Plt Dirjen Otonomi Daerah Akmal Malik--Foto: Biro Pers Kemendagri.
Plt Dirjen Otonomi Daerah Akmal Malik--Foto: Biro Pers Kemendagri.

Untung Rugi Pemindahan Ibu Kota

Nasional pemindahan ibukota
M Sholahadhin Azhar • 09 Mei 2019 11:11
Jakarta: Plt Dirjen Otonomi Daerah Akmal Malik membeberkan untung rugi pemindahan ibu kota negara. Keuntungan pertama, yakni mendorong penyebaran penduduk.
 
"Karena fakfa 57 persen penduduk Indonesia tinggal di Pulau Jawa," kata Akmal saat FGD Regulasi Otonomi Daerah dalam rangka Rencana Pemindahan Ibu Kota di Arya Duta, Jakarta Pusat, Kamis, 9 Mei 2019.
 
Di Sumatera, Akmal memerinci hanya ada 21 persen penduduk yang tinggal di sana. Sulawesi 7 persen penduduk, Kalimantan 6 persen penduduk dan Papua serta Maluku hanya 2 hingga 3 persen penduduk.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Baca: Presiden Tinjau Kalteng untuk Ibu Kota Baru
 
Dampak dari penyebaran penduduk, kata dia, pembangunan akan lebih merata. Sebab penduduk yang tersebar juga berfungsi sebagai agen perekonomian. Akmal menyebut hal ini ikut memperbaiki iklim investasi nasional.
 
Atas dasar ini, ia menyebut pemindahan ibu kota menarik untuk dikaji dan disikapi secara serius. "Karena Jakarta sebagai ibu kota dinilai sudah tidak layak lagi menjadi ibu kota negara," beber dia.
 
Adapun kerugian ditakar tak terlalu berdampak negatif. Akmal menyebut anggaran yang dikeluarkan relatif besar untuk memindahkan ibu kota. Hal ini pun bisa diredam jika persiapan dilakukan menyeluruh hingga ke segala aspek.
 
Baca: Sayup-sayup Wacana Pemindahan Ibu Kota
 
Selain menakar untung rugi, Akmal juga menjelaskan urgensi pemindahan. Misalnya dari segi pertumbuhan penduduk dan urbanisasi. Di 2015, tercatat 3.647.329 jiwa penduduk pendatang di Jakarta, dan mereka menjadi peduduk tetap.
 
Selain itu, ada peningkatan jumlah kendaraan yang mencapai 1 Juta unit pertahun. Hal ini juga tidak dibarengi dengan peningkatan jumlah jalan di DKI Jakarta baik jalan tol maupun jalan non tol.
 
Dengan demikian, pemindahan ibu kota yang berdasar pada pemikiran Indonesiasentris diperlukan. "Karena selama itu banyak yang berpikir bahwa indonesia adalah java centris yakni pembangunan terpusat di Pulau Jawa," tandas Akmal.
 
(YDH)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif