Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang Brodjonegoro (kiri). ANT/Audy Alwi.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang Brodjonegoro (kiri). ANT/Audy Alwi.

Tiga Alternatif Pemindahan Ibu Kota

Nasional pemindahan ibukota
Damar Iradat • 29 April 2019 17:38
Jakarta: Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang Brodjonegoro memaparkan tiga alternatif dalam rencana pemindahan Ibu Kota Negara. Tiga alternatif ini sudah disodorkan kepada Presiden Joko Widodo melalui kajian mendalam.
 
Alternatif pertama, Ibu Kota tetap berada di Jakarta, tetapi dibuat distrik khusus pemerintahan di sekitar Istana Kepresidenan dan Monumen Nasional. Distrik itu diperuntukan bagi gedung pemerintahan.
 
"Ini alternatif pertama, yang berarti harus mengubah peruntukan di wilayah sekitaran Istana dan Monas," ujar Bambang dalam rapat terbatas di Kantor Presiden, Jakarta, Senin, 29 April 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Baca juga: Jakarta Dinilai Tak Lagi Layak Jadi Ibu Kota
 
Bambang menyebut gedung pemerintah akan dibuat terhubung dengan transportasi umum seperti LRT dan monorail. Sehingga, mobilitas antargedung lebih mudah.
 
Pilihan ini memiliki kerugian. Jakarta tetap menjadi pusat bagi seluruh aktivitas di Indonesia. Bambang khawatir dampak urbanisasi terhadap ekonomi tak optimal.
 
Alternatif kedua seperti yang dilakukan Malaysia dengan memindahkan pusat administrasi ke Putrajaya. Indonesia juga bisa memindahkan Ibu Kota ke wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek). Namun, alternatif ini membutuhkan lahan luas.
 
Dalam alternatif kedua, Ibu Kota baru harus berada dalam radius 60 hingga 70 kilometer dari Jakarta. Salah satu daerah potensial adalah Jonggol, Bogor, seperti yang diusulkan Presiden Suharto dan wilayah Maja, Banten.
 
"Kelemahannya adalah, tetap membuat perekonomian Indonesia terpusat di daerah Jakarta dan sekitarnya atau wilayah metropolitan Jakarta," jelas dia.
 
Sementara itu, alternatif ketiga yakni memindahkan Ibu Kota langsung ke luar Jawa. Ia mencontohkan Brazil yang sukses memindahkan pusat Ibu Kota dari Rio de Janeiro ke Brasilia.
 
Alternatif ketiga diharapkan dapat menyebarkan perekonomian Indonesia, tidak hanya terpusat di Pulau Jawa. Apalagi, Pulau Jawa menyumbang 58 persen dari penerimaan domestik bruto (PDB) saat ini.
 
Di sisi lain, pemindahan Ibu Kota ke luar Jawa juga harus memenuhi syarat utama, yakni ketersediaan lahan yang luas. Bambang mengusulkan lokasi alternatif ketiga berada di tengah wilayah Indonesia.
 
Wilayah itu juga harus memperhitungkan barat ke timur atau utara ke selatan. Hal ini untuk merepresentasikan keadilan dan mendorong percepatan khususnya wilayah timur Indonesia.
 
"Jadi kita dorong Ibu Kota yang Indonesiasentris," tegasnya.
 
Baca juga: Presiden Pimpin Ratas Rencana Pemindahan Ibu Kota
 
Di sisi lain, kriteria Ibu Kota baru juga harus bebas bencana gempa bumi, gunung berapi, tsunami, banjir, erosi, maupun kebakaran hutan dan lahan gambut. Jadi, pemerintah harus mencari lokasi yang benar-benar minim dari segi risiko bencana.
 
"Selain itu harus tersedia sumber daya air yang cukup dan bebas pencemaran lingkungan," tandas mantan Menteri Keuangan itu.

 

(DRI)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif