Sang strategist betulan harus mempunyai strategic thinking yang meracik intuisi yang membubung tinggi di langit industri dengan rasionalitas tajam
Sang strategist betulan harus mempunyai strategic thinking yang meracik intuisi yang membubung tinggi di langit industri dengan rasionalitas tajam

Inovasi Sistematis: Ketika Blue Ocean dan Core Competency Beradu

Nasional Prasetiya Mulya
M Studio • 26 April 2018 08:10
MENCIPTAKAN Kebetulan
 
Terkesima mendengar penuturan Dr. Boenyamin Setiawan (Co-Founder Kalbe Group) membangun bisnis Kalbe adalah hal yang super lumrah. Cerita beliau memulai bisnis dari garasi legendaris, idealisme kecintaan akan ilmu pengetahuan yang terus menggelora sampai ke Pyongyang, mencoba meniru incumbent, sampai Kalbe bisa membangun organisasi yang menjadi industry shaper, seperti Stem Cell & Cancer Indonesia (SCI), laksana menyaksikan drama kolosal yang mengalir terangkai dengan apiknya.
 
“Dr.Boen, …maaf dari 30 menit cerita dokter, saya hitung sudah lebih dari tujuh kali dokter menyebutkan kata “kebetulan” , maaf dok apakah ini benar-benar “kebetulan” ?”, tanya saya yang mencoba meresapi rahasia hikmat kedigdayaannya. Dr. Boen tidak menjawab, tetapi hanya tersenyum penuh arti, mengingatkan saya akan senyum khas Colonel John “Hannibal” Smith (pemimpin empat protagonist pada serial TV “The A Team” tahun 80-an). Hannibal sang strategist biasanya setelah The A-Team memenuntaskan suatu operasi heroiknya yang inovatif, selalu tersenyum penuh kemenangan, sambil berkata, ”I love it when a plan comes together." Sepertinya kemenangan itu terlalu indah dan berbau kebetulan, tetapi sang strategist tahu itu semua adalah hasil racikan intuisi dan rasionalitasnya yang menciptakan kebetulan yang indah.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


”I Love It When A Plan Comes Together”
 
Kebetulan itu betul-betul diciptakan oleh sang strategist betulan. Sang strategist betulan harus mempunyai strategic thinking yang meracik intuisi yang membubung tinggi di langit industri dengan rasionalitas tajam yang sangat membumi, menghasilkan terobosan bisnis yang inovatif. Namun agar “plan” ini “comes together”, sang strategist betulan juga harus mempunyai system thinking untuk memetakan inisiatifinisiatif inovatif yang sepertinya masih berupa gerakan-gerakan random yang tidak beraturan, untuk dicari hubungan sebab-akibatnya, sehingga tergambar suatu pola yang teratur. Kalau sang strategis berhasil ‘menemukenali’ pola terobosan inovatif tersebut dan mampu membiakkannya ke tantangan bisnis berikutnya-menurut Peter Drucker--inilah yang disebut dengan “Systematic Innovation”, karena Drucker mencirikan sebagai “Innovation resulting from an intentional and organized process to evaluate opportunities to introduce change”.
 
Systematic Innovation
 
Mazhab Market Based Strategy menyarankan pemimpin bisnis, untuk menghasilkan terobosan inovasi, kita harus senantiasa ‘menemukenali’ kebutuhan pelanggan yang selalu berkembang dinamis. Tetapi sering kali perspektif ini akhirnya membawa setiap pemain di industri bermain di customer value yang mirip-mirip beda tipis, yang ujungnya bermuara ke suatu persaingan berdarah-darah yang disebut Red Ocean. Untuk itu pemain yang mau survive harus melakukan Inovasi Nilai (Value Innovation), untuk mencetak nilai pelanggan yang baru dan menciptakan apa yang disebut Blue Ocean, di mana kompetisi lama menjadi tidak relevan.
 
Inovasi Sistematis: Ketika Blue Ocean dan Core Competency Beradu
 
Sebaliknya mazhab Resources Based Stategy menawarkan perspektif yang berbeda arah. Dari pada pusing-pusing terlebih dulu memikirkan kebutuhan pelanggan, mari cari di dalam organisasi yang bersifat VRIO (Valuable-berharga, Rare-jarang, UnIimitable-sulit ditiru pesaing, Organized-melekat pada organisasi, bukan individual), yang disebut dengan Kompetensi Inti (Core Competency). Dengan Core Competency harapannya kita bisa menciptakan customer value yang hampir tidak mungkin diberikan oleh para pesaing kita. Namun, sama seperti mazhab Market Based, mazhab ini juga punya kelemahan ketika core competency menciptakan (yang sepertinya) customer value yang tidak dibutuhkan pelanggan (walalupun sudah di-edukasi habis-habisan) atau customer value yang “belum” dibutuhkan pelanggan (“offside” customer value).
 
Untuk menuai kelebihan dan membuang kelemahan kedua mazhab ini dan, maka kita perlu mengkombinasi keduanya secara complementary, untuk memastikan Systematic Innovation ini tetap bisa bermegah dalam semua keadaan external dan internal, seperti pada diagram berikut.
 
Tentu saja bukan hal yang mudah melakukan elaborasi- justifikasi external & internal secara simultan. Kembali dibutuhkan system thinking untuk memastikan keduanya berjalan secara harmonis. Kita sedang memadu-padankan Blue Ocean dengan Core Competency!
 
When Blue Ocean and Core Competency Collide
 
Mari kita gambarkan secara sistemik pertemuan Blue Ocean dengan Core Competency dengan “Strategy Map”, yang menggunakan empat perspektif : FIN (finance), CUS (customer), PROC (Internal Business Process), dan L &G (Learning and Growth), seperti berikut.
 
Inovasi Sistematis: Ketika Blue Ocean dan Core Competency Beradu
 
INSTITUTIONALIZATION - Culture of Innovation
 
Semuanya dimulai dengan pemimpin. Pemimpin yang mengamalkan Tipping Point Leadership, yang berhasil mengungkit organisasi mencapai titik baliknya. Tipe pemimpin ini melalui visioning yang terarah akan menginspirasikan paradigma baru organisasi melihat industrinya dengan design thinking. Pemimpin tipe ini juga merupakan coach yang andal mengembangkan kapabilitas organisasi dengan bantuan Knowledge Management yang melimpah. Ia juga merupakan networker ulung yang mampu mengajak semua melakukan joint-learning (ini disebut dengan Open Innovation). Akibatnya secara akumulatif kapabilitas organisasi akan meningkat secara significant jauh di atas ratarata pesaing. Secara bersamaan pemimpin tipe ini juga mempunya mata tajam mengakuisisi resouces yang baginya merupakan the next growth engine.
 
Muara dari kerja keras pemimpin ini adalah terciptanya budaya inovasi. Setiap insan yang masuk dalam organisasi ini akan dipaksa-rela menjadi insan yang inovatif. Mengapa tidak,ini pasti karena design thinking merupakan pola pikir sehari –hari di organisasi ini, sumber daya strategis selalu tersedia, dan kapabilitas selalu di-upgrade. Alhasil di sini kita tidak perlu orang sejenius Einstein untuk melakukan inovasi, cukup dengan orang kebanyakan, yang bukan super person, tetapi system person.
 
INVENTION - New Business Idea
 
Perpaduan optimal dari kapabilitas mumpuni dengan strategic resources dari suatu organisasi akan melahirkan core competency, yang merupakan senjata pamungkas organisasi untuk bukan hanya memenangkan kompetisi tetapi membentuk arah industri. Agar kompetensi inti ini tidak menganggur, maka adalah tugas pemimpin untuk mereka-cipta suatu “Invention Play Ground”, tempat semua system persons organisasi diberdayakan bersenda-cipta bersama secara harmonis menghasilkan ide-ide bisnis baru.
 
Inovasi Sistematis: Ketika Blue Ocean dan Core Competency Beradu
 
Di Invention Playground inilah , Core Competency perusahaan dilesatkan menyambut umpan lambung Blue Ocean Opportunities. Blue Ocean opportunities sendiri sudah selalu dalam keadaan siap saji, hasil dari Continuous Value Innovation, yang dimotori oleh sintesis dan analisis mendalam dari Design Thinking.
 
Invention Play Ground bisa hadir dalam bentuk formalnya seperti Quality Circle di level bawah atau Business Transformation Special Task Force di level atas. Bisa juga juga muncul dalam bentuk informal seperti pembicaraan santai di dining hall bahkan di toilet kantor. Bisa muncul ketika rapat evaluasi bulanan atau pada acara acara Employee Gathering Outbond.
 
MARKETIZATION - Sustainable Competitive Advantage
 
Ketika Core Competency dan Blue Ocean disandingkan dengan Blue Ocean di Invention Play ground, maka akan dihasilkan ide bisnisbisnis baru yang penuh dengan new customer value. Customer value ini bukan sekedar baru atau belum pernah ditawarkan para pesaing kita, tetapi seandainya mereka mau meniru pun mereka tidak akan sanggup atau tidak akan seefektif dan seefisien kita, karena customer value ini dihasilkan secara unik oleh core competency kita. Inilah yang disebut dengan Unique Value Proposition.
 
Unique Value Proposition ini tentunya tidak dengan serta–merta diterima oleh pelanggan, tetapi butuh proses edukasi, karena ini memang suatu yang mutakhir bagi pelanggan. Respon dan behavior pelanggan terhadap Unique Value Proposition ini ditadah di database Customer Relationship Management , untuk diumpanbalikkan ke Design Thinking, yang membuat perusahaan Anda selalu melakukan inovasi nilai (Continuous Value Innovation).
 
Pada sisi lain, pengalaman tacit para system person menghasilkan Unique Value Proposition juga akan diumpan-balikkan ke Knowledge Management menjadi suatu knowledge yang explicit, yang pada gilirannya akan semakin meningkatkan kapabilitas organisasi.
 
Alhasil , dua loop umpan balik yang mendorong terjadinya continuous value innovation dan peningkatan kapabilitas inilah yang membuat Unique Value Proposition Anda semakin unik dan susah ditandingi. Inilah yang disebut dengan Sustainable Competitive Advantage.
 
COMMERCIALIZATION - Sustainable Profit
 
Dengan perhitungan komersial yang tepat dan memitigasi resiko yang muncul, marketization yang sukses akan menuai suatu yang disebut Net Innovation Income, yaitu semua revenue generation dan cost saving yang dihasilkan bukan dari business as usual, tetapi semata-mata dari inisiatif inovasi.
 
Pasar yang sudah semakin biru dan kompetensi inti yang sudah semakin teruji akan membuat pemimpin tidak ragu-ragu menginvest balik Net Innovation Income ke dalam operation, dengan mengakuisisi lebih banyak sumber daya strategis (strategic resources), yang akan terus membuat bisnis perusahaan menggurita.
 
Tergenapilah hikmat lama tentang multiplikasi “….siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan. Tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya”. Great companies mampu memetakan, mereplikasi, dan terus mengupgrade pola systematic innovationnya, dan terus bertumbuh kemegahannya.
 
Sementara itu perusahaan mediocre, walaupun pernah mengecap keberhasilan inovasi, gagal menemu-kenali benang emas keberhasilannya dalam suatu systematic innovation map, dan akhirnya semakin lama inovasinya yang tidak berpola semakin sirna ditelan dahsyatnya kompetisi.
 
Selamat mengarungi Blue Ocean industri Anda dengan bahtera Core Competency perusahaan Anda!
 
Prasetiya Mulya Executive Learning Institute menawarkan solusi manajemen dan bisnis yang didukung oleh para konsultan berkualitas selama lebih dari 30 tahun.
 

Gerhard Sitanggang
Direktur Prasetiya Mulya Executive Learning Institute

 

 

 

(ROS)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif