Siti Hardijanti Rukmana meletakkan rangkaian melati di makam ayahnya, Soeharto, disaksikan Sigit Harjojudanto saat puncak peringatan 1.000 hari wafatnya Soeharto di Cungkup Argosari Astana Giri Bangun, Karangayar, Jawa Tengah, 22 Oktober 2010. Foto: MI/Wi
Siti Hardijanti Rukmana meletakkan rangkaian melati di makam ayahnya, Soeharto, disaksikan Sigit Harjojudanto saat puncak peringatan 1.000 hari wafatnya Soeharto di Cungkup Argosari Astana Giri Bangun, Karangayar, Jawa Tengah, 22 Oktober 2010. Foto: MI/Wi

Dialog Tutut dengan Soeharto Menjelang Lengser

22 Mei 2018 13:24
Jakarta: Jelang dini hari, 20 Mei 2018, Siti Hardijanti Rukmana, membuat catatan harian berjudul 'Bapak Kami Melarang Dendam'. Diary itu bercerita mengenai detik-detik lengsernya Soeharto, sang ayah.
 
Ia unggah catatan kecil itu melalui laman pribadinya tututsoeharto.id. Mbak Tutut, demikian ia disapa, menceritakan bahwa ayahnya melarang anak-anaknya mengembangbiakkan dendam.
 
Berikut pengakuan Tutut menjelang ayahnya lengser setelah memimpin Indonesia selama 32 tahun. (Teks sedikit diedit untuk kepentingan redaksional tanpa mengubah makna)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Bapak Kami Melarang Dendam
 
Dalam heningku di bulan Ramadan ini, teringat suatu peristiwa yang tak akan aku lupakan selamanya. Ketika 20 tahun lalu, Mei 1998, Bapak (Jenderal Besar HM Soeharto) menyatakan berhenti sebagai Presiden.
 
Pada saat Bapak memutuskan untuk berhenti dari jabatan Presiden—karena desakan sejumlah masyarakat dan para politisi—beliau memanggil kami anak-anak. Dan beliau menyampaikan niatnya tersebut.
 
Kami terus terang agak tidak rela kenapa Bapak yang sudah bekerja seluruh hidupnya untuk bangsa dan negara ini diperlakukan demikian. Kami memohon bapak untuk menunda dulu keputusan beliau.

 
Baca: Soeharto-Jokowi Bagai Membandingkan Duren dan Jeruk
 
Bapak bertanya: “Untuk apa?”
 
Kami, terutama adik-adik saya menyatakan: “Bapak itu pendukungnya juga banyak sekali, mereka pun siap untuk maju.”
 
Bapak bertanya: “Apa yang akan kamu lakukan?”
 
Kami jawab: “Mereka siap turun ke jalan dan akan melawan demonstrasi yang sekarang berlangsung, Pak.”
 
Lalu bapak bertanya: “Apa yang kamu dapat setelah itu?”
 
Kami katakan: “Untuk menunjukkan bahwa Bapak tidak salah, Bapak tidak sendiri dan rakyat banyak yang masih loyal dengan Bapak.”
 
Bapak berkata: “Sadarkah kalian, setelah mereka (pendukungmu/yang mendukung Bapak) turun ke jalan, akan banyak lagi korban. Tidak!
 
Bapak tidak mau itu terjadi, hanya untuk mempertahankan kedudukan Bapak dan semakin banyak lagi korban akan berjatuhan. Lebih baik bapak berhenti kalau memang sudah tidak dikehendaki untuk menjadi Presiden.
 
Kalian harus merelakan semua ini. Percayalah bahwa Allah tidak tidur. Dan satu hal, Bapak minta pada kalian semua jangan ada yang dendam dengan kejadian ini. Dan jangan ada yang balas dendam karena dendam tidak akan menyelesaikan masalah.”
 
Kami semua terdiam…
Dialog Tutut dengan Soeharto Menjelang Lengser
Warga melintasi Monumen 12 Mei Reformasi di kawasan Universitas Trisakti, Jakarta, Rabu (9/5/2018). Foto: Antara/Galih Pradipta
 
“Lagi pula kalau kamu balas dendam, belum tentu akan mengubah hidup kalian jadi lebih baik. Yang ada malah mereka yang kalian balas itu belum tentu juga mau menerima dan mereka akan membalas lagi.
 
Masalah pun tidak terselesaikan, malah yang terjadi permusuhan berkepenjangan, sampai kapan, tak ada yang tahu. Bersabarlah anak-anakku karena orang sabar disayang Allah.”
 
Baca: Soeharto Lebih Difavoritkan
 
Terhenyak aku mendengar penjelasan bapak. Rasa haru menyelimuti diriku.
 
Aku bersyukur ya Allah karena kau takdirkan beliau jadi Bapakku. Apa pun kata orang tentang Bapak, beliau salah seorang Putra Bangsa terbaik bagi kami.
 
Apa yang Bapak lakukan ternyata sesuai dengan firman Allah yang berbunyi: “Dan tidaklah sama kebaikan dengan kejahatan. Tolaklah (kejahatan) dengan cara yang lebih baik, sehingga orang yang ada rasa permusuhan antara kamu dan dia akan seperti teman setia.” (QS Fussilat (41): 34)
 
Ya Robb, semoga kebenaran dan kebaikan selalu berpihak pada kami. Mantapkan langkah kami menuju jalan-Mu. Kokohkan taat kami kepada-Mu. Ampuni dosa dan kesalahan Kami. Yang terbaik kiranya Engkau berikan pada kami ya Robb.
 
“Ya Tuhan, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami, serta tetapkanlah pendirian kami. Dan tolonglah kami dalam mengalahkan orang-orang kafir.” (QS Al-Imran (3): 147)

 
(Jakarta, 20 Mei 2018/5 Ramadan 1439 Hijriah, pukul 24.00 WIB)
 
Dialog Tutut dengan Soeharto Menjelang Lengser
Siti Hardijanti Rukmana bersama ayah dan ibunya. Foto: Dok Siti Hardijanti Rukmana
 
Baca: Publik Nilai Tuntutan Reformasi Belum Terpenuhi
 
Soeharto mengumumkan pengunduran dirinya melalui pidato di Istana Merdeka pada 21 Mei 1998 pukul 09.00 WIB. Berikut teks lengkap pengunduran diri presiden berjuluk Bapak Pembangunan Nasional itu:
 
Sejak beberapa waktu terakhir, saya mengikuti dengan cermat perkembangan situasi nasional kita, terutama aspirasi rakyat untuk mengadakan reformasi di segala bidang kehidupan berbangsa dan bernegara. Atas dasar pemahaman saya yang mendalam terhadap aspirasi tersebut dan terdorong oleh keyakinan bahwa reformasi perlu dilaksanakan secara tertib, damai, dan konstitusional.
 
Demi terpeliharanya persatuan dan kesatuan bangsa serta kelangsungan pembangunan nasional, saya telah menyatakan rencana pembentukan Komite Reformasi dan mengubah susunan Kabinet Pembangunan VII. Namun, kenyataan hingga hari ini menunjukkan Komite Reformasi tersebut tidak dapat terwujud karena tidak adanya tanggapan yang memadai terhadap rencana pembentukan komite tersebut.
 
Dalam keinginan untuk melaksanakan reformasi dengan cara sebaik-baiknya tadi, saya menilai bahwa dengan tidak dapat diwujudkannya Komite Reformasi, maka perubahan susunan Kabinet Pembangunan VII menjadi tidak diperlukan lagi.
 
Dengan memperhatikan keadaan di atas, saya berpendapat sangat sulit bagi saya untuk dapat menjalankan tugas pemerintahan negara dan pembangunan dengan baik. Oleh karena itu, dengan memperhatikan ketentuan Pasal 8 UUD 1945 dan secara sungguh-sungguh memperhatikan pandangan pimpinan DPR dan pimpinan fraksi-fraksi yang ada di dalamnya, saya memutuskan untuk menyatakan berhenti dari jabatan saya sebagai Presiden RI terhitung sejak saya bacakan pernyataan ini pada hari Kamis, 21 Mei 1998.
 
Pernyataan saya berhenti dari jabatan sebagai Presiden RI saya sampaikan di hadapan saudara-saudara pimpinan DPR dan juga adalah pimpinan MPR pada kesempatan silaturahmi. Sesuai Pasal 8 UUD 1945, maka Wakil Presiden RI, Prof. Dr. Ing. BJ Habibie yang akan melanjutkan sisa waktu jabatan Presiden/Mandataris MPR 1998-2003.
 
Atas bantuan dan dukungan rakyat selama saya memimpin negara dan bangsa Indonesia ini saya ucapkan terima kasih dan minta maaf bila ada kesalahan dan kekurangan-kekurangannya semoga bangsa Indonesia tetap jaya dengan Pancasila dan UUD 1945.
 
Mulai hari ini pula Kabinet Pembangunan VII demisioner dan kepada para menteri saya ucapkan terima kasih. Oleh karena keadaan tidak memungkinkan untuk menyelenggarakan pengucapan sumpah di hadapan DPR, maka untuk menghindari kekosongan pimpinan dalam menyelenggarakan pemerintahan negara, kiranya saudara wakil presiden sekarang juga akan melaksanakan sumpah jabatan presiden di hadapan Mahkamah Agung RI.

 
Video: Survei Indo Barometer: Soeharto Presiden RI Paling Berhasil

 
(UWA)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif