Soeharto-Jokowi Bagai Membandingkan Duren dan Jeruk

Whisnu Mardiansyah 20 Mei 2018 17:49 WIB
Demokrasi Indonesia
Soeharto-Jokowi Bagai Membandingkan Duren dan Jeruk
Rilis survei Indo Barometer soal 20 tahun reformasi - Medcom.id/Whisnu Mardiansyah.
Jakarta: Lembaga survei Indo Barometer merilis hasil evaluasi 20 tahun pascareformasi. Salah satu hasil survei menyatakan Soeharto dinilai presiden paling berhasil di antara presiden-presiden lainnya di Indonesia.

Menanggapi hal ini, politikus PDIP Budiman Sudjatmiko, menilai tak seimbang membandingkan Presiden Joko Widodo dengan Presiden kedua RI Soeharto. Terlebih, Soeharto memiliki kontrol penuh terhadap jalannya pemerintahan. 

"Membandingkan presiden-presiden setelah reformasi dengan Pak Harto, itu seperti membandingkan orang yang punya modal besar, modal waktu, modal kekuasaan," kata Budiman di kawasan Senayan, Jakarta Pusat, Minggu, 20 Mei 2018.


Budiman menilai wajar, publik menilai Soeharto sebagai presiden yang paling berhasil. Pasalnya, durasi kepemimpinan dan kewenangan yang dimilikinya saat itu lebih banyak daripada presiden pascareformasi.

(Baca juga: Soeharto Lebih Difavoritkan)

"Pascareformasi kan cuma tiga tahun, dua tahun, lima tahun. Pak Harto 32 tahun. Jadi ini seperti membandingkan duren dan jeruk," tutur dia. 

Sebelumnya, Lembaga riset Indo Barometer melakukan surveinya mengenai evaluasi 20 tahun refomasi. ‎Dalam survei yang melibatkan 1.200 responden tersebut, publik menilai Soeharto merupakan presiden paling berhasil di Indonesia dengan angka 32,9 persen, kemudian disusul Soekarno 21,3 persen, Joko Widodo 17,8 persen, dan Susilo Bambang Yudhoyono 11,6 persen.

"Hasil tersebut berbeda dengan survei yang digelar 7 tahun lalu di era pemerintahan SBY, di mana publik menilai Soeharto presiden paling berhasil 40,5 persen, SBY 21,9 persen, Soekarno 8,9 persen, Megawati 6,5 persen, Habibie 2 persen, dan Gusdur 2 persen," ujar Direktur Eksekutif Indo Barometer Muhammad Qodari di Kawasan Senayan, Jakarta, Minggu, 20 Mei 2018.

Survei ini dilakukan sejak 15-22 April 2018 dari 34 provinsi di Indonesia. Jumlah sampel sebanyak 1.200 responden dengan margin of error sebesar 2,83 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen. 





(REN)