapat memicu kekerasan serupa.
 
Baca juga:Pemberian Remisi Pembunuh Jurnalis Dinilai Ganjil
 
"Keringanan yang diberikan membuat pelaku tidak jera. Ini bisa menghambat jurnalis dalam menjalankan fungsinya sebagai kontrol sosial. Mereka jadi takut memberitakan soal korupsi dan kekerasan yang dilakukan korporasi," ungkapnya.
 
Manan meminta Pemerintah mencabut pemberian remisi terhadap Susrama. Bila tidak, AJI bakal menggugat Kementerian Hukum dan HAM terkait Undang-undang keterbukaan publik dan ke Pengadilan Tata Usaha Negara.
 
"Kami juga akan minta masyarakat untuk menandatangani petisi online untuk menolak remisi tersebut," pungkas Manan.
 
Kasus pembunuhan AA Gde Bagus Narendra Prabangsa terjadi pada 2009. Susrama, yang merupakan adik pejabat Bangli, membunuh jurnalis Radar Bali terkait kasus dugaan penyimpangan proyek di Dinas Pendidikan. Mayat Prabangsa ditemukan di laut Padangbai, Klungkung, 16 Februari 2009, dalam kondisi mengenaskan.
 
Baca juga:Upah Rendah dan Kekerasan Masih Mengancam Jurnalis Indonesia
 

(MEL)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif