Jakarta: Wakil Ketua DPR Rachmat Gobel menginginkan Indonesia harus mandiri di bidang kesehatan. Hal ini merespons pidato kenegaraan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang menyebut kemandirian industri obat, vaksin, dan alat-alat kesehatan masih menjadi kelemahan serius yang harus dicarikan solusi bersama.
"Indonesia harus mandiri dan merdeka dalam pengadaan obat, vaksin, dan alat-alat kesehatan," tegas Gobel melalui keterangan tertulis, Senin, 16 Agustus 2021.
Gobel mendukung keinginan Jokowi untuk mewujudkan Indonesia yang mandiri di bidang kesehatan. Pandemi covid-19, menurut dia, harus menjadi pelajaran berharga bagi Indonesia.
"Ketergantungan kita terhadap impor obat, vaksin, dan alat-alat kesehatan telah menjadikan kita kesulitan untuk mendapatkannya, harganya menjadi mahal, dan yang utama mengancam nyawa rakyat kita," jelasnya.
Baca: BOR di Indonesia Turun Jadi 48,14%
Legislator dari daerah pemilihan Gorontalo itu menilai isu kesehatan telah menyangkut ketahanan nasional serta kedaulatan bangsa dan negara. Menurut dia, pandemi juga telah menunjukkan bahwa infrastruktur dan ekosistem kesehatan Indonesia ternyata belum kuat.
Gobel mengatakan, merdeka dan mandiri di bidang kesehatan harus dijabarkan lebih lanjut dengan menyiapkan infrastruktur dan ekosistemnya. Seperti regulasi, riset, investasi, industri kesehatan, layanan kesehatan, dan sumber daya manusia (SDM).
"Indonesia juga kaya bahan baku. Belanda dulu menjajah Indonesia karena mencari rempah-rempah dan herbal. Itu kan bagian dari dunia kesehatan juga," katanya.
Gobel meminta pemerintah bertindak nyata agar pidato Presiden terwujud. Misalnya dengan mendorong investor untuk berinvestasi di bidang-bidang tersebut. "Berikan kemudahan," tegasnya.
Apabila ada industri dalam negeri yang memproduksi obat, vaksin, dan alat-alat kesehatan, kata dia, pemerintah harus mengutamakan produk dalam negeri. Sikap ini harus serius dan dikawal secara khusus.
"Sehingga jangan sampai tong kosong nyaring bunyinya. Kadang-kadang ini masalah di tingkat pelaksana yang tidak memahami visi Presiden," ungkapnya.
Gobel menyampaikan setidaknya empat poin yang harus menjadi perhatian pemerintah. Pertama, Indonesia harus mandiri dan merdeka di bidang kesehatan.
Kedua, ketergantungan obat, vaksin, dan alat-alat kesehatan. Selain berdampak pada harga yang mahal dan menghabiskan devisa, situasi ini juga berisiko mengakibatkan kelangkaan di saat Indonesia membutuhkannya.
Gobel yakin, lanskap dunia setelah pandemi covid-19 masih didominasi masalah kesehatan. Menurut dia, Indonesia telah berkali-kali menjadi korban dari penyakit akibat virus, seperti flu burung, flu babi, dan sebagainya.
"Ini bukan hanya merongrong kesehatan rakyat tapi juga menggerus kualitas SDM, mengganggu ketahanan nasional, dan menggoyahkan ekonomi nasional," ujarnya.
Ketiga, program 'Bangga Buatan Indonesia' jangan sekadar slogan dan harus dikawal dengan baik. Ia menyebut Kepala negara telah membuat regulasi dan membuat kebijakan tentang Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), namun semua itu butuh pengawalan di lapangan.
"Khususnya dalam belanja pemerintah, belanja BUMN, dan dalam proyek-proyek pemerintah. Harus ada pemihakan dan pengawalan agar produk dalam negeri berdaulat di negerinya sendiri," terangnya.
Keempat, penguatan industri dalam negeri ini selain bisa mengubah Indonesia dari negara konsumen menjadi negara produsen. Dari bangsa pedagang ke negara pencipta. Hal ini, menurut dia, akan memberikan kebanggaan, harga diri, menyerap tenaga kerja, serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia.
"Membangun industri itu bukan hanya soal tenaga kerja, tapi kemampuan mencipta suatu produk," ucap Gobel.
Jakarta: Wakil Ketua DPR Rachmat Gobel menginginkan Indonesia harus mandiri di bidang kesehatan. Hal ini merespons pidato kenegaraan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang menyebut kemandirian industri obat, vaksin, dan alat-alat kesehatan masih menjadi kelemahan serius yang harus dicarikan solusi bersama.
"Indonesia harus mandiri dan merdeka dalam pengadaan obat, vaksin, dan alat-alat kesehatan," tegas
Gobel melalui keterangan tertulis, Senin, 16 Agustus 2021.
Gobel mendukung keinginan
Jokowi untuk mewujudkan Indonesia yang mandiri di bidang kesehatan. Pandemi covid-19, menurut dia, harus menjadi pelajaran berharga bagi Indonesia.
"Ketergantungan kita terhadap impor obat, vaksin, dan alat-alat kesehatan telah menjadikan kita kesulitan untuk mendapatkannya, harganya menjadi mahal, dan yang utama mengancam nyawa rakyat kita," jelasnya.
Baca:
BOR di Indonesia Turun Jadi 48,14%
Legislator dari daerah pemilihan Gorontalo itu menilai isu kesehatan telah menyangkut ketahanan nasional serta kedaulatan bangsa dan negara. Menurut dia, pandemi juga telah menunjukkan bahwa infrastruktur dan ekosistem kesehatan Indonesia ternyata belum kuat.
Gobel mengatakan, merdeka dan mandiri di bidang kesehatan harus dijabarkan lebih lanjut dengan menyiapkan infrastruktur dan ekosistemnya. Seperti regulasi, riset, investasi, industri kesehatan, layanan kesehatan, dan sumber daya manusia (SDM).
"Indonesia juga kaya bahan baku. Belanda dulu menjajah Indonesia karena mencari rempah-rempah dan herbal. Itu kan bagian dari dunia kesehatan juga," katanya.
Gobel meminta pemerintah bertindak nyata agar pidato Presiden terwujud. Misalnya dengan mendorong investor untuk berinvestasi di bidang-bidang tersebut. "Berikan kemudahan," tegasnya.
Apabila ada industri dalam negeri yang memproduksi obat, vaksin, dan alat-alat kesehatan, kata dia, pemerintah harus mengutamakan produk dalam negeri. Sikap ini harus serius dan dikawal secara khusus.
"Sehingga jangan sampai tong kosong nyaring bunyinya. Kadang-kadang ini masalah di tingkat pelaksana yang tidak memahami visi Presiden," ungkapnya.
Gobel menyampaikan setidaknya empat poin yang harus menjadi perhatian pemerintah. Pertama, Indonesia harus mandiri dan merdeka di bidang kesehatan.
Kedua, ketergantungan obat, vaksin, dan alat-alat kesehatan. Selain berdampak pada harga yang mahal dan menghabiskan devisa, situasi ini juga berisiko mengakibatkan kelangkaan di saat Indonesia membutuhkannya.
Gobel yakin, lanskap dunia setelah pandemi covid-19 masih didominasi masalah kesehatan. Menurut dia, Indonesia telah berkali-kali menjadi korban dari penyakit akibat virus, seperti flu burung, flu babi, dan sebagainya.
"Ini bukan hanya merongrong kesehatan rakyat tapi juga menggerus kualitas SDM, mengganggu ketahanan nasional, dan menggoyahkan ekonomi nasional," ujarnya.
Ketiga, program 'Bangga Buatan Indonesia' jangan sekadar slogan dan harus dikawal dengan baik. Ia menyebut Kepala negara telah membuat regulasi dan membuat kebijakan tentang Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), namun semua itu butuh pengawalan di lapangan.
"Khususnya dalam belanja pemerintah, belanja BUMN, dan dalam proyek-proyek pemerintah. Harus ada pemihakan dan pengawalan agar produk dalam negeri berdaulat di negerinya sendiri," terangnya.
Keempat, penguatan industri dalam negeri ini selain bisa mengubah Indonesia dari negara konsumen menjadi negara produsen. Dari bangsa pedagang ke negara pencipta. Hal ini, menurut dia, akan memberikan kebanggaan, harga diri, menyerap tenaga kerja, serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia.
"Membangun industri itu bukan hanya soal tenaga kerja, tapi kemampuan mencipta suatu produk," ucap Gobel.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ADN)