Keterlekatan karyawan dalam beberapa tahun terakhir menjadi sebuah agenda penting bagi para pemimpin bisnis (Foto:Dok.Prasetiya Mulya)
Keterlekatan karyawan dalam beberapa tahun terakhir menjadi sebuah agenda penting bagi para pemimpin bisnis (Foto:Dok.Prasetiya Mulya)

Keterlibatan Karyawan dan Kepemimpinan di Dunia VUCA

Nasional Prasetiya Mulya
M Studio • 24 April 2018 10:21

EMPLOYEE engagement atau keterlekatan karyawan dalam beberapa tahun terakhir ini menjadi sebuah agenda penting bagi para pemimpin bisnis. Survei yang dilakukan Harvard Business Review Analytic Centre tahun 2013 menunjukkan bahwa tema ini masuk ke dalam tiga prioritas teratas yang menjadi perhatian para eksekutif.
 
Mereka pada umumnya percaya bahwa hal ini menjadi faktor penting untuk mendukung kinerja dan pertumbuhan bisnis. Berbagai penelitian yang ingin menelisik hubungan kausalitas antara keterlekatan karyawan dan kinerja bisnis menampilkan hasil yang beragam.
 
Sebagian besar penelitian itu menemukan bahwa keterlekatan karyawan memiliki korelasi terhadap beberapa ukuran proses antara, seperti peningkatan kualitas layanan pelanggan, produktivitas dan sejenisnya, namun tidak semua berhasil menemukan hubungan kuat dan tergeneralisasi pada ukuran kinerja bisnis seperti laba dan nilai perusahaan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Bisa jadi terdapat faktor moderasi lain yang memengaruhi keterkaitan keterlekatan karyawan, proses dan hasil akhir, namun bisa juga terjadi kesenjangan waktu antara peningkatan keterlekatan karyawan dengan peningkatan proses dan dengan peningkatan hasil. Jika demikian apakah keterlekatan karyawan kehilangan urgensi dan kepentingannya untuk diperjuangkan?
 
Perlu kita pahami terlebih dahulu bahwa keterlekatan karyawan bukan kepuasan karyawan, di mana organisasi berhasil memberikan apa yang diharapkan oleh karyawan atau bahkan melebihinya.
 
Keterlekatan karyawan bukan pula sekadar bicara tentang loyalitas dan turn over karyawan yang rendah. Keterlekatan karyawan bicara tentang komitmen, tentang bagaimana seorang memberikan perhatian, tenaga dan fokusnya untuk pekerjaan dan organisasi sehingga mereka melakukan sesuatu yang melebihi tuntutan yang sebenarnya diberikan kepada mereka.
 
Walaupun dalam praktiknya pengelolaan keterlekatan karyawan masih tetap sering jatuh pada aktivitas transaksional, keterlekatan karyawan sebenarnya lebih agung daripada sekadar transaksi beri dan ambil (give and take).
 

Relasi dan Kepercayaan Timbal Balik
 
Keterlekatan pada esensinya adalah sebuah relasi dan kepercayaan timbal balik antara karyawan dan organisasinya. Di dalamnya selalu ada faktor keterlekatan antara pemimpin dan yang dipimpinnya.
 
Keterlekatan tidak hanya berada dalam ranah kognisi namun juga afeksi, bukan hanya logika namun juga hati. Metafor keterlekatan karyawan di titik ultimate-nya adalah bagai sebuah 'pernikahan' dua pihak yang saling memberi, bukan saling menuntut, disatukan dengan sebuah landasan 'cinta' yang jauh lebih agung dan kuat daripada sebuah kontrak kerja.
 
Memahami hal tersebut, maka keterlekatan karyawan justru menjadi sesuatu yang makin relevan untuk diperjuangkan. Mengapa? Dari hasil penelaahan BCG didapatkan bahwa turbulensi dalam dunia bisnis terjadi makin sering, makin dalam intensitasnya, dan makin lama dalam 10 tahun terakhir ini. Tak pelak lagi, dunia bisnis kita adalah dunia yang makin VUCA - Volatile, Uncertain, Complex, and Ambiguous.
 
Dalam dunia seperti ini, maka harus diakui akan makin sulit bagi pemimpin untuk menyusun sebuah peta perjalanan perusahaan yang tepat dan tergambar jelas di awal. Ibarat musik, akan makin sulit bagi pemimpin untuk menyusun sebuah partitur musik yang sempurna, siap dan matang, sehingga pemain hanya tinggal melatih dan memainkan nada-nada tersebut dengan tepat sesuai partitur yang dibuatnya.
 
Saat ini, tampaknya para pemimpin dan jajaran organisasi harus mahir dan nyaman untuk bermain jazz yang penuh improvisasi. Bahkan mungkin para pemimpin harus siap mengarang atau menggubah lagu baru dengan cepat ketika berhadapan dengan masalah atau peluang.
 

Agenda Penting di Dunia Bisnis yang Makin "VUCA"
 
Dalam situasi tersebut, maka pola relasi dan pola kepemimpinan yang transaksional akan mengalami masalah. Dalam situasi VUCA, tidak ada pijakan yang kuat untuk bertransaksi dan tidak ada kejelasan yang benar-benar terang. Di sinilah keterlekatan karyawan memainkan peranannya.
 
Lonceng kematian sebuah organisasi dalam dunia VUCA bukan berbunyi ketika organisasi salah menyusun atau lemah dalam mengeksekusi strategi, namun ketika makin banyak orang dalam organisasi itu yang tidak menaruh hati, pikiran, fokus dan energinya kepada organisasi dan pekerjaannya.
 
Keterlekatan karyawan akan membuat mereka terus bergerak, energi mereka akan membuat terus berjuang mencari gagasan dan cara untuk mempertahankan kelangsungan hidup organisasinya. Inilah energi penggerak motor organisasi yang sesungguhnya. Energi penggerak yang hanya mengandalkan kekuatan pemimpinnya sementara karyawan hanya berperan sebagai pelaksana - apalagi jika pelaksanaan itu didorong oleh kepentingan transaksional semata - akan dengan cepat habis terkuras oleh dunia VUCA.
 
Inilah salah satu alasan mengapa keterlekatan karyawan harus menjadi agenda penting para pemimpin bisnis yang memikirkan keberlangsungan organisasinya. Dan dalam upaya untuk membangun keterlekatan karyawan tersebut, pemahaman akan lingkup dan kerangka kerja dari keterlekatan karyawan menjadi titik awal untuk menyusun langkah-langkah selanjutnya.
 
Walaupun terdapat beberapa hal yang bersifat umum dalam membangun keterlekatan karyawan, tetap perlu disadari bahwa membangun keterlekatan karyawan adalah sebuah proses dua arah yang melibatkan individu manusia. Pemimpin berinisitatif dan karyawan merespons. Keunikan pribadi jelas berperan penting di sini. Pemimpin beraksi dengan keunikan dirinya dan karyawan merespons juga dengan keunikan dirinya.
 
Aksi yang sama dapat saja menimbulkan reaksi yang berbeda. Memahami, menerima dan menghormati keunikan ini akan sangat menolong untuk membangun keterlekatan karyawan.
 
Tulisan kedua menginspirasi kita untuk memperhatikan tipe-tipe kepribadian dalam membangun keterlekatan karyawan, sekaligus mengajak kita untuk menerima perbedaan dan keberagaman tersebut sebagai suatu kekuatan yang dapat diungkit, dan bukan sebuah beban yang harus disingkirkan.
 
Sementara itu, tulisan ketiga mengajak kita untuk melihat keberagaman tersebut dari perbedaan karakteristik generasi dan memikirkan upaya-upaya untuk membangun keterlekatan karyawan pada setiap generasi.
 
Melengkapi edisi kali ini, ditampilkan pula pendapat singkat dari beberapa tokoh pemimpin organisasi bisnis tentang keterlekatan karyawan.
 
Selamat membangun keterlekatan karyawan. Selamat membangun pondasi organisasi untuk menatap tantangan dunia bisnis yang makin VUCA.
 
Prasetiya Mulya Executive Learning Institute menawarkan solusi manajemen dan bisnis yang didukung oleh para konsultan berkualitas selama lebih dari 30 tahun.
 

Deddi Tedjakumara
Direktur Eksekutif Prasetiya Mulya Executive Learning Institute

 

(ROS)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif