Konsep 4 Dimensi Myers-Briggs mencoba menjelaskan tipe-tipe kepribadian manusia (Foto:Dok)
Konsep 4 Dimensi Myers-Briggs mencoba menjelaskan tipe-tipe kepribadian manusia (Foto:Dok)

Perbedaan yang Berkaitan: Tantangan Menuju Keterlibatan yang Ideal

Nasional Prasetiya Mulya
M Studio • 25 April 2018 08:13
JARI-jemari dalam tangan adalah sebuah ajaran kebersamaan. Meski bentuk dan ukurannya berbeda-beda, namun kelima jari itu mampu berfungsi secara sinergis untuk memainkan sebuah lagu indah pada bilah-bilah piano.
 
Perumpamaan itu membawa saya pada sebuah pencerahan tentang bagaimana mengelola sumber daya manusia di dalam sebuah organisasi. Suka atau tidak suka, organisasi harus menerima kenyataan bahwa setiap orang yang diterima bekerja di organisasinya memiliki ciri-ciri yang berbeda. Mulai dari perbedaan ciri-ciri yang terbawa sejak lahir (seperti jenis kelamin, tinggi badan, warna kulit), sampai dengan ciri-ciri yang non-fisik (seperti sifat, intelegensi, kepribadian). Sementara di sisi lain, organisasi harus mampu menyelaraskan derap langkah para anggota-anggotanya untuk bisa bergerak bersama secara harmonis guna mencapai visi dan misi organisasi. Harus diakui banyak tantangan di sini.
 
Tantangan yang dihadapi seorang pimpinan saat ini tidak hanya terbatas pada persaingan bisnis dan penyelarasan organisasi saja tapi juga talent war. Sebentar lagi, perang perebutan sumber daya manusia di Indonesia akan semakin menantang dan seru dengan diberlakukannya MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN). Bagaimana para pimpinan organisasi mengambil langkah untuk memenangkan talent war menjadi isyu yang sangat signifikan saat ini. Loyal terhadap perusahaan tidak lagi cukup. Yang diperlukan saat ini adalah karyawan yang engaged (terlekat) kuat kepada organisasi.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Perbedaan, Tantangan Semua
 
Jangankan mengelola puluhan, ratusan bahkan ribuan karyawan dalam sebuah organisasi, dalam unit yang lebih kecil semisal pada pasangan suamiistri, tantangan mengelola perbedaan sering menjadi persoalan yang perlu dicermati dengan baik.
 
Mari kita coba ingat bagaimana kisah cinta Anda dulu berlangsung. Diawali dengan tidak saling mengenal, kemudian muncul rasa tertarik pada orang tersebut, lalu berkembang lebih mendalam. Ada aspek-aspek kepribadian dari orang tersebut yang menarik hati Anda. Bisa jadi Anda tertarik karena adanya kemiripan, atau justru karena adanya perbedaan. Untuk yang tertarik karena perbedaan, umumnya merasa bahwa orang lain tersebut memiliki unsur-unsur yang tidak ada pada dirinya, artinya yang bersangkutan sudah mengenali dirinya sebelumnya, dan merasa orang lain itu bisa mengisi kekuranganya. Namun tidak dapat dipungkiri sebagian besar pasangan saling tertarik karena merasakan adanya kesamaan di antara mereka.
 
Koneksi awal ini yang membuat penjajakan ke arah yang lebih dalam menjadi dimungkinkan. Dan jika relasi ini diteruskan, maka makin terungkaplah berbagai unsur lain yang mungkin mengejutkan, namun bisa dimaklumi. Toleransi, penerimaan dan penghargaan atas perbedaan memegang peranan penting di sini.
 
Proses yang hampir mirip bisa terjadi di dalam organisasi. Untuk bisa membuat karyawan mampu bersinergi dengan karyawan lain, biasanya diawali dengan adanya ‘ketertarikan’ yang membuat terciptanya koneksi. Misalnya ada yang mengatakan : “saya sejak awal merasa cocok melihat gaya si X berpakaian. Pasti orangnya kerjanya rapi dan teratur”. Dengan demikian, penciptaan koneksi di awal memang memegang peranan penting untuk membuat orang lain bisa menghargai perbedaan.
 
Empat Dimensi Myers-Briggs
 
Dalam konteks memahami dan menerima perbedaan yang ada antar satu orang dengan orang yang lain, Myers-Briggs dengan sangat jenius mengajukan sebuah konsep yang saat ini sudah dikenal luas di berbagai negara yaitu MBTI (Myers–Briggs Type Indicator). Konsep ini mencoba menjelaskan tipe-tipe kepribadian manusia, berdasarkan 4 dimensi yaitu:
 
Sumber Energi:
Extrovert (E)/Introvert (I)

 
Orang bertipe ekstrovert mendapatkan energinya dari orang lain. Perilaku orang bertipe ini dapat terungkap dalam beberapa tindakan berikut, misalnya; di saat tubuh terasa lelah, bukan memberi waktu pada istirahat, namun justru mencari orang lain untuk diajak bercakap-cakap. Dalam dunia kerja, seorang ekstrovert senang berinteraksi, bekerja dalam kelompok, berbicara banyak dan tampak energik.
 
Sedangkan tipe seorang introvert sebaliknya. Ia mendapatkan energinya dari dirinya sendiri. Di saat lelah, misalnya, seorang bertipe ini cenderung memilih sendiri atau diam. Orang dengan kepribadian introvert memiliki sikap yang relatif lebih tenang dibandingan dengan seorang ekstrovert, banyak merenung dan mudah memikirkan segala sesuatu.
 
Pengolahan informasi:
Sensing (S) / Intuition (N)

 
Orang berkepribadian sensing biasanya mencari informasi menggunakan panca indra; melihat, mencium, mengecap, memegang, dan mendengar. Mereka menyukai fakta, detail, hal-hal praktis, dan data. Seorang yang sensing biasanya lebih percaya pada pengalaman pribadi dan tidak suka berspekulasi.
 
Sedangkan seorang bertipe intuitif mencari informasi dengan mengandalkan intuisinya. Mereka biasa melihat makna di balik sebuah peristiwa, memikirkan berbagai kemungkinan ke depan, mengurai sebab-akibat, melihat big picture,dan menyukai hal-hal baru.
 
Pengambilan keputusan:
Thinking (T)/Feeling (F)

 
Seorang berkepribadian thinking dalam mengambil keputusan menggunakan logika, objektif, dan umumnya tegas. Kalau sudah ada keputusan akan langsung disampaikan.
 
Sedang pribadi yang bertipe feeling lebih suka mempertimbangkan sesuatu bukan berdasarkan logika, tapi nilai-nilai. Umumnya bersifat lembut hati, memberi pertimbangan dengan penuh perasaan. Dalam menyampaikan keputusan, seorang feeling juga memperhitungkan kondisi orang lain.
 
Gaya hidup:
Judging (J)/Perceiving (P)

 
Judger adalah orang yang teratur. Suka menyiapkan segala sesuatu jauh-jauh hari. Prinsip mereka adalah bekerja dahulu, bersantai kemudian. Memegang prinsip bahwa segala sesuatu harus diselesaikan secara tuntas, berorientasi pada hasil, dan menyukai adanya keputusan.
 
Sebaliknya, seorang perceivers cenderung memiliki prinsip hidup yang fleksibel dan mengalir. Mereka suka memulai proyek baru, dan berorientasi pada proses.
 
Enam Belas Tipe Kepribadian
 
Berdasarkan 4 dimensi yang telah kita bahas, dapat diturunkan 16 tipe kepribadian yang lebih spesifik, yang masing-masing berbeda satu sama lain. Tipe ini bisa diketahui dari sebuah riset dengan isian kuesioner yang terdiri dari pasangan kalimat. Dalam kuesioner tersebut kita diminta untuk memilih kalimat yang menurut kita sesuai dengan diri kita.
 
Dari beberapa riset yang telah penulis lakukan, dan terutama berdasarkan data dari responden, mereka umumnya mengatakan bahwa MBTI memang dapat menggambarkan diri mereka dengan akurasi lebih dari 80 persen. Masing-masing tipe memiliki kekuatan dan kelemahannya.
 
Dari 4 dimensi kepribadian utama versi MyersBriggs, kita dapat menemukan 16 kombinasi ciri kepribadian yang lebih spesifik dan mendekati ragam gambaran kepribadian seseorang.
 
Seperti kisah proses penemuan orang yang kita cintai tadi, seseorang pada awalnya akan tertarik pada dimensi yang mirip dengan dirinya, atau pada yang justru sama sekali berbeda. Ketertarikan ini akan membuat mereka mencoba membangun koneksi dan pada akhirnya mendapatkan informasi tentang orang lain tersebut. Demikian, konsep MBTI tahap demi tahap membantu seorang individu memahami dirinya sendiri dan caranya berinteraksi dengan orang lain secara lebih baik.
 
Oleh karena itu, pemahaman yang baik akan ragam tipe kepribadian yang tergambar dalam MBTI menjadi begitu penting untuk dipahami oleh siapapun yang berkepentingan dengan pengelolaan karyawan yang beragam, demi mewujudkan sebuah keterlekatan karyawan yang ideal.
 
Menyelami Individu, Tantangan Pemimpin
 
Melihat begitu besarnya tantangan dalam pengelolaan sumber daya manusia di sebuah perusahaan, keragaman kepribadian yang tercermin dalam pemetaan MBTI menjadi begitu penting dipahami seorang pemimpin. Bila demikian, apa yang dapat dilakukan oleh seorang pemimpin?
 
Untuk dapat menjawab pertanyaan tersebut, sebuah riset terbatas yang penulis lakukan baru-baru ini pada 418 responden yang berpartisipasi kiranya dapat membantu. Dari riset tersebut terpotret tipe-tipe kepribadian dari 418 responden, dengan demografi seperti pada tabel berikut:
 
Perbedaan yang Berkaitan: Tantangan Menuju Keterlibatan yang Ideal
 
Perbedaan yang Berkaitan: Tantangan Menuju Keterlibatan yang Ideal
 
Dari persentase, tampak bahwa kombinasi antara Extrovert-Introvert, Sensing-Intuition, Thinking-Feeling, Judging-Perceiving cukup menyebar.
 
Untuk dapat meng-engaged karyawan berdasarkan MBTI, seorang pemimpin dapat berpedoman pada Function Pairs. Function pairs adalah dua huruf tengah dari tipe kepribadian berdasarkan MBTI. Ada 4 kombinasi function pairs: NT, NF, ST dan SF.
 
Untuk orang N, hal terpenting adalah big picture, gambaran besar. Visi, misi dan strategi yang jelas, dan ke mana organisasi ini akan dibawa sangat penting bagi orang N. Budaya organisasi seperti apa yang ingin dibentuk juga menjadi kepedulian seorang N.
 
Sedangkan untuk orang S, hal terpenting adalah detil pelaksanaan, hasil, eksekusi dan bukti nyata. Bagi orang T, segala keputusan haruslah logik, masuk akal dan dengan reward yang jelas. Sedangkan untuk orang F, setiap keputusan harus mempertimbangkan manusia yang terlibat di dalamnya. Di sini tarikan untuk menyeimbangkan task dan people menjadi tantangan tersendiri bagi seorang pemimpin.
 
Secara garis besar, untuk meng-engaged karyawan di level organisasi, seorang pemimpin harus bisa menjawab dan menyeimbangkan antara great vision and great execution, serta antara task dan people orientation.
 
Sampai tahap ini pemimpin baru menginjak level engagement pada organisasi. Untuk menyelam lebih dalam, maka pemimpin harus masuk ke level individual. Engagement adalah hal individual, keterlekatan antar individu. Untuk itu seorang pemimpin harus terlebih dahulu memahami dirinya. Dari pemahaman terhadap diri sendiri ini, pemimpin akan memahami gaya kepemimpinan yang menjadi kecenderungannya. Setelah itu untuk dapat meng-engaged karyawan, pimpinan harus memahami tipe kepribadian dan kecenderungan karyawan-karyawannya.
 
Terlepas dari seluruh cara yang kita paparkan, pada dasarnya tak ada gading yang tak retak, tak seorang pun pemimpin sempurna selalu. Walau sudah mencoba untuk menyeimbangkan antara tarikan great vision dan great execution, task dan people orientation, serta organisasi dan pendekatan individual, setiap pemimpin memiliki kecenderungan tertentu dalam gaya kepemimpinannya.
 
Untuk itu, seorang pemimpin dengan karakter tertentu, sebaiknya justru bekerja sama dengan seorang karyawan yang berkarakter berbeda dari pemimpinnya, agar kekuatan karyawan tersebut mengisi kekurangan si pemimpin dan sebaliknya. Bekerja dengan tipe kepribadian yang berbeda, biasanya rentan menimbulkan konflik. Namun, konflik akan menghasilkan kinerja yang luar biasa positif bila dapat dikelola dengan baik. Tujuan konflik adalah kolaborasi. Tipe kepribadian yang beragam akan sangat indah bila bisa dikolaborasikan.
 
Menjadi Lebih Produktif
 
Tujuan akhir dari pengenalan kepribadian dengan MBTI bukanlah mengkotak-kotakkan manusia. Konsep ini justru ingin membantu proses kerja sama atau interaksi antar pribadi menjadi lebih produktif.
 
Karyawan yang merasa puas dengan tempat kerjanya, serta mendapatkan lingkungan kerja yang kondusif dan suportif (termasuk dari bawahan, rekan kerja serta atasannya) akan merasa sangat ‘lekat’ dengan organisasi tempatnya bekerja.
 
Membangun lingkungan rekan kerja yang positif dapat dilakukan dengan memanfaatkan konsep MBTI, agar setiap orang memahami dirinya sendiri terlebih dahulu, kemudian memahami orang lain, menemukan perbedaan antara dirinya dengan orang lain, menerima perbedaan tersebut lalu mensinergikan perbedaan tersebut untuk mendapatkan hasil yang lebih baik.
 
Jadi, melakukan pemetaan tipe-tipe kepribadian karyawan, agar setiap orang memiliki self-insight tentang dirinya adalah penting. Hal ini kemudian bisa disempurnakan dengan kegiatan pemberian umpan balik (feedback session) dari rekan kerja, bawahan atau atasan. Selain itu, karyawan juga perlu difasilitasi dengan kegiatan yang memungkinkan dirinya melakukan self-disclosure (pembukaan diri) kepada orang-orang yang bekerja sama dengan dirinya. Misalnya, cara kerja seperti apa yang disukai, cara berbicara seperti apa yang diharapkan, dan sebagainya. Dengan demikian, orang lain akan punya pemahaman tentang karyawan tersebut, sehingga mampu membina relasi dengan lebih optimal.
 
Perbedaan untuk dirayakan, bukan diperdebatkan. Justru dengan perbedaan kolaborasi dan sinergi akan terjadi, seperti jari-jari berbeda yang memainkan sebuah lagu penuh makna.
 
Prasetiya Mulya Executive Learning Institute menawarkan solusi manajemen dan bisnis yang didukung oleh para konsultan berkualitas selama lebih dari 30 tahun.
 
M. A. Endang Tatiana
Direktur Prasetiya Mulya Executive Learning Institute

 

 

(ROS)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif