Politikus NasDem Willy Aditya. Foto: Medcom.id/Amaluddin
Politikus NasDem Willy Aditya. Foto: Medcom.id/Amaluddin

Cara NasDem Melahirkan Pemimpin Berintegritas

Nasional Partai NasDem
Arga sumantri • 10 Desember 2019 16:17
Jakarta: Partai NasDem berkomitmen melahirkan pemimpin berintegritas. Sejumlah cara diterapkan saat merekrut calon pemimpin.
 
"Rekrutmen tanpa mahar ini sudah dilakukan," kata politikus NasDem Willy Aditya kepada Medcom.id, Selasa, 10 Desember 2019.
 
Willy menilai komitmen tanpa mahar seharusnya mutlak diterapkan partai politik. Instrumen ini dinilai paling ampuh buat menekan ongkos politik dan mencegah pemimpin korupsi.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Bagaimana orang mau berintegritas kalau kita di awal saja sudah mengikatkan batu di kakinya, bagaimana dia mau terbang," kata dia.
 
Dia melanjutkan, harus ada titik tengah antara popularitas dan elektabilitas dalam proses rekrutmen calon pemimpin. Dia mengakui tidak semua partai punya pemahaman yang sama saat menyeleksi calon pemimpin.
 
Dia menyebut partai baru seperti NasDem harus menjadi partai modern dengan cara membuka diri. "Tinggal membuka diri itu instrumennya apa? Nah kalau NasDem kan menggunakan rekrutmen terbuka untuk putra putri terbaik," ucap dia.
 
Paradigma ini tidak sama dengan partai lama seperti PDI Perjuangan atau Golkar. Willy menuturkan partai lama cenderung tidak merekrut secara terbuka.
 
"Karena apa? Karena mereka sudah punya banyak stok. Seperti NasDem kan pilihannya tentu membuka diri," ujar Willy.
 
Willy melanjutkan,demokrasi Indonesia harus lebih dimatangkan dengan memaksimalkan partisipasi rakyat. Saat ini, rakyat tidak boleh cuma siap mengusung tapi juga didorong mendanai. Pola ini diterapkan di Amerika Serikat.
 
"Di Amerika banyak politikus hebat, pemimpin hebat, itu lahir didanai oleh rakyat," ujar Willy.
 
Dia menuturkan, demokrasi terbuka dan cenderung liberal yang dianut Indonesia berbiaya mahal. Konsolidasi kapital dianggap hampir menjadi indikator paling dominan dalam proses demokrasi.
 
"Kalau kita menghidupkan demokrasi liberal senang tidak senang, suka tidak suka, mau kapital, itu pertarungan kapital tidak terelakkan," kata dia.
 

(REN)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif